๐ Pengalaman Pribadi: Dari Sekuler Menuju Islam Kaffah
Alhamdulillah, kulo (saya) kepengin berbagi pengalaman pribadi. Sejak tahun 2022 saya sering dolan (main) ke Yogyakarta, lan hampir setiap mampir, saya sowan sholat utawa kajian di Masjid Jogokariyan. Masjid yang unik, beda dengan masjid pada umumnya. Apalagi selepas Subuh, jamaahnya ramai banget! Serasa koyok solat ied hehe.
Dari situlah saya mulai tercerahkan: ternyata Islam itu kudu kaffah, ojo setengah-setengah. Ndak mung soal ibadah pribadi, tapi kudu ngatur kabeh aspek: ekonomi, sosial, budaya, nganti politik.
Sejak saat itu, saya merasa inilah momen hijrah sejati saya. Dari pemikiran sekuler menuju pemikiran Islam. Akal saya puas, hati saya mantap.
---
๐ Kisah di Kampus
Saya kuliah di Universitas Islam Darussalam (UID) Ciamis. Meski kampus Islam, jangan salah, berbagai pemikiran sekuler & liberal tetap banyak. Ya wajar, karena ada pengaruh filsafat barat.
Saya masuk kuliah tahun 2022 (meski lulus SMA 2020). Awalnya saya tipe pendiam, ora kritis, ora banyak komentar. Tapi sejak rajin ke Jogja tahun 2023, ikut kajian diajak teman salahseorang aktivis Muhammadiyah, terutama di Jogokariyan, ada perubahan besar: saya jadi kritis, sering berdiskusi, bahkan debat soal pemikiran di kampus. Sampai pada tahun 2024 saya menemukan sebuah harokah dakwah yang biasanya sering menyebarkan selembar kertas bertuliskan buletin kaffah tiap hari Jum'at dan harokah disini lebih tajam pemikirannya dibanding beberapa harokah lainnya.
Sejak saat itulah teman-teman banyak yang nyebut saya “wahabi, radikal, ekstrem” dll. Padahal saya hanya ingin Islam dipahami secara kaffah, bukan potongan-potongan. Tapi yo wis, saya tetap hormati pendapat mereka. Mereka tetap muslim dan memang seperti sudah sering saya sampaikan bahwa "sesama Muslim adalah saudara", ya meski pemahaman mereka sekuler.
---
⚖️ Kenapa Umat Islam Harus Melek Politik?
Politik itu bagian dari Islam. Masjid Jogokariyan ngajari hal itu dengan nyata. Kata pengurusnya, “Kalau masjid tidak membahas politik, negeri ini bisa rusak.”
Lha wong Rasulullah ๏ทบ wae bukan hanya nabi, tapi juga kepala negara. Beliau bangun Daulah Islam di Madinah. Dari situlah Islam tegak, syariat ditegakkan, keadilan ditebar.
Allah ๏ทป menegaskan:
> ุฅِِู ุงْูุญُْูู ُ ุฅَِّูุง َِِّููู
“Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah.” (QS. Yusuf: 40)
๐ Artinya, hukum dan aturan dalam hidup ini ya milik Allah. Kalau Allah memerintahkan A, ya jalankan A. Sami’na wa atho’na — kami dengar dan kami taat. Bukan malah merubah-ubah sesuai hawa nafsu seperti yg dilakukan DPR, atau sistem demokrasi sekulerisme modern seperti saat ini!.
Allah juga berfirman:
> َูู َْู َูู ْ َูุญُْูู ْ ุจِู َุง ุฃَْูุฒََู ุงَُّููู َูุฃَُٰููุฆَِู ُูู ُ ุงูุธَّุงِูู َُูู
“Barang siapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itulah orang-orang zalim.” (QS. Al-Maidah: 45)
---
๐จ Bahaya Buta Politik
Saiki akeh umat sing nganggep: “Ngapain masjid bahas politik? Bahas fiqih aja cukup.”
Padahal inilah jebakan sekulerisme. Masjid hanya dijadikan tempat ritual, tanpa boleh bicara urusan umat. Padahal Rasulullah ๏ทบ jelas-jelas menggunakan masjid sebagai pusat peradaban, pusat keputusan, pusat dakwah, dan pusat politik Islam.
Umat Islam sing buta politik gampang banget dibodohi. Hak-hak rakyat dirampas, SDA dijarah, hukum Allah ditinggalkan, tapi umat diam wae.
---
๐ Hikmah & Harapan
Pengalaman saya di Jogokariyan ngajari siji:
๐ Islam kudu total.
๐ Masjid kudu jadi pusat gerakan, bukan hanya pusat ritual.
๐ Umat kudu melek politik, ojo buta politik.
Karena solusi hakiki bukan sekulerisme, bukan demokrasi, tapi syariat Islam kaffah.
Allah janji:
> َูุง ุฃََُّููุง ุงَّูุฐَِูู ุขู َُููุง ุฅِْู ุชَْูุตُุฑُูุง ุงََّููู َْููุตُุฑُْูู ْ َُููุซَุจِّุชْ ุฃَْูุฏَุงู َُูู ْ
“Wahai orang-orang yang beriman, jika kalian menolong (agama) Allah, niscaya Allah akan menolong kalian dan meneguhkan kedudukan kalian.” (QS. Muhammad: 7)
---
Penutup
Wis wayahe umat Islam sadar.
Cinta Islam = kudu paham politik Islam.
Ojo wedi dicap radikal, ojo minder dicap ekstrem. Asal kita ittiba’ Rasulullah ๏ทบ, insyaAllah kita di jalan lurus.
Wallahu a’lam bish-shawab.
Takbir!!! ALLAHU AKBAR!!! ๐ฉ

Posting Komentar untuk "๐ Belajar dari Masjid Jogokariyan Yogyakarta: UMAT ISLAM KUDU MELรK POLITIK, OJO BUTA POLITIK"