TETAP SEMANGAT DI REL YANG SEPI PEMINAT


Tulisan ini secara jujur ditujukan khusus untuk menampar dan memotivasi diri saya sendiri selaku penulis, serta kepada panjenengan semua selaku pembaca, khususnya para pengemban dakwah ideologis, dan umumnya bagi seluruh kaum muslimin yang rindu akan tegaknya syariat. Kita membutuhkan suntikan energi ruhiyah yang besar agar api keistiqamahan ini tidak padam di tengah jalan. Sebagaimana filosofi kereta api yang kita bedah kemarin, rahasia keselamatan dan ketepatan waktu sebuah rangkaian gerbong yang ditarik oleh lokomotif adalah rodanya yang wajib selalu fokus, tunduk, dan menempel ketat di atas jalurnya, yaitu rel baja. Jika roda tersebut nekat keluar dari lintasan rel itu, maka anjlok dan kehancuran adalah sebuah keniscayaan yang mutlak.

Tidak hanya urusan rel, di dalam dunia perkeretaapian juga dikenal adanya sistem persinyalan yang sangat ketat dan presisi. Ketika seorang masinis berani meremehkan atau tidak patuh terhadap aspek lampu sinyal yang menyala atau rambu-rambu berupa simbol-simbol yang dikenal dengan istilah "semboyan" maka malapetaka berupa tabrakan hebat antar-kereta (head-on collision) pasti akan meledak di lapangan. Begitupun kita sebagai manusia, sebagai makhluk yang lemah dan terbatas, Allah Swt ﷻ telah menurunkan sebuah "sistem persinyalan dan jalur rel" kehidupan yang sangat sempurna serta paripurna, yaitu aturan Syariat Islam. Menolak diatur oleh syariat-Nya dan nekat membuat aturan hukum sendiri melalui sistem demokrasi sekuler adalah bentuk ketakaburan yang nyata, yang terbukti telah mengakibatkan tabrakan beruntun berupa hancurnya moral peradaban, korupsi struktural, dan kesempitan hidup (ma'isyatan dhanka).



Realitas Piramida Umat: Menatap Jalan Dakwah yang Sunyi

Jika kita melihat realitas sosiologis hari ini, kita harus berani menatap fakta dengan mata terbuka: Jalan dakwah ideologis untuk menegakkan Islam kaffah ini adalah jalan yang sepi peminat! Siapa sih yang hari ini tertarik bicara politik Islam, kewajiban Khilafah, atau meruntuhkan sistem kapitalisme? Sangat sedikit! Sebagaimana anatomi masyarakat yang baru saja kita bedah dalam Kajian OBSESI semalam, komposisi terbesar di dalam masyarakat kita didominasi oleh Orang Awam (70%). Mereka adalah tipe kelompok mayoritas yang memiliki kecenderungan ideologi mengambang, bersikap cuek, bodo amat, tidak tahu, dan bahkan tidak mau tahu tentang problem sistemik yang menjajah negaranya. Selama urusan isi perut mereka aman dan sejahtera, mereka tidak akan peduli sistem hukum apa yang sedang mengendalikan mereka.

Meskipun kuantitas orang awam ini sangat melimpah dan sering kali bersikap acuh tak acuh, bukan berarti kita selaku pengemban dakwah memilih ikut-ikutan cuek atau mogok tidak mau mendakwahi mereka. Mboten pareng! Mereka justru adalah objek dakwah riil yang wajib kita sentuh pemikirannya secara maksimal, konsisten, dan kontinu. Kita tidak boleh bekerja dengan ritme yang leha-leha atau sekadar hangat-hangat tahi ayam.

Memang betul secara akidah, masalah hasil akhir atau kapan kemenangan Islam itu akan mewujud adalah mutlak hak prerogatif dan urusan di tangan Allah Swt ﷻ, namun yang wajib kita maksimalkan di dunia ini adalah kualitas proses usaha dakwah kita! Kita wajib meniru totalitas thariqah tahapan dakwah Rasulullah saw ﷺ yang bergerak secara bertahap, mulai dari pembinaan (tatsqif) di jero halaqah hingga berinteraksi merubah opini masyarakat (tafa'ul ma'al ummah). Perjuangan ini memang tidak segampang membalikkan telapak tangan, butuh proses yang panjang, yang di dalam falsafah Jawa dikenal dengan prinsip: alon-alon waton kelakon—bergerak sabar, telaten, bertahap, namun konsisten melaju di atas rel kebenaran tanpa pernah patah arang.

------------------------------

Melawan Stigma "Nanaonan" & Larangan Menjadi Saleh "Sosoranganan"

Di tengah masyarakat yang sudah akut terjangkit virus sekulerisme, seorang pengemban dakwah harus memiliki mentalitas baja yang tahan banting. Kita tidak boleh menjadi egois dengan memilih menjadi orang saleh secara sendirian (soleh sosoranganan). Islam melarang kita bersikap individualis. Kita dituntut wajib mengajak orang lain (ngajak batur) menuju jalan ketaatan, ya meskipun pada kenyataannya, batur anu diajakna teh hese kacida, hese pisan (orang yang diajak itu sangat susah sekali, keras kepala, dan kaku pikirannya).

Akibat dari vokal-nya kita menyuarakan syariat, tidak jarang aktivitas dakwah kita ini dipandang sebelah mata, dicibir, dan dihujani dengan berbagai kalimat stigmatisasi yang menyakitkan telinga. Sering kali ada orang yang berujar sinis: "Nanaonan sih merjuangin yang kayak gitu? Euweuh gawe pisan (kurang kerjaan)!" "Memperjuangkan syariat kaffah di zaman sekarang itu gak mungkin, dasar tukang ngimpi!" "Halu kamu, ketinggian angan-angan!" "Daripada capek-capek mikirin negara, mending fokus ibadah pribadi saja, fokus kerja cari uang, fokus kuliah biar cepet lulus dapet ipk gede, atau fokus nafkahin anak istri!"

Begitulah rata-rata paradigma pragmatis-materialistik yang sedang mengunci kotak berpikir mayoritas masyarakat kita hari ini. Ucapan dan cemoohan semacam itu memang terasa menyakitkan dan menguji kesabaran hati. Namun gapapa, kita tidak boleh larut dalam kesedihan yang melemahkan iman. Baginda Rasulullah saw ﷺ jauh-jauh hari sudah memberikan nubuat dan kabar gembira mengenai akan datangnya era Al-Ghuroba—yaitu kondisi asingnya ajaran Islam yang murni di tengah-tengah umatnya sendiri pada akhir zaman. Orang yang memegang teguh syariat kaffah akan dianggap aneh dan asing, namun merekalah hamba-hamba pilihan yang mendapatkan ucapan selamat dari nabi.

Menjadi kaum yang terasing (Al-Ghuroba) bukan berarti membuat kita bertindak eksklusif, menutup diri, anti-sosial, atau tidak mau terbuka berinteraksi dengan masyarakat sekitar. Justru sebaliknya, kita harus tetap berpikiran terbuka (mustanir), ramah, dan selalu mendakwahi mereka dengan penuh kasih sayang, sekalipun lisan mereka kadang melontarkan kalimat yang melukai idealisme perjuangan kita.

------------------------------

Janji Allah yang Pasti: Menolong Agama-Nya Demi Mengokohkan Langkah Perjuangan

Bagi para syabab pengemban dakwah yang saat ini sedang terseok-seok mengayuh roda halaqah di jalur rel yang sepi peminat, kuatkanlah kembali orientasi akidah kita. Kita wajib menaruh keyakinan yang bulat bahwa janji pertolongan Allah Swt ﷻ adalah sebuah kepastian hukum yang mutlak, yang tidak boleh diragukan walau seujung kuku. Ketika kita mengorbankan waktu kuliah kita, mengorbankan sisa harta, pikiran, dan tenaga kita untuk ikut serta dalam saf perjuangan dakwah politik meruntuhkan sistem kapitalisme sekuler ini, maka pada hakikatnya kita sedang mendaftarkan diri sebagai penolong agama Allah Swt ﷻ.

Gusti Allah Swt ﷻ memberikan jaminan investasi pahala dan pengokohan langkah kaki yang sangat presisi bagi para penolong agama-Nya:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا اِنْ تَنْصُرُوا اللّٰهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ اَقْدَامَكُمْ

Wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. (TQS Muhammad: 7)

Ayat ini adalah garansi teologis yang nyata. Allah Swt ﷻ tidak membutuhkan bantuan kekuatan dari makhluk-Nya, namun yang dimaksud "menolong Allah" di sini adalah sejauh mana komitmen totalitas kita dalam memperjuangkan agar hukum-hukum syariat-Nya kembali tegak memimpin dunia. Jika kita konsisten berdiri di atas rel dakwah ini, maka Allah Swt ﷻ yang akan turun tangan langsung untuk memberikan kelapangan rezeki, mengokohkan kedudukan mental kita dari penyakit futur, serta memberikan ketenangan jiwa yang tidak akan pernah bisa dibeli oleh nominal gaji jutaan rupiah milik para budak sistem kapitalis.

------------------------------

Penutup

Berada di atas lintasan rel dakwah yang sepi peminat adalah sebuah kehormatan iman yang sangat mahal harganya. Kita tidak boleh mundur atau anjlok hanya karena silau melihat jutaan orang awam yang memilih hidup nyaman di bawah ketiak sistem kapitalisme sekuler. Lulus kuliah cepat, memiliki gaji besar karena kerja di luar negeri, atau sukses meraih jabatan kekuasaan di dalam sistem demokrasi adalah sebuah kesia-siaan yang mandul jika di dalam dadanya tidak ada ruh Idrakus Shilah Billah (kesadaran hubungan dengan Allah Swt ﷻ).

Lebih baik kita menikmati setiap jengkal proses didikan halaqah yang berlelah-lelah ini, asalkan setiap helai napas kita berada dalam koridor aktivitas yang diridoi-Nya. Mari buang jauh-jauh rasa malas, satukan pemikiran dan perasaan kita di jero jemaah dakwah politik ini, dan teruslah konsisten melaju menggerakkan umat menuju tegaknya kembali syariat Islam secara kaffah di bawah naungan Daulah Khilafah Islamiyah yang akan mengibarkan panji tauhid ke seluruh penjuru dunia.

Wallahu a'lam bishowab. []

------------------------------

Informasi Penerbitan Resmi:

Buletin Dakwah Kaffah — Edisi Jum'at Pahing, 10 Shafar 1448 H / 24 Juli 2026 M

Dirangkum oleh: Aldy al-Jawi (Aktivis ☕) — Syabab Ciamis

Diselaraskan dumasar kalyan Katetapan Resmi Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT)

------------------------------


Posting Komentar untuk "TETAP SEMANGAT DI REL YANG SEPI PEMINAT"