BUKTI CINTA PADA NABI: ITTIBA’ MENGIKUTI SETIAP APA YANG NABI CONTOHKAN, BUKAN MEMBUAT AJARAN BARU‼️

 

Kamis, 12 Rabi'ul Awal 1447 H / 4 September 2025 M
🗓️Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT)

Alhamdulillah, hari ini telah masuk 12 Rabi’ul Awal 1447 H yang sering disebut sebagai tanggal kelahiran Nabi Muhammad ﷺ. Beliau lahir di Mekkah pada Tahun Gajah, yang jika dikonversi ke Masehi jatuh pada 20 April 571 M. Dari beliau inilah Islam menjadi cahaya bagi alam semesta, mengangkat bangsa Arab yang sebelumnya dalam kejahiliyahan — gemar berperang antar suku, fanatisme, menyembah berhala sehingga kemudian — menjadi masyarakat yang berperadaban.


Bahkan bukan hanya bangsa Arab, Islam menyebar hingga menguasai 2/3 dunia. Pada masa Khilafah Abbasiyah hingga Utsmaniyah, kekuasaan Islam meluas ke Eropa, Afrika hingga Nusantara. Namun sayangnya, Khilafah runtuh pada tahun 1924 M karena konspirasi Mustafa Kemal Attaturk bersama Inggris. Sejak saat itu, umat Islam terpecah ke dalam negara-negara nasionalis.



---


🌿 Makna Ittiba’ yang Sejati


Hari ini banyak orang memperingati Maulid Nabi atau biasa disebut dengan istilah "Muludan". Hal itu boleh saja dilakukan, hukumnya mubah (sebagaimana dijelaskan dalam Tarjih Muhammadiyah). Tetapi jangan hanya sebatas tradisi, hiburan, begadang hingga Subuh malah labas ketiduran. Cinta Nabi bukan hanya dengan perayaan, melainkan diwujudkan dengan ittiba’ — mengikuti sunnah-sunnah beliau, syariat beliau, dan perjuangan beliau!


Rasulullah ﷺ bersabda:


> مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

“Barang siapa mengada-adakan sesuatu dalam urusan (agama) kami ini yang tidak ada perintahnya, maka ia tertolak.” (HR. Bukhari & Muslim)




> مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

“Barang siapa mengamalkan suatu amalan yang tidak ada perintahnya dari kami, maka amalan itu tertolak.” (HR. Muslim)




Rasulullah ﷺ juga bersabda:


> كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ، وَكُلُّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ

“Setiap bid’ah itu sesat, dan setiap kesesatan tempatnya di neraka.” (HR. an-Nasa’i, Abu Dawud, Tirmidzi)





---


🚫 Bahaya Ashobiyah


Banyak orang hari ini mudah melabeli: “Yang memperingati Maulid itu paling Ahlusunnah, yang tidak berarti bukan Ahlusunnah.” Ini berbahaya! Karena masuk dalam kategori fanatisme kelompok/ormas. Rasulullah ﷺ sudah mengingatkan:


> لَيْسَ مِنَّا مَنْ دَعَا إِلَى عَصَبِيَّةٍ

“Bukan termasuk golongan kami orang yang menyeru kepada fanatisme (ashobiyah).” (HR. Abu Dawud)




Islam tidak mengenal fanatisme kelompok. Yang terpenting adalah ittiba’ dan mengamalkan sesuai dalil. Kalo ada dalil yo laksanakan, kalo gak ada dalil yo jangan coba-coba membuat ajaran baru yang Rasul tak pernah contohkan.



---


⚖️ Bid’ah Paling Besar: Meninggalkan Syariat Allah


Masalah besar umat sekarang adalah tanpa sadar melakukan bid’ah paling besar: meninggalkan syariat Allah dan memilih hukum sekuler-kapitalis.


📖 Allah ﷻ berfirman:


> إِنِ الْحُكْمُ إِلَّا لِلَّهِ أَمَرَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

“Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah. Dia memerintahkan agar kalian tidak menyembah selain kepada-Nya. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Yusuf: 40)

---


📝 Penegasan:

Ayat ini jelas menegaskan bahwa satu-satunya pihak yang berhak membuat hukum hanyalah Allah ﷻ. Kalau Allah memerintahkan A, maka kewajiban kita adalah menjalankan A. Kalau Allah melarang B, maka kita wajib menjauhi B.


Inilah sikap seorang mukmin sejati:


سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا

“Kami dengar dan kami taat.” (QS. An-Nur: 51)


Bukan malah merubah-ubah hukum Allah demi hawa nafsu atau kepentingan manusia.


Allah ﷻ berfirman:


> وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

“Barang siapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itulah orang-orang zalim.” (QS. Al-Maidah: 45)




> أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ ۚ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ

“Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki? Dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada hukum Allah bagi orang-orang yang yakin?” (QS. Al-Maidah: 50)




Namun ironisnya, di zaman sekarang: zina dilegalkan, riba dibolehkan, pajak diagungkan. Padahal Rasul ﷺ bersabda:


> لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ صَاحِبُ مَكْسٍ

“Tidak akan masuk surga pemungut pajak.” (HR. Ahmad)




Padahal negeri ini kaya sumber daya alam: emas, minyak, gas. Mengapa masih bergantung pada pajak yang mencekik rakyat? Ini jelas warisan sistem kapitalis-sekuler, bukan sunnah Nabi, bukan jejak sahabat.



---


🌟 Hikmah & Harapan


Hari istimewa ini harus jadi momentum bagi kita semua: jangan hanya puas dengan peringatan kelahiran Nabi, tapi mari sungguh-sungguh ittiba’ kepada Nabi. Kalau toh ingin mengadakan peringatan Maulid Nabi maka seharunya :


👉 Belajar dan ngaji bersama, memperdalam tsaqofah Islam.

👉 Tinggalkan ide-ide kufur Barat: sekulerisme, liberalisme, nasionalisme.

👉 Yakinlah bahwa perubahan hakiki hanya bisa dicapai dengan dakwah dan penerapan syariat Islam secara kaffah. Sesuai dalil di Qur'an surat Al-Baqarah ayat 208 "Udkhulu fissilmi kaffah.."


Allah ﷻ berfirman:


> يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ

“Wahai orang-orang yang beriman, jika kalian menolong (agama) Allah, niscaya Allah akan menolong kalian dan meneguhkan kedudukan kalian.” (QS. Muhammad: 7)





---


🔚 Penutup


Sudah saatnya umat Islam ini sadar!

Cinta Nabi = ittiba’ Nabi. Jangan menambah-nambahi, jangan mengurangi. Bukan hanya dalam ibadah pribadi, tapi juga dalam mengatur negara harus dengan hukum Allah.


Wallahu a’lam bish-shawab

Takbir!!! ALLAHU AKBAR!!! 🚩

Posting Komentar untuk "BUKTI CINTA PADA NABI: ITTIBA’ MENGIKUTI SETIAP APA YANG NABI CONTOHKAN, BUKAN MEMBUAT AJARAN BARU‼️"