Yogyakarta, atau sering disebut Jogja—utowo wong Jawa nyebut "Yojo"—wis kondhang dados kota pelajar. Bukan hanya pelajar dari Indonesia, bahkan banyak pula mahasiswa asing yang datang menimba ilmu di kota budaya ini. Jogja bukan sekadar pusat pendidikan modern, tetapi juga pusat budaya Jawa paling kental dan sakral, sebab di sinilah Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat berdiri.
Sejarah mencatat, Kraton Jogja pernah menjadi wakil kekhilafahan Turki Utsmani di tanah Jawa. Dari rahim Kraton inilah juga kemudian lahir salah satu gerakan pemurnian Islam terbesar di dunia, yakni Muhammadiyah pada tahun 1912 didirikan oleh kyai H. Ahmad Dahlan. Muhammadiyah lahir di tengah kondisi umat Islam yang kala itu sudah sangat memprihatinkan—disibukkan dengan TBC (Tahayul, Bid’ah, dan Churafat) sementara penjajahan Barat menggencarkan kristenisasi, sekularisasi, liberalisme, bahkan pluralisme. Umat Islam kala itu makin terpuruk, tidak disiplin, jauh dari ilmu, dan kehilangan arah, sampai pada akhirnya pada 1924 M Khilafah Turki Utsmani resmi bubar dan saat itu umat Islam tercerai berai seperti kehilangan induknya sampai pada kondisi di zaman sekarang ini.
⚡ Nah, dari sejarah ini kita bisa belajar: umat Islam tidak akan bisa bangkit kalau masih terjebak pada kebiasaan ngaret, malas-malasan, leha-leha, dan tidak serius mengatur waktunya. Ironisnya, kalau urusannya sekadar main game, nongkrong, bahkan sampai aktivitas yang mubah atau makruh atau bahkan sampai pada haram, semangatnya luar biasa! Tapi giliran agenda dakwah, ngaji, atau urusan serius yang menyangkut masa depan umat, malah dianggap enteng dan disepelekan. Iki lucu to?!
Padahal Islam itu agama yang sangat menghargai waktu. Allah ﷻ berfirman:
وَالْعَصْرِ (١) إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ (٢) إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ (٣)
"Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, beramal shalih, saling menasihati dalam kebenaran, dan saling menasihati dalam kesabaran." (QS. Al-‘Ashr: 1–3)
Jelas banget, waktu adalah modal hidup kita. Sekali lewat, tidak akan pernah kembali. Nabi ﷺ juga mengingatkan:
عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ»
Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Nabi ﷺ bersabda: “Ada dua nikmat yang banyak manusia tertipu (merugi) di dalamnya, yaitu nikmat sehat dan waktu luang.” (HR. Bukhari)
⚖ Jadi, ora ono cerito umat Islam bisa bangkit nèk isih kebiasaan "jam ngaret". Tidur seenaknya, tugas diundur-undur, janji diabaikan. Mestinè, kita kudu disiplin, tertib, ngatur jadwal kaya wong profesional, tanpa kudu dibentur-benturkè.
Yogyakarta sebagai kota pelajar memberi kita cermin. Jika Jogja dulu melahirkan ulama besar dan gerakan tajdid seperti Muhammadiyah, mestinya generasi muda Islam saiki bisa melanjutkan semangat itu. Apiké kita disiplin ibadah, disiplin belajar, disiplin kerja, lan disiplin ngatur waktu.
---
Hikmah & Harapan
Dari Jogja kita belajar, Islam itu agama yang mengajarkan kedisiplinan. Kemenangan Islam di masa lalu lahir dari generasi yang menghargai waktu, bukan generasi leha-leha. Harapan kita, semoga umat Islam hari ini bisa kembali sadar, ninggal kebiasaan ngaret lan males-malesan, lan bangkit dadi umat sing kaffah, teratur, disiplin, lan tangguh.
Wallahu a’lam bish-shawab.
Takbir! Allahu Akbar!


Posting Komentar untuk "Belajar dari Kota Pelajar: Pentingnya Menghargai Waktu"