Menjadi seorang penguasa di dalam tatanan kehidupan sekuler hari ini dipandang sebagai sebuah pencapaian kasta tertinggi yang diperebutkan dengan segala macam cara, trik licik, hingga suap-menyuap lewat amplop serangan fajar. Manusia begitu silau dengan megahnya kursi jabatan dan fasilitas protokoler, namun mereka buta total terhadap beban hisab yang menanti di balik singgasana tersebut. Bagi siapa saja yang mau menggunakan akal sehatnya secara cemerlang (al-fikr al-mustanir), sesungguhnya posisi pemimpin yang zalim—yaitu mereka yang menolak memutuskan perkara manusia berdasarkan apa yang diturunkan oleh Allah Swt ﷻ—adalah posisi paling mengerikan dan paling berat pertanggungjawabannya kelak di hari kiamat.
Kengerian status teologis bagi para penguasa sekuler ini tidak main-main. Di dalam Kitab Suci Al-Qur'an, khususnya pada surat Al-Ma'idah, Allah Swt ﷻ memberikan vonis dan sindiran hukum yang sangat keras, tidak tanggung-tanggung hingga diulang sebanyak tiga kali berturut-turut. Allah Swt ﷻ menegaskan secara mutlak bahwa para penguasa yang mencampakkan syariat Islam dan lebih memilih memimpin menggunakan undang-undang buatan manusia masuk ke dalam tiga kategori mengerikan: mereka divonis sebagai orang-orang yang Kafir, orang-orang yang Zalim, dan orang-orang yang Fasik.
Allah Swt ﷻ memberikan ketetapan hukum yang mutlak dalam tiga ayat beruntun tersebut:
وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ ... الظَّالِمُونَ ... الْفَاسِقُونَ
Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itulah orang-orang yang kafir... orang-orang yang zalim... orang-orang yang fasik. (TQS Al-Ma'idah: 44, 45, 47)
------------------------------
Hilangnya "Idrakus Shilah Billah": Ketika Penguasa Kehilangan Ruh Kehidupan
Imbas langsung dari kedzaliman struktural akibat dicampakkannya syariat Islam secara kaffah ini sangat nyata dirasakan oleh rakyat kecil (wong cilik) di sekeliling kita saat ini. Kita dipaksa menyaksikan para oknum pejabat bebas melakukan korupsi secara ugal-ugalan dan berjamaah tanpa ada rasa bersalah sikit pun, menaikkan harga kebutuhan pokok dan sembako secara sepihak, hingga mencekik leher rakyat leutik melalui berbagai macam pungutan ilegal, iuran wajib, dan tarikan pajak yang zalim. Mengapa kerusakan moral di tingkat elit ini bisa terjadi secara masif dan legal? Jawabannya adalah karena hilangnya ruh di dalam diri para penguasa tersebut.
Umat harus faham secara mendalam mengenai definisi "ruh" di dalam pandangan Islam yang ideologis. Ruh yang dimaksud di sini bukanlah sirrul hayah (rahasia kehidupan/nyawa biologis yang membuat jantung berdenyut), melainkan Idrakus Shilah Billah—yaitu kesadaran yang radikal dan menghujam tentang hubungan manusia dengan Sang Pencipta, Allah Swt ﷻ. Ketika seorang pemimpin memiliki Idrakus Shilah Billah, ia akan selalu berjalan dengan kesadaran penuh bahwa setiap helikopter kebijakan yang ia tanda tangani, setiap undang-undang yang ia sahkan, selalu diawasi secara melekat oleh Allah Swt ﷻ dan akan dimintai pertanggungjawaban mutlak di akhirat.
Namun, sistem demokrasi sekuler kapitalistik hari ini secara mekanis bertindak membunuh ruh tersebut. Sistem saat ini memisahkan agama dari politik negara, sehingga melahirkan para pemimpin mati rasa yang tidak pernah merasa diawasi oleh Sang Pencipta. Akibatnya, mereka kehilangan kompas moralitas ketuhanan. Praktik korupsi massal—seperti yang baru-baru ini terjadi pada anggaran program Makan Bergizi Gratis (MBG)—merupakan cerminan telanjang dari ketidaktaatan dan hilangnya ikatan kesadaran ruhiyah mereka. Mereka bertindak seolah-olah pengadilan akhirat itu tidak pernah ada, demi memuaskan syahwat materi dan melanggengkan bisnis haram bersama para pengusaha (oligarki/pemilik modal).
------------------------------
Ilusi Fatalisme: Mengapa Sikap Pasif dan Masa Bodoh Diharamkan Syariat
Memang betul secara hakiki, mereka para penguasa yang zalim itu kelak akan menanggung sendiri seluruh akibat perbuatan mereka di akhirat, dan proses hisab yang akan mereka hadapi benar-benar sangat berat dan tidak main-main. Namun, mendengar kepastian siksa bagi penguasa tersebut, apakah lantas sikap pasif, diam, dan masa bodoh yang dipelihara oleh sebagian besar jemaah hari ini menjadi dibenarkan? Sama sekali tidak! Berdiam diri dengan dalih "sudah biarkan saja urusan mereka, yang penting kita fokus ibadah ritual pribadi di masjid" adalah sebuah fatalisme, kepasrahan yang keliru, dan bentuk kedangkalan berpikir yang nyata!
Di dalam aturan hukum Islam, syariat dengan tegas mengharamkan sikap apatis politik. Ketika kemungkaran struktural dan pencampakkan syariat terjadi di sebuah negeri, Allah Swt ﷻ mewajibkan harus adanya sekelompok orang, sebuah jemaah yang terorganisir (kutlah siyasi), yang bergerak secara konsisten di tengah masyarakat untuk menyeru kepada kebaikan Islam kaffah, serta berani melakukan koreksi politik secara tajam terhadap kebijakan para penguasa (muhasabah lil hukkam). Aktivitas perjuangan inilah yang di dalam Al-Qur'an dinamakan sebagai kewajiban Amar Ma'ruf Nahi Munkar.
Jika umat memilih diam membisu, maka ngerinya konsep Dosa Investasi akan berlaku secara otomatis. Seluruh tumpukan dosa dari kasus perzinaan yang dilegalkan, transaksi riba yang dipelihara negara, hingga pembiaran penistaan agama di media sosial akan terus mengalir deras ke dalam catatan amal setiap individu muslim yang diam! Kita tidak bisa berkelit dengan alasan tidak punya kekuasaan, karena diamnya kita tanpa adanya upaya perjuangan untuk merubah arah kapal negara adalah kemaksiatan mandiri yang juga akan dimintai pertanggungjawaban juga di Yaumul Hisab kelak.
Allah Swt ﷻ memerintahkan secara wajib keberadaan kelompok penyeru perubahan tersebut:
وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung. (TQS Ali 'Imran: 104)
------------------------------
Thariqah Kenabian: Mengoreksi Penguasa Tanpa Jalan Kekerasan
Meskipun corak dakwah amar makruf nahi munkar ini harus disampaikan secara tajam dan menusuk langsung ke akar masalah, para syabab pengemban dakwah harus tetap konsisten memegang teguh thariqah (metode operasional) yang telah dicontohkan oleh Baginda Rasulullah saw ﷺ dan para sahabat. Kita menolak dengan keras segala bentuk cara paksaan fisik, aksi anarki bersenjata, ataupun metode kudeta berdarah di dalam negeri kaum muslimin sendiri. Perjuangan Islam ideologis bergerak melalui tahapan dakwah politik yang damai dan mencerdaskan:
* Tatsqif (Tahap Pembinaan): Mengajak masyarakat, pemuda, dan mahasiswa untuk masuk ke dalam lingkaran halaqah mingguan guna mengkaji kitab-kitab ideologis agar memiliki kesadaran Idrakus Shilah Billah yang kokoh.
* Tafa'ul Ma'al Ummah (Tahap Berinteraksi dengan Umat): Menyebarkan pemikiran Islam yang murni melalui media selembaran buletin subuh ini ke tengah jemaah, agar opini umum yang menolak sistem sekuler terbentuk kuat di dada umat.
* Thalabun Nusrah (Tahap Mencari Dukungan Politik): Melakukan lobi strategis kepada para pemilik kekuatan riil agar mereka bersedia menyerahkan kepemimpinan secara damai demi diterapkannya hukum Allah Swt ﷻ.
Tegas dalam argumentasi (shira'ul fikri) dan berani dalam perjuangan politik (kifahus siyasi) adalah watak asli dakwah nabi. Kita dituntut untuk mendidik umat dengan ekstra kesabaran dan keikhlasan. Kita ketuk kotak berpikir masyarakat agar keluar dari jebakan pragmatisme pemilu demokrasi yang korup, menuju kesadaran syariat yang utuh.
Rasulullah saw ﷺ memberikan garansi derajat kemuliaan tertinggi bagi siapa saja yang berani menyuarakan kebenaran di hadapan pemimpin yang zalim:
أَفْضَلُ الْجِهَادِ كَلِمَةُ عَدْلٍ عِنْدَ سُلْطَانٍ جَائِرٍ
Jihad yang paling utama adalah menyuarakan kalimat keadilan (kebenaran) di hadapan penguasa yang zalim. (HR Abu Dawud No. 4344 & Tirmidzi No. 2265)
------------------------------
Penutup
Kesimpulannya, beban pertanggungjawaban para pemimpin yang zalim di akhirat kelak sangatlah mengerikan, karena mereka telah berkhianat dengan mendepak syariat Islam dari ruang publik. Namun, kehancuran struktural akibat hilangnya ruh Idrakus Shilah Billah di tingkat penguasa tidak boleh dijadikan alasan bagi kita untuk bersikap masa bodoh. Diamnya kita adalah dosa investasi yang siap menghancurkan tabungan pahala shalat kita. Mari kita luruskan niat murni karena Allah Swt ﷻ, buang jauh-jauh rasa pesimis, dan ikutlah terlibat aktif dalam jemaah dakwah politik ini. Teruslah membina umat setahap demi setahap demi menyongsong kembalinya kehidupan Islam yang mulia di bawah naungan Daulah Khilafah Islamiyah yang akan menerapkan syariat Islam secara kaffah.
Wallahu a'lam bishowab. []
------------------------------
Informasi Penerbitan Resmi:
Buletin Dakwah Kaffah — Edisi Ahad Pahing, 5 Shafar 1448 H / 19 Juli 2026 M
Dirangkum oleh: Aldy al-Jawi (Aktivis ☕) — Syabab Ciamis
Diselaraskan berdasarkan Ketetapan Sesuai Kalender Islam Global Tunggal
------------------------------


Posting Komentar untuk "SUNGGUH BERAT PERTANGGUNGJAWABAN PEMIMPIN DZOLIM: MEREKA YANG TIDAK MENEGAKKAN HUKUM ALLAH & SYARIAT ISLAM SECARA KAFFAH"