Memahami Makna Ahlusunnah wal Jama’ah & Kaitannya dengan Khilafah

Jum'at, 28 Shafar 1447 H / 22 Agustus 2025 M
Kalender Hijriah Global Tunggal

Alhamdulilah kajian obsesi (obrolan seputar Islam) kembali digelar yang rutin tiap malam Jum'at di Masjid at-Tohiriyyah, Bojonghuni, Maleber, Ciamis dengan tema "Memahami makna ahlusunnah" diisi oleh al-ustadz Yugi Mogey.


✨ Makna Ahlusunnah wal Jama’ah


Secara bahasa, ahl berarti keluarga, pengikut, atau kelompok. Sunnah adalah jalan, tuntunan, atau manhaj Nabi ﷺ. Sedangkan jama’ah adalah kelompok kaum Muslimin yang bersatu di bawah kepemimpinan Islam. Dengan demikian, Ahlusunnah wal Jama’ah (Aswaja) adalah orang-orang yang mengikuti sunnah Rasulullah ﷺ dan berjama’ah bersama kaum Muslimin di bawah kepemimpinan Islam.


Imam Ibnu Hajar menegaskan bahwa Aswaja adalah ahli hadits dan fiqih, sedangkan Imam An-Nawawi menyebutkan bahwa mereka bisa tersebar di mana saja, tidak terbatas pada satu kelompok tertentu.



---


⚖️ Aqidah dan Prinsip Aswaja


Ahlusunnah wal Jama’ah menegaskan beberapa prinsip penting, di antaranya:


1. Meyakini Al-Qur’an adalah kalamullah, bukan makhluk.



2. Meyakini jihad tetap wajib hingga hari kiamat.



3. Meyakini jual beli halal hingga hari kiamat.



4. Tidak melakukan perang ketika terjadi fitnah.




Sebagaimana firman Allah:


> إِنِ الْحُكْمُ إِلَّا لِلَّهِ

“Menetapkan hukum itu hanyalah milik Allah.” (QS. Yusuf: 40)





---


📌 Aswaja & Khilafah: Tak Terpisahkan


Banyak ulama menegaskan bahwa khilafah adalah kewajiban syar’i. Di antaranya:


Imam Abu Hanifah dalam Fiqhul Akbar


Imam Asy-Syafi’i dalam Al-Umm


Imam Al-Baghdadi dalam Al-Farq bayna al-Firaq


Imam Al-Kurtubi dalam tafsirnya menegaskan:


> “Tidak ada perbedaan di kalangan ulama tentang wajibnya mengangkat seorang imam (khalifah).”





Hadits Rasulullah ﷺ juga menegaskan:


> مَنْ مَاتَ وَلَيْسَ فِي عُنُقِهِ بَيْعَةٌ مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً

“Barangsiapa mati dalam keadaan tidak memiliki baiat di lehernya, maka ia mati seperti kematian jahiliyah.” (HR. Muslim)




Dengan demikian, Aswaja sejati tidak bisa dipisahkan dari khilafah. Sebab, wal jama’ah artinya adalah persatuan kaum Muslimin di bawah satu kepemimpinan (imam/khalifah).



---


🚫 Demokrasi Bukan Jalan Aswaja


Demokrasi memberikan hak penetapan hukum kepada manusia, padahal itu hak Allah semata. Imam Belhaj dalam Ad-Damghah menegaskan: haram bagi kaum Muslimin mengikuti demokrasi, karena itu bentuk tasyabbuh (menyerupai) orang kafir.


Rasulullah ﷺ bersabda:


> مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

“Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk bagian dari mereka.” (HR. Abu Dawud)





---


🌱 Hikmah & Harapan


Ahlusunnah wal Jama’ah sejati adalah mereka yang istiqamah mengikuti sunnah Nabi ﷺ, berpegang pada aqidah salaf, dan bersatu dalam kepemimpinan Islam (khilafah). Tanpa khilafah, klaim Aswaja hanyalah label kosong.


Semoga Allah segera mempertemukan umat ini kembali dengan khilafah yang akan menegakkan syariat-Nya, menyatukan kaum Muslimin, serta mengembalikan kemuliaan Islam di muka bumi.


> وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ

“Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman dan beramal shalih, bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa.” (QS. An-Nur: 55)





---


📢 Kembali pada Islam kaffah, tegakkan sunnah dan jama’ah di bawah naungan khilafah!


Wallahu a'lam bishowab,

Takbir! ALLAHU AKBAR !!!


 

Posting Komentar untuk "Memahami Makna Ahlusunnah wal Jama’ah & Kaitannya dengan Khilafah"