Ketika Istiqomah Dicap Sok Alim dan Radikal: Sebuah Refleksi



Fenomena mencap seorang Muslim dengan label “sok alim, sok Islami, bahkan radikal” sering kita jumpai hari ini. Anehnya, label itu justru muncul dari sesama Muslim yang mengaku beragama. Padahal, sesungguhnya label tersebut hanyalah cerminan dari cara pikir mereka yang sudah larut dalam arus sekuler-liberal. Mereka tidak nyaman melihat saudaranya istiqomah, karena keteguhan itu ibarat cermin yang memperlihatkan kelalaian mereka sendiri.


Allah ﷻ mengingatkan:


> وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا إِلَىٰ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَإِلَى الرَّسُولِ رَأَيْتَ الْمُنَافِقِينَ يَصُدُّونَ عَنكَ صُدُودًا

“Dan apabila dikatakan kepada mereka: ‘Marilah (patuh) kepada apa yang diturunkan Allah dan kepada Rasul’, niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mengikuti) kamu.”

(QS. An-Nisa: 61)




Begitulah tabiat orang yang jiwanya enggan tunduk. Mereka lebih memilih jalan kompromi dengan hawa nafsu, lalu mencibir orang yang taat. Padahal Rasulullah ﷺ bersabda:


> مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ، وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ

“Barangsiapa di antara kalian melihat kemungkaran maka ubahlah dengan tangannya; jika tidak mampu maka dengan lisannya; jika tidak mampu maka dengan hatinya, dan itu adalah selemah-lemahnya iman.”

(HR. Muslim no. 49)




Menyampaikan amar ma’ruf nahi munkar memang tidak selalu disambut dengan pujian. Bahkan Rasulullah ﷺ telah memberi kabar gembira:


> بَدَأَ الْإِسْلَامُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ

“Islam datang dalam keadaan asing dan akan kembali asing sebagaimana permulaannya. Maka beruntunglah orang-orang yang asing itu.”

(HR. Muslim no. 145)




Inilah realitasnya: orang yang istiqomah di jalan Islam kaffah sering dianggap asing, aneh, bahkan radikal. Namun justru merekalah yang mendapat kabar gembira dari Rasulullah ﷺ.


Hikmah & Harapan


Jangan gentar dengan sindiran atau label yang diberikan manusia. Karena hak tetaplah hak, dan batil tetaplah batil. Tugas kita hanyalah menyeru kebaikan dan mencegah kemungkaran sesuai kemampuan. Semoga Allah meneguhkan hati kita untuk tetap istiqomah hingga akhir hayat.


Allah ﷻ berfirman sebagai motivasi penutup:


> يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ

“Wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.”

(QS. Muhammad: 7)




Wallahu a’lam bis showab...

Posting Komentar untuk "Ketika Istiqomah Dicap Sok Alim dan Radikal: Sebuah Refleksi"