Seorang pengemban dakwah sekaligus mahasiswa yang kini tengah rariweuh dan repot menyusun skripsi tentu dituntut untuk bijak dalam memanajemen waktu. Di satu sisi, ia didera oleh kejaran deadline yang ketat agar draf tulisan bisa beres sampai BAB 5 sebelum tanggal 15 Agustus nanti, demi bisa mengikuti sidang gelombang terakhir. Namun di sisi lain, ia juga harus tetap aktif menjalankan tanggung jawabnya sebagai pengemban dakwah ideologis.
Kakinya tetap harus melangkah, kukurilingan keliling ke sana kemari, ngalor-ngidul ngètan-ngulon mengunjungi orang-orang yang sudah ia kenali semata-mata demi menunaikan agenda kontak dakwah. Seorang pejuang ideologis yang mampu berpikir pada level cemerlang (al-fikru al-mustanir) tidak akan pernah membentur-benturkan satu kewajiban dengan kewajiban lainnya.
Kuliah adalah amanah dan kewajiban menuntut ilmu, toh apalagi sudah didukung penuh dan dibiayai oleh orang tua sejak semester awal sampai semester akhir sekarang. Membahagiakan orang tua adalah keharusan. Namun di saat yang sama, aktivitas dakwah pun tetap menjadi kewajiban mutlak yang tidak boleh kendor. Kuncinya bukan dibentur-benturkan, melainkan dikelola dengan manajemen waktu yang bijak! Itulah esensi nyata dari menjadikan dakwah sebagai poros hidup, apa pun profesinya dan sepadat apa pun kesibukannya.
Integrasi Nilai Islam: Membidik Kemurnian Fitrah Sejak Dini
Lagipula, skripsi yang saat ini sedang penulis susun pun memiliki keterkaitan erat dengan aktivitas dakwah ideologis ini. Penelitian ilmiah ini penulis beri judul: "STRATEGI PEMBIASAAN RELIGIUS MELALUI INTEGRASI NILAI-NILAI PENDIDIKAN ISLAM UNTUK MEMBENTUK KARAKTER PESERTA DIDIK" (Penelitian di SD Negeri 4 Purwajaya, Kecamatan Purwadadi, Kabupaten Ciamis). Target penelitian di sini sengaja membidik anak-anak usia Sekolah Dasar (SD). Secara psikologis-ideologis, anak-anak seusia ini jiwanya cenderung masih murni dan bersih, sehingga menjadi momentum yang sangat gampang untuk diinternalisasikan tsaqofah-tsaqofah Islam yang kaffah.
Kondisi ini tentu berbeda jika dibandingkan dengan peserta didik yang sudah menginjak tingkat SLTA (SMA/MA/SMK), apalagi setingkat perguruan tinggi (mahasiswa). Pada fase itu, pola pikir mereka biasanya sudah terkontaminasi oleh berbagai pemikiran sesat dari Barat, pemahamannya sudah tidak murni lagi akibat bawaan kurikulum sekuler serta infiltrasi filsafat-filsafat Barat yang masuk ke ruang kelas. Maka, momentum skripsi ini adalah kesempatan emas saat nanti penulis terjun langsung melakukan penelitian di lapangan. Berbagai karakter peserta didik yang ditemukan akan menjadi laboratorium dakwah agar ide Islam lebih mudah diterima oleh mereka sejak dini.
Jika jujur bicara motif personal, alasan utama memilih lokasi penelitian di SDN 4 Purwajaya ini sebenarnya karena penulis merupakan alumni dari sekolah tersebut dan tinggal di kampung halaman itu. Namun, di dalam tradisi akademik, alasan subjektif seperti itu tentu haram dicantumkan. Secara ilmiah-objektif, lokasi SDN 4 Purwajaya di Desa Purwajaya ini memiliki posisi geografis yang sangat unik: terpencil namun sekaligus strategis.
Kampung halaman penulis di Dusun Pancalan, Desa Purwajaya, Kecamatan Purwadadi, Kabupaten Ciamis ini terletak tepat di ujung ekor wilayah Kabupaten Ciamis, sekaligus menjadi tapal batas ujung provinsi Jawa Barat. Di sebelah barat dan selatan, wilayah ini langsung berbatasan dengan Kabupaten Pangandaran. Sementara di sebelah timur, hanya dengan melintasi aliran Sungai Citanduy, kita sudah menginjakkan kaki di wilayah Kabupaten Cilacap, Provinsi Jawa Tengah.
Akibat posisi geopolitik tersebut, di kampung halaman penulis dan SDN 4 Purwajaya ini terjadi akulturasi budaya yang kuat antara kebudayaan Sunda (asli Jawa Barat) dan kebudayaan Jawa (identik Jawa Tengah). Hal ini memengaruhi cara komunikasi peserta didik sehari-hari yang sangat beragam; sebagian menggunakan bahasa Sunda dan sebagian lagi fasih berbahasa Jawa. Keunikan sosiologis inilah yang diangkat menjadi alasan akademik yang kuat dalam penelitian.
Di dalam Islam, keberagaman suku dan bahasa seperti ini diakui secara legal sebagai bagian dari sunatullah yang bertujuan agar manusia saling mengenal, sebagaimana firman Allah SWT:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ
"Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal." (TQS Al-Hujurat: 13).
Melawan Arus Relativisme Kebenaran di Dunia Akademik
Melalui karya ilmiah ini, penulis ingin menegaskan sebuah prinsip: skripsi ini bukan sekadar formalitas pragmatis demi mengejar selembar ijazah gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd) belaka! Meraih gelar itu bagus, namun tujuan paling utama dan fundamental adalah menjadikannya sebagai sarana dakwah politik-pendidikan. Ini adalah ikhtiar taktis dalam rangka menyelamatkan umat dari keterpurukan sistemik yang terjadi hari ini akibat dicampakkannya syariat Islam dari panggung kekuasaan.
Dampaknya sudah kita rasakan bersama: biaya pendidikan melambung mahal, harga kebutuhan pokok melesat tinggi, dan para pejabatnya bukannya sibuk memberikan solusi konkret melainkan ugal-ugalan melakukan korupsi. Bahkan pemimpinnya dengan enteng menyuruh rakyatnya keluar negeri jika tidak tahan dengan kondisi di dalam negeri. Haduh, ripuh-ripuh!
Maka, momentum menyusun skripsi ini harus dijadikan bahan bakar penyemangat, bukan malah dianggap beban pelumpuh dakwah yang hukumnya sama-sama wajib. Harapannya, karya ilmiah ini dapat membawa kemaslahatan bagi penulis selaku peneliti, maupun bagi masyarakat luas selaku pembaca.
Meskipun bermuatan ideologis, draf tulisan ini tetap dikemas secara rapi menggunakan bahasa akademik yang ketat sesuai dengan panduan baku kampus. Kita harus menyadari realitas bahwa dunia akademik hari ini sangat sensitif jika mendengar kata "Khilafah" atau hal-hal yang mengkritik arah politik negara. Begitulah potret nyata dari sistem Kapitalisme-Sekuler yang hari ini telah menjamur dan mengakar gurita di tengah-tengah perguruan tinggi, sekalipun itu kampus yang berlabel Islam.
Materi skripsi ini tetap dikemas secara ideologis-objektif. Menurut arahan dosen pembimbing, penggunaan istilah-istilah ideologis seperti "Sekulerisme" atau "Liberalisme" sebenarnya sah-sah saja untuk dicantumkan. Catatannya adalah saat sidang nanti, penulis harus mampu mempertanggungjawabkannya secara argumentatif, ilmiah, dan berbasis data empiris agar tidak terkesan sebagai opini liar atau sekadar membela kepentingan kelompok tertentu. Saking sekuler dan liberalnya dunia akademik saat ini, kebenaran sejati pun sering kali diklaim secara sepihak sebagai hal yang relatif, bukan absolut. Menghadapi ujian pemikiran ini, seorang pengemban dakwah harus tetap sabar, menjaga api semangat, dan menikmati proses perjuangan ini dengan mental kesatria, bukan mental pundungan (mudah mogok/ngambek)!
PENUTUP: Ikhtiar Menjemput Rida-Nya, Bukan Budak Sistem
Sebelum mengakhiri catatan ini, penulis memohon maaf yang sebesar-besarnya kepada para pembaca sekalian. Buletin ideologis yang seharusnya penulis rilis tadi subuh ini terpaksa baru bisa rapi dan disebarluaskan pada Selasa malam Rabu ini. Meskipun beresnya telat akibat penulis sedang dikejar target penyusunan skripsi, namun nuansa buletin subuh dan syiar dakwah tidak boleh mati dan harus tetap berjalan. Harap dimaklumi, saat ini progres tulisan penulis baru sampai pada BAB 3 bagian Metodologi Penelitian, yang memuat instrumen riset yang akan diterjunkan langsung di SDN 4 Purwajaya pada hari Kamis atau Jumat besok. Sedangkan pelaksanaan sidang skripsi dijadwalkan pada hari Sabtu, 15 Agustus 2026 mendatang.
Oleh karena itu, penulis memohon dengan tulus untaian doa dari para pembaca nggih... Semoga penulis diberikan kelancaran, kemudahan, dan keberkahan dalam menyelesaikan studi akhir ini. Target dari raihan gelar ini semata-mata adalah demi menopang keberlanjutan aktivitas dakwah ini, bukan demi memperkaya diri sendiri atau golongan. Bukan pula demi mengejar karier pragmatis yang ujung-ujungnya hanya menjerumuskan diri menjadi budak sistem Kapitalisme-Sekuler. Bukan, bukan itu!
Usai beres studi ini, penulis akan terjun mengajar sebagai guru honorer insyaallah di sekolah dasar tersebut, sembari mengumpulkan modal rezeki yang tidak seberapa. Jika Allah mengizinkan dan meridai di kemudian hari, semoga ada jalan untuk diangkat menjadi P3K atau PNS. Posisi itu tidak akan pernah dijadikan tempat mencari kemapanan egois, melainkan murni sebagai ushlub taktis agar jalan dakwah Islam kaffah menjadi semakin mudah, sembari membahagiakan orang tua dan meraih rida Allah SWT.
Tetap merapat dalam barisan perjuangan!
Allahu Akbar!
Wallahu a'lam bishowab [].


Posting Komentar untuk "MENYUSUSUN SKRIPSI YANG IDEOLOGIS DEMI MENCETAK PERADABAN YANG MAMPU BERPIKIR KRITIS❗🧠🔥"