HANYA UKHUWAH ISLAMIYAH LAH TALI YANG PALING MENGIKAT, SELAIN ITU RAPUH !!


Manusia adalah makhluk sosial yang secara fitrah tidak bisa hidup sendiri. Ia butuh bersosialisasi, berkumpul, dan berinteraksi. Dari sinilah terbentuk kelompok-kelompok sosial, baik itu dalam bentuk organisasi, komunitas, bahkan sistem pemerintahan. Semuanya berangkat dari dorongan naluri untuk berinteraksi dan memenuhi kebutuhan hidup.


Kelompok-kelompok itu bisa terbentuk karena kesamaan tempat tinggal, daerah, suku, ras, hobi, profesi, atau bahkan kepentingan sesaat. Misalnya saja: saya orang Jawa, dia orang Sunda. Tapi kalau sama-sama Muslim, tetap saudara. Kenapa? Karena kita disatukan oleh tali keimanan, oleh aqidah tauhid yang kokoh. Tuhan kita sama, Nabi kita sama, kiblat kita satu, dan kitab kita satu: Al-Qur’an. Perbedaan bahasa, suku, budaya bukanlah pemecah – justru tanda kekuasaan Allah agar kita saling mengenal, bukan membanggakan kelompok.


📖 Dalilnya jelas dalam Al-Qur’an:


> يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ


"Wahai manusia! Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, lalu Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti."

(QS. Al-Hujurat: 13)




Ikatan inilah – Ukhuwah Islamiyah – yang bukan hanya menyatukan manusia secara lahir, tapi juga batin, bahkan sampai ke akhirat kelak. Ikatan ini dibangun atas dasar aqidah Islam dan ikhlas karena Allah. Ia tak mengenal batas negara, ras, atau budaya. Selama seseorang adalah Muslim, maka ia adalah saudara kita. Inilah satu-satunya tali yang paling kuat (al-‘urwah al-wutsqā).


Berbeda dengan ikatan nasionalisme, yang dibangun berdasarkan batas buatan manusia. Meski ada banyak keberagaman dalam nasionalisme – dari suku, agama, budaya – tapi itu adalah ikatan yang lemah. Sebab nasionalisme bisa berubah-ubah. Hari ini satu negara, besok bisa pecah. Bahkan dalam sejarah, banyak pertumpahan darah terjadi atas nama nasionalisme. Ukhuwah Islamiyah tidak mengenal batas negara, tapi mengenal batas halal-haram.


Begitu juga ikatan maslahat atau kepentingan, yang terbentuk karena ada tujuan bersama. Setelah tujuan itu tercapai, maka ikatan pun menguap. Misalnya, kelompok kerja, kelompok tugas, komunitas hobi. Ketika proyek selesai, maka komunikasinya pun hilang, lost contact. Ini bukan ukhuwah sejati, hanya semu belaka.


Ukhuwah Islamiyah lebih dalam dari sekadar kumpul bareng atau chatting grup. Ia menuntut cinta karena Allah dan benci karena Allah. Bahkan Nabi ﷺ bersabda:


> المُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا


"Seorang mukmin terhadap mukmin lainnya seperti bangunan yang saling menguatkan."

(HR. Bukhari & Muslim)




Ikatan aqidah ini lebih kuat dari ikatan darah. Karena kita bisa saja berbeda darah, berbeda negara, tapi jika aqidahnya sama, maka dia saudara kita. Sebaliknya, kalau aqidahnya beda – maka ia bukan bagian dari kita.



---


📝 Hikmah & Harapan:


Hari ini umat Islam tercerai-berai oleh batas negara, bendera, dan kepentingan duniawi. Sudah saatnya kita kembali menjadikan Islam sebagai satu-satunya tali pengikat kita. Mari satukan langkah, kuatkan ukhuwah Islamiyah, dan perjuangkan Islam secara kaffah seperti saat Khilafah Islamiyah dahulu menyatukan lebih dari separuh dunia.


Mari kita bangun kembali persatuan umat – bukan atas nama nasionalisme, bukan karena hobi atau kepentingan sesaat – tapi karena iman kepada Allah. Ukhuwah yang lahir dari iman takkan pernah rapuh. Karena ia akan mengalir sampai ke Surga, in sya Allah.


Wallāhu a’lam bish-shawāb.

Takbir! Allāhu Akbar! 💥🔥

 

Posting Komentar untuk "HANYA UKHUWAH ISLAMIYAH LAH TALI YANG PALING MENGIKAT, SELAIN ITU RAPUH !!"