☕Jimad (Ngaji malem Ahad) - Suci dalam Islam: Bukan Sekadar Bersih, Tapi Taat Syariat🫧

 

Sabtu (malem Ahad) 29 Syawal 1446 H / 26 April 2025 M
🗓️Kalender Hijriyah Global Tunggal (KHGT)

Sabtu malam Ahad, 29 Syawal 1446 H / 26 April 2025 M, PC Muhammadiyah Mangunjaya kembali menggelar kajian rutin Jimad (Ngaji Malem Ahad) bersama KH. Sutarman, M.BA. Kajian ini berlangsung ba’da Maghrib sampai Isya’, bertempat di Masjid Al-Islah / Sekretariat PC Muhammadiyah Mangunjaya.


---

Dalam ajaran Islam, yang ditekankan bukan hanya soal kebersihan, tetapi tentang kesucian (thaharah). Suci berbeda dengan bersih. Orang yang mandi biasa mungkin saja bersih, tetapi belum tentu suci, sebab dalam Islam, suci itu ada aturannya, tidak bisa sembarangan. Membersihkan badan, pakaian, atau tempat dari kotoran biasa disebut bersih, sedangkan suci adalah bebas dari hadats dan najis sesuai tuntunan syariat. Orang yang suci, insyaAllah, sudah pasti bersih, namun orang yang bersih belum tentu suci.


Suci dalam Islam berarti membersihkan badan dari dua hal, yaitu dari najis dan dari hadats. Najis adalah benda nyata yang bisa dilihat bentuk, warna, bau, dan rasanya. Najis bisa menempel pada badan, pakaian, atau tempat. Sedangkan hadats adalah keadaan tidak suci yang melekat pada diri seseorang akibat peristiwa tertentu, seperti buang air kecil, buang air besar, keluarnya angin dari dubur, dan sebagainya. Hadats ini tidak nampak secara kasat mata karena sifatnya adalah kejadian (peristiwa), bukan benda.


Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:


> إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ

"Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri."

(QS. Al-Baqarah: 222)




Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam juga bersabda:


> الطُّهُورُ شَطْرُ الْإِيمَانِ

"Kebersihan (kesucian) adalah bagian dari iman."

(HR. Muslim no. 223)




Untuk mensucikan diri, Islam telah menetapkan alat-alat tertentu, yaitu empat: air, debu (thurob), batu (hajar), dan samak (penyucian kulit bangkai). Air digunakan untuk wudhu, mandi, dan mencuci najis. Debu dipakai untuk tayammum ketika tidak ada air. Batu digunakan untuk istijmar, yaitu membersihkan diri setelah buang hajat dengan batu jika tidak ada air. Sedangkan samak adalah proses penyucian kulit bangkai agar bisa dimanfaatkan, seperti untuk sajadah atau benda lain, tanpa menghalalkan dagingnya.


Islam tidak membebankan umatnya untuk melakukan penelitian laboratorium demi menilai tingkat kebersihan hasil bersuci, melainkan cukup mengikuti prosedur syar'i. Sebagaimana prinsip kita dalam beragama adalah ittiba' (mengikuti tuntunan) dan bukan membuat-buat aturan baru tanpa dasar. Sebab dalam Islam, segala amal yang tidak ada perintah atau contohnya dari Rasulullah adalah tertolak. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:


> مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

"Barang siapa mengamalkan suatu amalan yang tidak ada perintah dari kami, maka amalan itu tertolak."

(HR. Muslim no. 1718)




Demikian pula Allah telah menegaskan dalam Al-Qur'an:


> الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي

"Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku."

(QS. Al-Ma'idah: 3)




Oleh karena itu, dalam bersuci maupun beribadah, prinsip kita adalah sami'na wa atha'na (kami dengar dan kami taat). Jangan membanding-bandingkan, misalnya menggunakan tisu lebih bersih daripada batu saat istinja'. Meski dari sudut pandang duniawi tampak lebih bersih, yang dinilai oleh Allah adalah ketaatan kita mengikuti syariat, bukan sekadar kebersihan lahiriah.


Hikmah dan Motivasi:

Menjaga kesucian diri bukan hanya menjaga kebersihan fisik, tetapi juga menjaga kemuliaan iman di hadapan Allah. Jadikanlah kebiasaan bersuci sebagai bentuk rasa cinta kita kepada Allah dan bukti ketaatan kepada Rasulullah. Sebab kesucian lahir adalah cermin dari kesucian batin. Mari kita jaga kesucian diri kita sesuai tuntunan syariat, hingga kita menjadi hamba yang dicintai Allah, bersih jiwa dan raga, serta berkilau di tengah umat manusia.


Posting Komentar untuk "☕Jimad (Ngaji malem Ahad) - Suci dalam Islam: Bukan Sekadar Bersih, Tapi Taat Syariat🫧"