Jogja bukan sekadar kota budaya, tetapi juga pusat peradaban Islam yang telah mengakar sejak lama. Sejarahnya erat dengan Kesultanan Demak, Mataram Islam, hingga memiliki hubungan dengan Khilafah Turki Utsmani. Bahkan, dalam Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) ke-6 tahun 2015, Sri Sultan Hamengkubuwono X menegaskan bahwa Kasultanan Yogyakarta adalah pewaris sah dari Kesultanan Islam sebelumnya dan merupakan wakil Khilafah Islam di Nusantara. Pernyataan ini bukan sekadar romantisme sejarah, melainkan fakta yang menunjukkan betapa eratnya Jogja dengan peradaban Islam.
Tata Kota Jogja dan Filsafat Islam
Tata kota Yogyakarta bukanlah hasil perancangan sembarangan, melainkan mengandung simbolisme Islam yang sangat kental. Filosofi yang digunakan adalah sangkan paraning dumadi, menggambarkan perjalanan hidup manusia dari lahir hingga kembali kepada Allah.
Dimulai dari Panggung Krapyak di selatan yang melambangkan rahim ibu, tempat kehidupan bermula. Kemudian Alun-alun Selatan, melambangkan masa muda yang penuh gejolak. Setelah itu, ada Siti Hinggil, tempat pematangan spiritual dan pendewasaan aqidah. Jika seseorang berhasil melewati tahapan ini dengan baik, maka ia akan sampai pada Alun-alun Utara, yang melambangkan keluasan hati dan kedewasaan berpikir.
Namun, perjalanan manusia tidaklah mulus. Ia akan menghadapi berbagai godaan duniawi:
Pasar Beringharjo sebagai simbol ujian harta.
Benteng Vredeburg melambangkan kekuatan asing yang mencoba menguasai Islam.
Kepatihan sebagai simbol godaan jabatan dan kekuasaan.
Pasar Kembang melambangkan nafsu duniawi.
Semua ini berujung pada Tugu Golong Gilig, simbol Tauhid dan akhir perjalanan manusia, di mana kelak setiap jiwa akan kembali kepada Allah. Sebagaimana firman-Nya:
ُูุซَุจِّุชُ ุงَُّููู ุงَّูุฐَِูู ุขู َُููุง ุจِุงَِْْูููู ุงูุซَّุงุจِุชِ ِูู ุงْูุญََูุงุฉِ ุงูุฏَُّْููุง َِููู ุงْูุขุฎِุฑَุฉِ
"Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh dalam kehidupan dunia dan di akhirat." (QS. Ibrahim: 27)
Sultan Yogyakarta memahami bahwa Islam harus menjadi landasan utama dalam kehidupan masyarakat. Oleh karena itu, pasar sengaja dibuat jauh dari keraton, agar kepentingan saudagar tidak mempengaruhi kebijakan Sultan, berbeda dengan sistem kapitalis saat ini. Konsep ini mirip dengan peradaban Islam klasik yang memisahkan kepentingan politik dari dominasi ekonomi.
Jogja dan Muhammadiyah: Merawat Islam di Tanah Jawa
Jogja juga menjadi tempat lahirnya gerakan Islam besar, Muhammadiyah, yang didirikan oleh Kiai Haji Ahmad Dahlan. Beliau bukan orang asing bagi Keraton Yogyakarta. Nama asli beliau, Muhammad Darwis, menunjukkan garis keturunan Arab, dan beliau masih memiliki hubungan kekerabatan dengan Keraton.
Saat penjajahan Belanda, misi kristenisasi begitu masif hingga banyak orang Jawa yang akhirnya murtad. Melihat kondisi ini, Kraton mendukung penuh usaha Kiai Ahmad Dahlan dalam membangun kembali kesadaran Islam. Maka, lahirlah Muhammadiyah, yang bukan hanya gerakan dakwah, tetapi juga gerakan tajdid (pembaharuan), yang mengajak umat kembali kepada Al-Qur'an dan Sunnah dengan semangat keilmuan.
Muhammadiyah memiliki peran penting dalam menjaga identitas Islam di Jawa. Namun, di sisi lain, Belanda tidak tinggal diam. Mereka menggunakan strategi halus untuk menjauhkan masyarakat dari Islam dengan menciptakan istilah "Islam Kejawen".
"Islam Kejawen": Propaganda Belanda untuk Melemahkan Islam
Istilah "Islam Kejawen" sejatinya adalah ciptaan kolonial Belanda. Tujuannya sederhana: membuat orang Jawa merasa bahwa Islam adalah ajaran asing, bukan bagian dari budaya mereka. Dari sinilah muncul istilah-istilah seperti ke-Arab-araban, Islam kadrun, hingga propaganda "cintai budaya sendiri, jangan Islam yang impor".
Padahal, Sultan Yogyakarta sendiri memiliki darah keturunan Arab, dan Islam telah menyatu dengan peradaban Jawa selama berabad-abad. Kalender Jawa pun selaras dengan Islam. Misalnya, dalam sistem penanggalan Jawa, hari pertama dalam sepekan disebut "Ahad", bukan "Minggu", sebagaimana dalam kalender Hijriah. Namun, setelah Belanda menguasai Nusantara, mereka mengganti banyak istilah untuk menghilangkan jejak Islam, hingga kini mayoritas orang Jawa lebih akrab dengan istilah "Minggu", bukan "Ahad".
Semua ini semakin diperparah setelah runtuhnya Khilafah Turki Utsmani pada tahun 1924. Setelah itu, gelombang Islamophobia semakin kuat, banyak sejarah yang dihapus, dan umat Islam dipecah-belah agar kehilangan kebanggaannya terhadap agamanya sendiri.
Allah telah memperingatkan dalam firman-Nya:
َُูู ุงَّูุฐِู ุฃَุฑْุณََู ุฑَุณَُُููู ุจِุงُْููุฏَٰู َูุฏِِูู ุงْูุญَِّู ُِููุธِْูุฑَُู ุนََูู ุงูุฏِِّูู ُِِّููู ََْููู َูุฑَِู ุงْูู ُุดْุฑَُِููู
"Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk dan agama yang benar untuk dimenangkan atas segala agama, walaupun orang-orang musyrik membencinya." (QS. At-Taubah: 33)
Jogja adalah saksi bahwa Islam telah menjadi ruh bagi peradaban Jawa. Upaya untuk menghapus jejak Islam di tanah Jawa hanyalah upaya sia-sia. Islam tidak perlu dibenturkan dengan budaya Jawa, karena keduanya telah menyatu sejak lama. Yang perlu disadari adalah bahwa musuh Islam selalu berusaha melemahkan umat dengan propaganda yang menyesatkan.
Maka, jika hari ini masih ada yang menolak Islam dengan alasan "cintai budaya sendiri", sadarilah bahwa mereka sedang terjebak dalam propaganda kolonial yang telah berjalan lebih dari seabad. Jogja tidak bisa dilepaskan dari Islam. Sejarahnya adalah bukti nyata bahwa Islam telah menjadi bagian tak terpisahkan dari tanah Jawa.
Kesan dan Pesan: Menuju Kebangkitan Islam di Tanah Jawa
Jogja adalah saksi bahwa Islam telah menjadi ruh bagi peradaban Jawa. Upaya untuk menghapus jejak Islam di tanah Jawa hanyalah upaya sia-sia. Islam tidak perlu dibenturkan dengan budaya Jawa, karena keduanya telah menyatu sejak lama. Yang perlu disadari adalah bahwa musuh Islam selalu berusaha melemahkan umat dengan propaganda yang menyesatkan.
Namun, sejarah juga mengajarkan bahwa kejayaan Islam tidak akan kembali tanpa perjuangan. Umat Islam harus kembali kepada Al-Qur'an dan Sunnah, serta meninggalkan paham sekularisme yang memisahkan agama dari kehidupan. Jogja telah membuktikan bahwa Islam adalah solusi bagi peradaban, sebagaimana yang dicontohkan oleh Kesultanan Islam terdahulu.
Semoga suatu hari nanti, umat Islam benar-benar bersatu dalam satu kepemimpinan Islam yang berdaulat, sebagaimana pernah dicontohkan oleh Rasulullah ๏ทบ dan para khalifah setelahnya. Khilafah Islamiyah bukan sekadar mimpi, melainkan janji Allah yang pasti akan terwujud.
Sebagaimana firman Allah:
َูุนَุฏَ ุงَُّููู ุงَّูุฐَِูู ุขู َُููุง ู ُِْููู ْ َูุนَู ُِููุง ุงูุตَّุงِูุญَุงุชِ ََููุณْุชَุฎََُِّْููููู ْ ِูู ุงْูุฃَุฑْุถِ َูู َุง ุงุณْุชَุฎََْูู ุงَّูุฐَِูู ู ِْู َูุจِِْููู ْ
"Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kalian dan yang mengerjakan kebajikan bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa." (QS. An-Nur: 55)
Semoga khilafah bisa kembali bangkit, sehingga umat Islam benar-benar bersatu di bawah satu panji. Saat itu tiba, tak ada lagi penjajahan pemikiran, tak ada lagi propaganda yang menyesatkan, dan Islam kembali menjadi rahmat bagi seluruh alam.
Takbir! Allahu Akbar!

Posting Komentar untuk "Jogja dan Khilafah: Jejak Peradaban Islam ing Tanah Jawa"