Sudah menjadi fenomena berulang, setiap memasuki bulan-bulan penting seperti Ramadhan, Syawal, maupun sekarang Rabi’ul Awwal, umat Islam sering berbeda dalam penetapan tanggal. Sebagian mengikuti hisab ataupun rukyat global, sebagian mengikuti rukyat lokal, sebagian lagi mengacu pada keputusan pemerintah masing-masing negara. Akibatnya, umat Islam berpecah dalam sesuatu yang seharusnya menjadi simbol kesatuan: kalender Hijriah.
Lantas, apa akar masalahnya? Apakah sekadar perbedaan metode hisab dan rukyat?
Jawabannya tidak sesederhana itu. Akar masalah sebenarnya ada pada sekularisasi dan sekat-sekat nasionalisme yang diwariskan penjajah.
---
🌍 Umat Islam Itu Satu
Allah Ta’ala menegaskan bahwa kaum Muslim adalah satu umat (ummah wahidah):
> إِنَّ هَذِهِۦٓ أُمَّتُكُمْ أُمَّةًۭ وَٰحِدَةًۭ وَأَنَا۠ رَبُّكُمْ فَٱعْبُدُونِ
“Sesungguhnya umatmu ini adalah umat yang satu, dan Aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah Aku.”
(QS. Al-Anbiyaa’ [21]: 92)
Ayat ini jelas menolak sekat-sekat kebangsaan. Islam tidak mengenal batas teritorial, karena aqidah adalah pengikat utama, bukan paspor atau bendera.
---
🚧 Nasionalisme: Warisan Penjajah
Pasca runtuhnya Khilafah Utsmaniyah tahun 1924, dunia Islam dipecah menjadi lebih dari 50 negara bangsa (nation state). Masing-masing berdiri dengan batas buatan penjajah, dan dipaksa tunduk pada konsep nasionalisme.
Dampaknya:
Setiap negara merasa punya otoritas sendiri dalam menentukan penanggalan Hijriah.
Kalender Hijriah pun jadi terfragmentasi, padahal mestinya sama karena bulan dan hilal itu satu di langit yang sama.
Umat Islam tidak bisa lagi beribadah dengan kompak, misalnya puasa dan Idul Fitri sering berbeda.
Padahal ketika Khilafah masih ada, Khalifah yang menetapkan awal bulan, lalu seluruh umat Islam serentak mengikutinya di seluruh wilayah Daulah.
---
🕌 Ashabiyah (Fanatisme Golongan) Dilarang
Nasionalisme sejatinya adalah bentuk modern dari ashabiyah, yaitu fanatisme golongan/suku/daerah. Rasulullah ﷺ dengan tegas melarangnya:
> مَنْ قَاتَلَ تَحْتَ رَايَةٍ عُمِّيَّةٍ يَدْعُو عَصَبِيَّةً أَوْ يَنْصُرُ عَصَبِيَّةً فَقُتِلَ، فَقِتْلَةٌ جَاهِلِيَّةٌ
“Barangsiapa yang berperang di bawah panji fanatisme, mengajak kepada ashobiyah atau membela ashobiyah, lalu ia terbunuh, maka matinya adalah mati jahiliyah.”
(HR. Muslim no. 1848)
Dan sabda beliau ﷺ:
> لَيْسَ مِنَّا مَنْ دَعَا إِلَى عَصَبِيَّةٍ وَلَيْسَ مِنَّا مَنْ قَاتَلَ عَلَى عَصَبِيَّةٍ وَلَيْسَ مِنَّا مَنْ مَاتَ عَلَى عَصَبِيَّةٍ
“Bukan termasuk golongan kami orang yang menyeru kepada ashobiyah, bukan termasuk golongan kami orang yang berperang karena ashobiyah, dan bukan termasuk golongan kami orang yang mati di atas ashobiyah.”
(HR. Abu Dawud no. 5119)
Nasionalisme yang membuat umat Islam terpecah berdasarkan batas negara adalah bentuk nyata dari ashobiyah modern.
---
📆 Kalender Hijriah: Kenapa Bisa Beda?
Arab Saudi dan negara-negara Timur Tengah biasanya menggunakan hisab Ummul Qura’ dan rukyat lokal/regional.
Muhammadiyah menggunakan KHGT (Kalender Hijriah Global Tunggal) dengan metode hisab imkan rukyat global.
Pemerintah Indonesia (MABIMS) menggunakan kriteria imkan rukyat lokal (tinggi hilal minimal 3°).
NU mengutamakan rukyat lokal di titik-titik rukyat se-Indonesia.
Perbedaan metode ini semakin diperuncing oleh sekat nasionalisme: masing-masing negara ingin punya “otoritas kedaulatan” sendiri. Akhirnya, jadilah umat Islam berbeda hari dalam hal yang mestinya bisa diseragamkan.
---
💡 Solusi: Kembali ke Persatuan Umat
Solusi hakiki tidak cukup dengan workshop falak atau kompromi kriteria hilal. Sebab akar masalahnya adalah politik dan sekat nasionalisme.
Maka solusinya adalah:
1. Hilangkan sekat nasionalisme yang memecah umat.
2. Kembalikan otoritas penanggalan Hijriah ke tangan satu kepemimpinan umat (Khilafah).
3. Dengan begitu, penetapan awal bulan (Ramadhan, Syawal, Dzulhijjah, dsb) akan ditentukan oleh satu Khalifah, lalu seluruh kaum Muslim di dunia mengikutinya.
Seperti sabda Rasulullah ﷺ:
> إِنَّمَا الْإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ
“Sesungguhnya Imam (Khalifah) itu perisai, umat berperang di belakangnya dan berlindung kepadanya.”
(HR. Bukhari no. 2957, Muslim no. 1841)
---
✨ Penutup: Hikmah & Harapan
Perbedaan tanggal Hijriah yang terus berulang adalah alarm besar bahwa umat Islam belum benar-benar bersatu.
Selama kita masih terikat pada sekat nasionalisme dan tunduk pada sistem warisan penjajah, selama itu pula perpecahan akan terus terjadi.
Maka, momentum ini harus jadi seruan dakwah:
Ayo tinggalkan ashobiyah dan sekat kebangsaan.
Ayo kembali kepada persatuan Islam di bawah kepemimpinan yang satu.
Ayo perjuangkan tegaknya syariat Islam secara kaffah agar kita bisa benar-benar menjadi ummah wahidah, sesuai dengan tuntunan Allah dan Rasul-Nya ﷺ.
Takbir! ALLOHU AKBAR !!!

Posting Komentar untuk "📰 SEKAT NASIONALISME PERUSAK UKHUWAH ISLAMIYAH & AKAR MASALAH YANG MEMBUAT UMAT ISLAM SERING BEDA TANGGAL !!"