Ketika Simpati Itu Hilang: Citra Aparatur Negara dalam Cermin Umat

Ahad, ٨ Syawwal ١٤٤٦ H / 6 April 2025 M
🗓️Kalender Hijriyah Global Tunggal (KHGT)

Baru-baru ini viral di media sosial yang memperlihatkan seorang anggota polisi di Tasikmalaya mengalami kecelakaan saat sedang bertugas. Polisi tersebut jatuh dan terlindas mobil lain. Tak lama, tersebar kabar bahwa polisi tersebut meninggal dunia. 

Namun, yang membuat hati ini miris adalah reaksi banyak netizen—alih-alih menunjukkan empati, banyak dari mereka malah menunjukkan kepuasan bahkan tertawa. Ini bukan sekadar kejadian viral, tapi cerminan bahwa citra aparat negara makin terpuruk di mata rakyat.


Apakah sedemikian buruknya wajah aparatur negara kita di mata umat?


Fakta di lapangan memang menunjukkan begitu: koruptor kelas kakap dihukum ringan, bahkan bisa hidup nyaman di balik jeruji. Sementara rakyat kecil—telat bayar pajak, tak bawa SIM—langsung ditindak. Apa-apa serba bayar. Untuk urusan administrasi yang seharusnya mudah, malah sering dipersulit.


Aparat yang seharusnya menjadi pelindung, justru makin dijauhi.

Rakyat kehilangan kepercayaan karena terlalu sering dikecewakan oleh oknum, atau bahkan oleh sistem itu sendiri. Tapi sayangnya, yang mendapat stigma bukan hanya oknum, tapi institusi secara menyeluruh.


Padahal Islam memberi kita panduan bagaimana seorang aparat negara harus bersikap—yakni sebagai pelayan umat dan penegak keadilan, bukan pemeras rakyat.


Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:


> كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah…”

(QS. Ali ‘Imran: 110)




Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:


> مَنْ رَأَى مِنْكُم مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ، وَذَٰلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ

“Barang siapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya. Jika tidak mampu, maka dengan lisannya. Jika tidak mampu juga, maka dengan hatinya, dan itulah selemah-lemahnya iman.”

(HR. Muslim no. 49)




Namun, bagaimana amar ma’ruf nahi mungkar bisa ditegakkan kalau sistem yang digunakan justru sistem sekuler dan kapitalis?


Sistem hari ini tak menjadikan Islam sebagai hukum.

Solat dan puasa bukan kewajiban negara, melainkan pilihan pribadi. LGBT pun dibiarkan dengan dalih HAM. Sementara syariat Islam dianggap kolot dan tidak relevan. Ini semua buah dari sekularisme dan demokrasi yang menjadikan akal manusia sebagai sumber hukum.


Padahal negeri ini kaya. Tanahnya subur, lautnya luas, tambang dan kekayaan alam berlimpah. Tapi rakyat kecil makin tercekik, karena semua dikapitalisasi. Negara berjalan berdasarkan kepentingan, bukan amanah.


Bayangkan jika sistem Islam diterapkan:


Aparat jadi penolong umat, bukan penekan.


Pelayanan publik jadi ibadah, bukan ladang pungli.


Hukum ditegakkan berdasarkan wahyu, bukan lobi dan kekuasaan.


Rakyat hidup dalam naungan keadilan, bukan tekanan.



Ini bukan utopia. Ini sejarah!

Khilafah Islamiyah pernah menegakkan keadilan selama berabad-abad. Maka tak ada alasan untuk ragu. Islam bukan hanya agama, tapi juga sistem hidup.



---


Semoga kejadian ini menjadi pelajaran dan muhasabah bagi kita semua.

Semoga makin banyak rakyat yang sadar, bahwa akar masalah bangsa ini adalah sistem yang jauh dari petunjuk Ilahi. Dan semoga Allah membukakan hati-hati umat ini untuk kembali pada Islam sebagai solusi kehidupan.


Takbir!

اللّٰهُ أَكْبَرُ

 

Posting Komentar untuk "Ketika Simpati Itu Hilang: Citra Aparatur Negara dalam Cermin Umat"