Kalender Hijriyah Global Tunggal (KHGT): Ikhtiar Muhammadiyah Menyatukan Umat Islam Se-Dunia dalam Satu Tanggal

 

Senin, ٢٣ Syawwal ١٤٤٦ H / 21 April 2025 M
🗓️Kalender Hijriyah Global Tunggal (KHGT)

Selama ini, umat Islam di seluruh dunia sering menghadapi dilema klasik: kenapa hari raya beda-beda? Perbedaan penetapan awal Ramadhan, Idul Fitri, dan Idul Adha seakan jadi "menu tahunan" yang terus berulang. Ada yang lebaran Jumat, ada yang Sabtu. Ada yang puasa duluan, ada yang belakangan. Padahal kan umat Islam itu satu?

Sebagaimana dalam hadits berikut :

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ، مَثَلُ الْجَسَدِ، إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ، تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ، بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى

Artinya : “Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal saling mencintai, menyayangi, dan mengasihi bagaikan satu tubuh. Jika satu anggota tubuh sakit, maka seluruh tubuh ikut merasakan sakit dengan tidak bisa tidur dan demam.”

(HR. Bukhari no. 6011, dan Muslim no. 2586)


Dalam Al-Qur'an pun Allah ta'ala juga berfiman :

 إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara. Maka damaikanlah antara kedua saudaramu itu dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat.”

(QS. Al-Ḥujurāt [49]: 10)


Nah, inilah yang kemudian menjadi keresahan Muhammadiyah sejak lama. Muhammadiyah sebagai gerakan tajdid (pembaharuan) nggak tinggal diam. Melihat problem ini tak kunjung selesai, Muhammadiyah pun menawarkan solusi: Kalender Hijriyah Global Tunggal (KHGT).


Latar Belakang Perbedaan


Perbedaan dalam penetapan awal bulan Hijriah muncul karena adanya sekat-sekat nasionalisme dalam menentukan rukyat atau hisab. Di Indonesia misalnya, pemerintah melalui Kementerian Agama menggunakan kriteria MABIMS (yang berbasis rukyat dengan batas tertentu). Muhammadiyah menggunakan hisab hakiki wujudul hilal. Lain lagi dengan Arab Saudi yang pakai kriteria Ummul Quro'. Padahal, secara geografis Arab Saudi dan Indonesia sama-sama melihat bulan yang sama, tapi hasilnya beda karena standar dan otoritasnya beda.


Contoh nyata terjadi pada tahun 2023:


Muhammadiyah dan Arab Saudi sepakat lebaran Idul Fitri 1444 H jatuh pada Jum'at, 21 April 2023.


Pemerintah RI dan ormas lain seperti PERSIS malah Sabtu, 22 April 2023. Padahal, secara metode, Arab Saudi dan Indonesia sama-sama pakai rukyat, tapi hasilnya berbeda. Ini bukan semata soal hilal terlihat atau tidak, tapi lebih ke sekat nasionalisme dan otoritas keagamaan masing-masing negara.



Belum lagi kadang muncul sindiran menyakitkan, seperti yang pernah dilakukan oleh seorang peneliti BRIN yang menuduh Muhammadiyah memecah belah umat karena "lebaran duluan". Padahal yang Muhammadiyah lakukan justru berdasar ilmu dan tanggung jawab syar’i, bukan ikut-ikutan.


KHGT: Dari Wacana Menuju Aksi Nyata


Untuk mengatasi hal ini, Muhammadiyah melalui Majelis Tarjih dan Tajdid mulai mendorong penggunaan Kalender Hijriyah Global Tunggal (KHGT). KHGT ini didasarkan pada hisab internasional dengan standar ketinggian hilal minimal 5 derajat dan elongasi minimal 8 derajat (kriteria Turki/Ummul Quro’), berlaku secara global.


Prinsipnya simpel:


> Kalau di satu tempat di bumi hilal sudah memenuhi kriteria, maka semua umat Islam di dunia masuk bulan baru.




Dengan ini, umat Islam bisa satu tanggal dalam hal puasa dan hari raya—sesuatu yang selama ini terasa mustahil.


KHGT bahkan sudah resmi dicanangkan Muhammadiyah sejak 1 Muharram 1446 H (7 Juli 2024 M) sebagai pengganti metode Wujudul Hilal yang sebelumnya hanya berskala nasional (berbasis lokasi Yogyakarta).


Tapi… Kenapa Masih Pakai Wujudul Hilal Lagi?


Sayangnya, menjelang Ramadhan 1446 H (2025 M), PP Muhammadiyah tiba-tiba mengumumkan kembali menggunakan Wujudul Hilal untuk penetapan awal Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah. Hal ini memunculkan kekecewaan di kalangan sebagian warga Muhammadiyah dan masyarakat umum. Apalagi KHGT sudah didistribusikan ke cabang dan ranting, bahkan sempat didukung oleh cendekiawan Muslim Kaffah asal Yogyakarta seperti Ust. Doni Riw yang menyambut positif globalisasi kalender Islam ini. Dalam videonya dichanel tiktoknya, klik disini untuk melihat respon ust. Doni Riw tentang KHGT yg dirilis Muhammadiyah.


Akibat keputusan ini:


Menurut KHGT: 1 Syawal 1446 H jatuh pada Ahad, 30 Maret 2025.


Menurut Wujudul Hilal (dan Pemerintah RI): Senin, 31 Maret 2025. Jadi berbarengan dengan Pemerintah RI & juga Persatuan Islam (PERSIS).



Bahkan sempat terjadi fenomena unik: sebagian warga Muhammadiyah ada yang tetap berlebaran Ahad, sesuai KHGT, padahal keputusan resmi PP adalah Senin. Ini menunjukkan bahwa semangat globalisasi kalender Islam sebenarnya sudah hidup di akar rumput.


Harapan dan Komitmen Baru


Untungnya, Muhammadiyah tak berhenti. Pada 19–20 April 2025, PP Muhammadiyah kembali menggelar Halaqah Nasional KHGT di Yogyakarta https://muhammadiyah.or.id/2025/04/hamim-ilyas-kalender-hijriah-global-tunggal-sebagai-wujud-pembaharuan-islam/. Dalam pidato kuncinya, Prof. Hamim Ilyas menegaskan bahwa KHGT tetap jadi komitmen Muhammadiyah, sebagai bagian dari pembaruan Islam global.


Beliau menegaskan bahwa:


> “KHGT bukan sekadar soal teknis penanggalan, tapi bagian dari visi besar Muhammadiyah dalam menyatukan umat dan memperkuat posisi Islam dalam percaturan global.”




Rencananya, KHGT akan resmi diterapkan penuh mulai 1 Muharram 1447 H, dan akan digunakan untuk penanggalan hingga 25 tahun ke depan. Mudah²an benar² diterapkan ya & tentunya Muhammadiyah harus menjadi contoh untuk ormas keagamaan yang lain & juga negeri-negeri kaum Muslimin di penjuru dunia/global.


KHGT bukan menyelisihi syariat!


Memang yang Nabi SAW terapkan dulu itu menggunakan Rukyat bukan hisab, sebagaimana dalil :

صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ، فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوا عِدَّةَ شَعْبَانَ ثَلَاثِينَ

Artinya :  “Berpuasalah kalian karena melihat hilal dan berbukalah karena melihatnya. Jika kalian tertutup (tidak dapat melihat hilal), maka sempurnakan bilangan Sya’ban menjadi tiga puluh hari.”

(HR. al-Bukhari no. 1909, Muslim no. 1081)

Hadis ini disampaikan sesuai dengan kondisi zaman Nabi, yaitu umat yang ummi (tidak bisa baca-tulis atau menghitung kalender astronomi). Maka rukyat (melihat bulan langsung) dijadikan dasar praktis.


Namun tidak berarti rukyat satu-satunya cara mutlak, karena itu ada ‘illat (alasan hukum) yang bisa berubah:


> yaitu keterbatasan teknologi dan kemampuan menghitung saat itu.


Dalam hadits lain nabi juga bersabda :

إِنَّا أُمَّةٌ أُمِّيَّةٌ، لَا نَكْتُبُ وَلَا نَحْسُبُ، الشَّهْرُ هَكَذَا وَهَكَذَا وَهَكَذَا - وَعَقَدَ أَبُو هُرَيْرَةَ فِي الثَّالِثَةِ - وَالشَّهْرُ هَكَذَا وَهَكَذَا وَهَكَذَا - يَعْنِي تَمَامَ ثَلَاثِينَ

Artinya : "Sesungguhnya kami adalah umat yang ummi, tidak bisa menulis dan tidak menghitung (dengan hisab). Bulan itu kadang begini, begini, dan begini (yakni 29), dan kadang begini, begini, dan begini (yakni 30).”

(HR. al-Bukhari no. 1913, Muslim no. 1080)


Hadis ini menjelaskan keadaan umat waktu itu, belum memiliki kemampuan hisab dan alat astronomi. Namun saat ini, ketika hisab telah akurat dan ilmiah, maka illat hadisnya sudah tidak ada.


Maka penggunaan hisab bukan menyelisihi syariat, justru mengikuti maksud syariat: agar ibadah dilakukan tepat waktu dan pasti.


Dalil Al-Qur’an: Bulan dan Matahari Beredar dengan Hitungan (Hisab)


الشَّمْسُ وَالْقَمَرُ بِحُسْبَانٍ

Artinya:

> “Matahari dan bulan beredar menurut perhitungan (hisab).”

(QS. Ar-Rahman: 5)


QS. Yunus: 5

> هُوَ الَّذِي جَعَلَ الشَّمْسَ ضِيَاءً وَالْقَمَرَ نُورًا وَقَدَّرَهُ مَنَازِلَ لِتَعْلَمُوا عَدَدَ السِّنِينَ وَالْحِسَابَ

Artinya : "Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya serta Dia menetapkan tempat-tempat peredarannya, agar kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (hisab).”

(QS. Yunus: 5)


Jawaban Terhadap Tuduhan: “Kalau hisab menyelisihi syariat, berarti Qur’an salah?”


Tentu tidak benar mengatakan demikian. Justru Qur’an memerintahkan penggunaan ilmu hisab dalam memahami peredaran bulan dan matahari.


Jadi, hisab bukan menyelisihi syariat, tapi justru diperintahkan Al-Qur’an untuk:


Menentukan waktu ibadah


Mengetahui pergantian bulan


Menyusun kalender yang akurat




---


Catatan Penting: Hisab Global ≠ Rukyat Global


Hisab global / KHGT = Praktis & mengandalkan hitungan pasti dan bisa ditentukan jauh hari bahkan 100 tahun kedepan, gak harus nunggu pengumuman sampai tengah malam. Selain itu juga sudah akurat dengan data astronomi yang menampilkan siklus fase bulan.


Rukyat global = hasilnya lama bisa sampai dini hari meskipun sering akurat dengan hasil hisab global (KHGT).



---


Islam itu Memudahkan


> وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ

Artinya:

"Dan Dia tidak menjadikan dalam agama ini kesulitan bagimu." (QS. Al-Ḥajj: 78)


> Maka kalau hisab lebih akurat, global, dan mudah, kenapa harus milih yang rumit dan rawan beda-beda?


Kalau kalender Masehi milik orang kafir saja bisa menyatukan, kenapa kalender Islam masih sering beda-beda!? Bahkan penyebutan hari "Ahad" pun kebanyakan masih sering nyebutnya "Minggu" terus. Padahal Islam tak mengenal hari "Minggu" !!


Hikmah & Penutup


KHGT adalah ikhtiar serius Muhammadiyah untuk menyatukan umat Islam dunia dalam satu kalender, satu tanggal, dan satu kesadaran kolektif bahwa Islam adalah agama yang menyatukan, bukan memecah.


Ya, mungkin jalan menuju ke sana masih panjang, penuh tantangan dan dinamika internal, bahkan politis. Tapi setidaknya, langkah awal sudah diambil.


Mudah-mudahan ke depannya Muhammadiyah benar-benar menerapkan KHGT & tidak berubah arah lagi seperti saat menjelang Ramadhan kemarin, dan tentu Muhammadiyah harus menjadi contoh untuk ormas atau gerakan dan negeri-negeri kaum Muslimin yang lain, sehingga ketika semua serentak dan sepakat menggunakan KHGT, umat Islam akan serentak dan bersatu dalam penetapan hari raya sehingga tidak terjadi lagi potensi penetapan hari raya. Tentu ini menjadi langkah awal menuju persatuan Islam yang hakiki dan juga menjadi langkah awal juga menuju kebangkitan Islam, sehingga Islam akan kembali memimpin peradaban dunia seperti pada abad-abad sebelumnya.

ALLAHU AKBAR.!!

Posting Komentar untuk "Kalender Hijriyah Global Tunggal (KHGT): Ikhtiar Muhammadiyah Menyatukan Umat Islam Se-Dunia dalam Satu Tanggal"