REZEKI ORA MUNG DUIT

Selasa, ١٧ Syawwal ١٤٤٦ H / 15 April 2025 M
🗓️Kalender Hijriyah Global Tunggal (KHGT)

Sering kali kita mengira bahwa rezeki itu hanya soal uang. Padahal, rezeki jauh lebih luas daripada sekadar lembaran rupiah yang ada di dompet atau saldo di rekening. Bisa bernapas dengan lega, bisa melihat dan mendengar dengan baik, tubuh sehat, masih bisa berjalan, bisa tersenyum, dan bisa tidur dengan nyenyak—semua itu adalah bentuk rezeki yang sangat berharga namun sering kita lupakan.


Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:


وَمَا مِن دَابَّةٍ فِي ٱلْأَرْضِ إِلَّا عَلَى ٱللَّهِ رِزْقُهَا

"Dan tidak ada suatu makhluk pun yang bergerak di atas bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya."

(QS. Hud: 6)


Ini menunjukkan bahwa rezeki adalah urusan Allah. Tidak hanya uang, tapi seluruh kebutuhan makhluk untuk bertahan hidup pun Allah yang menjamin. Namun sayangnya, dalam sistem kapitalisme sekuler seperti saat ini—yang memisahkan agama dari kehidupan (fashluddin ‘anil hayah)—rezeki telah dikerucutkan maknanya hanya pada uang dan harta benda.


Masyarakat pun jadi terobsesi dengan materi. Apa-apa dihitung uang. Nilai seseorang diukur dari berapa banyak hartanya, bukan seberapa besar iman dan kebaikannya. Padahal, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:


لَيْسَ الغِنَى عَنْ كَثْرَةِ العَرَضِ، وَلَكِنَّ الغِنَى غِنَى النَّفْسِ

"Kekayaan itu bukanlah banyaknya harta benda, tetapi kekayaan adalah kaya hati."

(HR. Bukhari dan Muslim)


Jadi, bukan uang yang menjadi tolok ukur utama. Tapi ketenangan jiwa, kebersihan hati, dan ketaatan kepada Allah-lah yang seharusnya dianggap sebagai rezeki terbesar. Sebab ada orang yang hartanya melimpah, tapi jiwanya gelisah dan tidak pernah merasa cukup. Sementara ada orang yang sederhana, namun hatinya lapang, hidupnya berkah, dan selalu bersyukur.


Dalam masyarakat kapitalistik, manusia didorong untuk mengejar uang siang malam. Hidup seolah hanya untuk bekerja, gaji, bayar utang, lalu kerja lagi. Banyak yang lupa untuk bersyukur atas nikmat-nikmat kecil yang setiap hari Allah berikan. Mereka lupa bahwa bisa bangun pagi dalam keadaan sehat saja adalah karunia besar dari Allah.


Padahal, Allah berjanji:


لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ

"Jika kalian bersyukur, pasti Aku akan menambah (nikmat) kepada kalian."

(QS. Ibrahim: 7)


Maka dari itu, mari kita buka mata dan hati. Rezeki bukan hanya soal uang. Rezeki adalah segala sesuatu yang membuat hidup kita menjadi lebih bermakna, baik lahir maupun batin. Mari kita ubah cara pandang, bahwa keberkahan dan ketenangan hidup jauh lebih penting daripada sekadar banyaknya angka di rekening.


Semoga Allah senantiasa melimpahkan rezeki kepada kita, menjadikan hati kita kaya dengan rasa syukur, dan membimbing kita untuk membangun kehidupan yang sesuai dengan nilai-nilai Islam yang sejati. Aamiin.

Posting Komentar untuk "REZEKI ORA MUNG DUIT"