Saat ini, siapa pun yang berusaha kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah dengan pemahaman yang murni sering dilabeli dengan berbagai cap menakutkan: radikal, ekstrem, teroris, wahabi, dan seterusnya. Padahal mereka hanyalah Muslim yang ingin taat kepada Allah sepenuhnya. Inilah realita pahit yang sedang kita hadapi di era modern—di mana kebenaran dipelintir, kebatilan dimuliakan, dan umat dipaksa menerima standar selain syariat Allah.
Islam Tidak Butuh Label
Islam itu agama yang sempurna, telah Allah turunkan sebagai pedoman hidup manusia. Allah ﷻ berfirman:
> إِنِ الْحُكْمُ إِلَّا لِلَّهِ
"Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah." (QS. Yusuf: 40)
Maknanya jelas: hanya Allah yang berhak membuat aturan. Kalau Allah memerintahkan sesuatu, maka kewajiban kita hanyalah sami‘na wa atha‘na — mendengar dan taat. Bukan menawar, bukan mengubah, apalagi menolak.
Namun, orang-orang yang ingin menegakkan syariat justru dituduh sebagai ancaman. Padahal mereka tidak berbuat apa-apa selain mengajak kembali kepada aturan Allah. Ironis, bukan?
Ujian Itu Sunnatullah
Sejak dulu, para pembawa kebenaran selalu diuji dengan tuduhan keji:
- Nabi Nuh disebut orang gila,
- Nabi Musa dituduh tukang sihir,
Rasulullah ﷺ dijuluki penyihir, pendusta, bahkan pemecah belah masyarakat Quraisy.
Maka, kalau hari ini kita disebut radikal karena menyeru syariat Islam, itu bukan hal baru. Justru itu tanda bahwa kita berjalan di jalan yang sama dengan para nabi dan para pejuang Islam terdahulu.
Rasulullah ﷺ bersabda:
> بَدَأَ الْإِسْلَامُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ
"Islam datang dalam keadaan asing, dan akan kembali asing sebagaimana awalnya. Maka beruntunglah orang-orang yang asing (ghuraba)." (HR. Muslim)
Siapakah ghuraba itu? Mereka adalah orang-orang yang tetap teguh di atas kebenaran, meskipun jumlah mereka sedikit dan dianggap aneh oleh mayoritas.
Sampaikan Kebenaran Walau Pahit
Rasulullah ﷺ bersabda:
> أَفْضَلُ الْجِهَادِ كَلِمَةُ حَقٍّ عِنْدَ سُلْطَانٍ جَائِرٍ
"Jihad yang paling utama adalah menyampaikan kalimat yang benar di hadapan penguasa yang zalim." (HR. Abu Dawud, Tirmidzi)
Artinya, menyampaikan yang hak walaupun pahit adalah kewajiban. Diam berarti menyetujui kebatilan, padahal kita tahu akibatnya.
Hikmah & Harapan
Dari semua ini kita belajar:
1. Kebenaran itu jelas — ukurannya bukan mayoritas, bukan label, tapi dalil dari Al-Qur’an dan Sunnah.
2. Label dunia hanyalah ujian — jangan takut dicap radikal, ekstrem, atau wahabi. Itu semua hanyalah stigma untuk melemahkan umat.
3. Berpegang pada sunnah memang terasa asing — tapi justru itulah tanda keberuntungan, sebagaimana sabda Nabi tentang ghuraba.
Semoga kita semua termasuk golongan ghuraba yang tetap istiqamah memegang tali Islam, walaupun dicaci, dituduh, dan dikucilkan. Karena ridha Allah jauh lebih berharga daripada pengakuan manusia.
> 🌿 Jangan takut berbeda. Jangan takut dicap macam-macam. Karena pada akhirnya, yang kita kejar bukan pujian manusia, tapi ridha Allah ﷻ.
Wallahu a'lam bisshowab


Posting Komentar untuk "Jangan takut dibilang "R4D1K4L, EKST3M, T3RORIS, W4H4B1, DLL" Sampaikan yang hak & batil walaupun itu pahit❕"