Apapun profesi hidupmu saat ini dinten iki, apakah engkau seorang pelajar, mahasiswa, pekerja pabrik, buruh, pegawai swasta, guru sekolah, PNS, ASN, P3K, atau bahkan seorang pelaku usaha mandiri dan pedagang kecil—mulai dari tukang cilok, tukang sayur keliling, pemilik warung, hingga penjual gorengan, bahkan para petani yang setiap fajar harus macul (mencangkul) ke sawah—selama mata pencaharian tersebut berstatus halal sesuai koridor hukum syara', SAMA SEKALI TIDAK ADA ALASAN BAGI DIRIMU UNTUK MENINGGALKAN AKTIVITAS DAKWAH! Dakwah menyerukan penerapan syariat Islam secara menyeluruh (kaffah) bukanlah monopoli atau tugas eksklusif bagi segelintir orang yang berlabel ahli agama saja; seperti para kiai sepuh, ustadz kondang, gus, ajengan pesantren, ataupun ulama formal.
Setiap individu muslim yang telah melisankan ikrar dua kalimat syahadat secara otomatis memikul kewajiban melekat untuk melakukan aktivitas dakwah politik dan pemikiran (shira'ul fikri) guna merubah kemungkaran struktural di sekitarnya. Rasulullah saw ﷺ telah mematok dasar kewajiban penyampaian risalah ini secara tegas: "Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat!" Sahabat Ali bin Abi Thalib karramallahu wajhah juga mengingatkan sebuah kaidah berpikir yang cemerlang: "Janganlah engkau melihat siapa yang menyampaikan, tetapi dengarkanlah apa yang ia sampaikan."
Tatkala ada seorang tukang kopi di angkringan jalanan menyampaikan ide-ide Islam politik yang ideologis—seperti kewajiban mencopot sistem demokrasi dan beralih pada hukum Allah Swt ﷻ—maka hujah tersebut wajib diambil dan diperjuangkan! Sebaliknya, bisa saja ada seorang tokoh agama senior, penampilannya meyakinkan, namun pemahaman agamanya mandeg dan dipenjara oleh cara pandang sekuler; memahami Islam hanya sebatas urusan ibadah ritual individu, akhlak, dan tata cara wudhu-shalat saja. Urusan siyasah muamalah publik mereka depak keluar dari mimbar khotbah.
Kerusakan Akidah dan Moralitas: Tamparan Bagi Pemahaman Islam Parsial
Realitas di lapangan telah membongkar kebusukan cara pandang parsial tersebut. Kita sering kali dikagetkan dengan berita miris mengenai adanya oknum pengasuh pondok pesantren atau lembaga pendidikan Islam yang tega melakukan aksi pencabulan struktural terhadap para santriwatinya. Apakah tindakan keji tersebut lahir karena si oknum tidak paham hukum haramnya zina? Tentu saja mereka sangat paham teorinya! Namun, masalahnya adalah mereka memahami Islam secara terpotong-potong layaknya menu hidangan prasmanan—hanya mengambil hukum yang dirasa enak dan menguntungkan syahwatnya, serta membuang hukum yang dirasa berat.
Banyak beberapa oknum kiai atau ajengan saat ini yang gagap dan buta total ketika diajak bicara mengenai sistem politik Islam. Mereka sangat mudah disuap, bungkam seketika saat diberi amplop cokelat tebal atau diiming-imingi fasilitas duniawi oleh penguasa dzalim, sehingga mimbarnya mandul; hanya berani membahas masalah shalat, puasa, wudhu, dan kesalehan individu, tanpa berani membongkar kebatilan undang-undang thaghut demokrasi yang sedang memeras rakyat kecil.
Oleh karena itu, sesibuk apa pun aktivitas keduniawianmu, hal itu jangan pernah dijadikan sebagai tameng pembenaran untuk melarikan diri dari saf perjuangan dakwah ini! Sekalipun engkau adalah seorang mahasiswa semester akhir yang saat ini kepalanya sedang riweuh (pusing) luar biasa menyusun skripsi, laptop sering macet dan lemot, uang semesteran nunggak banyak, sementara teman-teman seangkatan sudah pada maju sidang munaqasyah dan lulus sejak bulan Juni atau Juli ini. Ditambah lagi beban psikologis karena dirimu masih tertahan harus bolak-balik bimbingan mengejar target agar bulan Agustus besok bisa beres ikut gelombang sidang terakhir. Rangkaian kendala akademis dan finansial tersebut sama sekali tidak boleh dijadikan alasan untuk absen dari dakwah!
Mari kita gunakan akal sehat secara kritis. Apakah mereka yang sudah berhasil lulus kuliah lebih awal itu secara otomatis memiliki kontribusi nyata terhadap perjuangan menegakkan syariat Islam kaffah? Faktanya, rata-rata TIDAK SAMA SEKALI! Orientasi berpikir mereka setelah lulus dari kampus Islam sekalipun kebanyakan langsung mengkerut pada pragmatisme materi: bagaimana caranya agar cepat mengajar di sekolah, cepat dapat SK PNS, ASN, atau P3K, lalu setiap bulan menerima gaji tetap. Memang itu tujuan yang bagus, namun apakah cita-cita hidup sebagai muslim hanya mentok sampai di balik meja kerja saja? Apakah tidak ada sedikit pun dorongan pemikiran di dalam dadanya untuk menjadikan profesi gurunya kelak sebagai wadah strategis (ushlub) untuk menyuburkan pemikiran Islam politik ke dalam benak anak didiknya agar dakwah ini berjalan lebih mudah? Jelas tidak kepikiran! Ini adalah bukti bahwa kurikulum pendidikan sekuler telah sukses mencetak generasi robot yang egois.
------------------------------
Gerakan TBC (Teu Bisa Cicing): Merajut Ikatan Akidah Lintas Suku Budaya dan Wilayah
Di tengah lingkaran kesibukan kuliah dan menyusun skripsi yang menguras tenaga, seorang mustanir sejati tidak akan pernah sudi membiarkan roda dakwahnya mandeg. Kita harus mengadopsi karakter gerakan TBC (Teu Bisa Cicing) alias tidak bisa diam berpangku tangan melihat kerusakan umat berjalan legal. Meskipun penulis sendiri merupakan orang Jawa tulen yang memiliki logat bicara medok, namun karena diikat oleh persamaan akidah yang satu—yaitu akidah Islam kaffah—penulis mampu membaur secara lebur, bersilaturahmi, dan merajut kedekatan emosional dengan masyarakat Priangan di Jawa Barat yang notabenenya bersuku Sunda khususnya di Ciamis dan sekitarnya. Mahasiswa sejati bukanlah kaum akademisi menara gading yang hanya mengejar IPK tinggi dan materi duniawi, melainkan mereka yang mau terjun bersilaturahmi berbaur bersama umat untuk membongkar realitas bahwa kondisi peradaban hari ini sedang berada dalam kondisi yang rusak parah!
Kerusakan sistemik tersebut dapat kita indra secara gamblang dengan mata kepala kita sendiri setiap harinya:
* Praktik korupsi struktural massal oleh para oknum pejabat penguasa.
* Peluncuran program-program pemerintah yang tidak jelas arah hulu-hilirnya; mulai dari sengkarut korupsi dana Makan Bergizi Gratis (MBG) hingga kontroversi kebijakan Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih.
* Kondisi umat yang sengaja diselimuti oleh kabut kebodohan ideologis, kemiskinan struktural, meledaknya angka pengangguran, hingga merebaknya wabah perzinaan bebas di mana-mana.
Puncaknya, yang paling mengerikan dinten iki adalah mewabahnya penyimpangan perilaku kaum LGBT. Berdasarkan data resmi, Provinsi Jawa Barat saat ini memegang rekor tertinggi kasus LGBT di seluruh Indonesia! Dan jumlah kasus penyimpangan abnormal ini terus membengkak setiap harinya karena adanya pembiaran sistemik dari negara yang dilabeli dengan dalih penegakan HAM Barat. Pihak MUI dan pemerintah sampai detik ini belum mampu menemukan solusi sanksi hukum yang menjerakan karena mereka tersandera oleh konstitusi hukum demokrasi sekuler yang cacat sejak lahir.
Lantas, pertanyaannya yang menusuk jantung keimanan kita: Apakah hanya karena dalih kesibukan kuliah, kesibukan kerja, atau kesibukan mencari nafkah, kita akan terus bersikap cuek, abai, dan membiarkan seluruh kebiadaban ini terjadi di depan mata? Ingatlah, kelak di hadapan mahkamah agung Allah Swt ﷻ, seluruh helai napas dan diamnya kita akan dihisab secara presisi! Sudah punya hujah dan jawaban apa yang telah kita siapkan untuk membela diri di hadapan-Nya besok?
------------------------------
Konsep Mutasi Halaqah: Tidak Ada Sekat Geografis di Dalam Dakwah Ideologis
Alasan geografis atau perpindahan tempat tinggal juga sering kali dijadikan sebagai alibi bagi para jemaah yang mulai luntur semangatnya setelah lulus kuliah untuk berhenti ngaji. Seseorang yang mulanya dibina dan mengkaji Islam kaffah di perantauan kota Ciamis sejak tahun 2024 hingga tahun 2026 sekarang, tatkala masa studinya (kuliahny selesai (2022-2026) dan ia harus kembali ke kampung halamannya yang belum tersentuh opini Islam ideologis, apakah ia boleh memutuskan berhenti berdakwah? Tentu saja haram hukumnya! Di dalam kamus gerakan partai politik Islam global (kutlah siyasi), tidak dikenal adanya istilah pensiun atau berhenti dakwah karena faktor pindah daerah. Kecuali lah jika Allah sudah memanggil kita untuk kembali pada-Nya (ajal) itu baru bisa kita katakan pensiun dari perjuangan dakwah ini. Solusi syar'inya sangat mudah: tinggal lakukan koordinasi komunikasi dengan struktur jemaah setempat untuk melakukan Mutasi Halaqah ke wilayah terbaru!
Di mana pun posisi geografismu berada, di situlah medan tempur pemikiranmu ditempatkan! Menjadi seorang pengemban dakwah berkarakter TBC (Teu Bisa Cicing) mengharuskan kita aktif bergerak menjajah opini publik. Ketika berada di Ciamis karena urusan merantau kuliah, gerakkan masjid-masjidnya, tempat-tempat yang pernah kau jajah seperti tempat bekas KKN dulu dll.. Ketika sedang pulang/main ke Yogyakarta, manfaatkan momentum nongkrong di angkringan jalanan untuk berdiskusi politik Islam bersama para pemuda Jogja. Ketika sedang bergeser pula ke Bandung, tiupkan pula opini syariat Islam kaffah ke tengah jemaah. Kita jadikan setiap jengkal wilayah perlintasan kita sebagai basis syiar ilmu. Dimanapun itu!.
Strategi taktis (ushlub dakwah) wajib dijalankan secara cerdas dan berkesinambungan sepekan sekali atau sebulan sekali. Kita datangi masjid-masjid jemaah, kita jalin silaturahmi dengan para tokoh kiai dan ajengan setempat dengan membawa media selembaran Buletin Kaffah. Bahkan, kita bisa menggunakan pendekatan humanis yang unik; meskipun kita pribadi tidak merokok, namun ketika memimpin acara tahlilan atau doa bersama di tengah masyarakat lalu mendapatkan berkat atau sebungkus rokok Jarcok (Jarum Coklat), yo tek tompo wae (terima saja dengan senang hati). Kita jadikan rokok sebungkus tersebut sebagai "senjata taktis" untuk membuka obrolan santai, mencairkan suasana saat ngelas (kontak) dengan para tokoh kiai, ajengan, santri, maupun gerombolan anak muda di pos ronda agar mereka tertarik mengkaji Islam secara mendalam.
------------------------------
Menyikapi Benturan Kewajiban: Menakar Investasi Surga yang Unlimited
Kuliah menyelesaikan skripsi memang sebuah kewajiban akademis yang harus diselesaikan secara bertanggung jawab. Begitu pula dengan bekerja mencari nafkah untuk anak/istri (bagi yg sudah menikah), atau demi melunasi sisa-sisa utang cicilan riba ke bank masa lalu, itu juga merupakan kewajiban syar'i yang harus dituntaskan. Namun, seorang pengemban dakwah ideologis yang memiliki taraf berpikir cemerlang (mustanir) tidak akan pernah bersikap kekanak-kanakan dengan cara membentur-benturkan antara perkara wajib yang satu dengan perkara wajib yang lain! Ketika ada perkara wajib bertemu dengan wajib, cara menyikapinya adalah dengan bijak mengatur manajemen waktu skala prioritas, bukan malah mendepak aktivitas dakwah keluar dari jadwal harian kita!
Umat Islam tidak boleh bersikap egois dan cuek hanya memikirkan keselamatan dirinya sendiri. Jika kita memilih pasif dan hanya fokus pada ibadah individu, bisa saja secara teori kita masuk surga, namun akibat dosa investasi mendiamkan kemungkaran struktural, boleh jadi kita harus rela transit dan mampir terlebih dahulu ke dalam neraka! Padahal, siksaan neraka yang paling ringan saja sudah sangat kebayang gimana ngerinya—yaitu tatkala kaki menginjak sekerat kerak api neraka, seketika itu juga isi otak kepala langsung mendidih dan mengegolak hancur! Naudzubillahi min dzalik! Maka dari itu, jangan pernah sekalipun menganggap remeh aktivitas dakwah amar makruf nahi munkar ini.
Allah Swt ﷻ memberikan hujah yang mutlak mengenai kewajiban dakwah sebagai poros utama perkataan terbaik manusia:
وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ
Dan siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan kebajikan, dan berkata, "Sungguh, aku termasuk orang-orang yang muslim (berserah diri)?" (TQS Fussilat: 33)
------------------------------
Penutup
Aktivitas dakwah ini jika dihitung secara matematis akal manusa yang terbatas memang menuntut adanya banyak pengorbanan; mulai dari pengorbanan waktu istirahat, kuras tenaga, hingga pengorbanan harta benda yang tidak sedikit. Namun, di hadapan Allah Swt ﷻ, segala bentuk nominal rupiah yang kita korbankan itu nilainya sangatlah kecil dan tidak ada apa-apanya! Balasan yang telah Allah Swt ﷻ siapkan bagi para penolong agama-Nya adalah investasi pahala yang unlimited (tanpa batas) serta hadiah agung berupa Jannah yang kenikmatannya tidak akan pernah bisa dibayangkan oleh logika manusa. Kemewahan dunia, harta berlimpah, jabatan kekuasaan, atau gaji jutaan, miliaran bahkan triliunan rupiah milik para budak kapitalis dinten iki sungguh tidak ada harganya seujung kuku pun jika dibandingkan dengan keberhasilan meraih ridho Allah Swt ﷻ.
Mari kita buang jauh-jauh segala bentuk alasan defensif dan malas, luruskan kembali niat kita semata-mata hanya untuk menggapai ridho-Nya, dan teruslah konsisten melangkah membagikan buletin subuh ini ke tengah umat. Jadikan seluruh sisa umur kita sebagai saksi perjuangan dakwah politik hingga syariat Islam kembali tegak memimpin peradaban dunia di bawah payung Daulah Khilafah Islamiyah.
Wallahu a'lam bishowab. []
------------------------------
Informasi Penerbitan Resmi:
Buletin Dakwah Kaffah — Edisi Sabtu Pon, 11 Shafar 1448 H / 25 Juli 2026 M
Dirangkum oleh: Aldy al-Jawi (Aktivis ☕) — Syabab Ciamis
Diselaraskan dumasar kalyan Katetapan Resmi Kalender Islam Global Tunggal
------------------------------



Posting Komentar untuk "TIDAK ADA ALASAN UNTUK MENINGGALKAN AKTIVITAS DAKWAH: APAPUN PROFESINYA, APAPUN KESIBUKANNYA, DIMANAPUN POSISINYA BERADA‼️"