Siapakah pejuang sejati itu? Apakah mereka yang setiap hari memeras keringat bekerja dari pagi hingga petang lalu mendapatkan penghasilan bulanan? Apakah mereka yang saat ini berstatus sebagai mahasiswa, yang sedang pontang-panting, rariweuh menyusun skripsi, kemudian lulus demi mengejar apa yang dicita-citakannya? Ataukah mereka yang memilih merantau ke luar pulau, bahkan sampai ke luar negeri seperti ke Jepang atau Korea, demi mengumpulkan pundi-pundi uang sebanyak-banyaknya?
Atau kita persempit lagi: siapa pejuang itu? Apakah dia seorang santri, kiai, guru, dosen, PNS, pegawai P3K, pegawai swasta, polisi, TNI, petugas koperasi desa, pelajar, petani, pedagang, atau bahkan pejabat pemerintah? Tunggu dulu. Di belahan dunia kelam, seorang koruptor, pencuri, bahkan pelacur, biduan, dan penyanyi dangdut sekalipun, ketika mereka mengupayakan sesuatu dengan susah payah, mereka juga akan mengklaim diri mereka sebagai "pejuang".
Pertanyaannya: apakah itu semua yang dimaksud dengan pejuang sejati dalam pandangan Islam?
Ternyata jawabannya adalah belum tentu! Sekalipun jenis pekerjaannya halal, predikat itu belum tentu bisa disematkan kepada mereka. Mengapa? Karena urgensi sebuah perjuangan itu sangat tergantung pada niatnya, tergantung pada visinya, dan tergantung ke mana arah perjuangan itu dilabuhkan.
Pejuang sejati yang hakiki tidak lain dan tidak bukan adalah mereka yang di dalam dadanya bergemuruh kerinduan akan ditegakkannya kembali institusi Daulah Khilafah Islamiyah! Meskipun Khilafah itu sendiri bukanlah tujuan akhir, melainkan sebuah wadah dan alat, namun perlu dicamkan baik-baik: hanya dengan adanya Khilafah-lah, seluruh syariat Islam secara totalitas (kaffah) baru bisa diterapkan di muka bumi.
Kegagalan Sistem Demokrasi dan Ilusi Kesalehan Individu
Sebagaimana kita ketahui, Islam memiliki tiga dimensi hukum yang mengikat manusia. Dimensi pertama adalah habluminallah, yang mengatur hubungan manusia dengan Penciptanya, seperti akidah dan ibadah mahdhah (salat dan puasa). Dimensi kedua adalah hablum binafsih, yang mengatur urusan manusia dengan dirinya sendiri, seperti akhlak, makanan, minuman, dan kewajiban menutup aurat.
Namun, Islam tidak berhenti di sana. Ada dimensi ketiga yang tidak kalah krusial, yaitu habluminannas, yang mengatur hubungan manusia dengan manusia lainnya. Di sinilah cakupan muamalah, sistem pergaulan, sistem ekonomi, sistem pendidikan, hukum sanksi ('uqubat), hingga sistem pemerintahan Islam yang bernama Khilafah itu berada.
Tanpa adanya dimensi ketiga ini, seluruh cakupan syariat Islam mustahil bisa tegak. Akibatnya, hukum sanksi seperti potong tangan bagi pencuri, hukum qishash bagi pembunuh, serta hukum rajam atau cambuk bagi pezina tidak bisa dieksekusi. Begitu pula dengan maraknya kemaksiatan yang hari ini sedang mengoyak masyarakat, seperti eksistensi kaum L68T, fenomena "boti-boti", kaum sodomi, dan kaum pelangi. Mereka adalah representasi nyata dari bangkitnya kaum Nabi Luth di zaman jahiliyah modern ini, yang ironisnya justru dilindungi dan dibebaskan atas nama Hak Asasi Manusia (HAM).
Seluruh kerusakan, kebiadaban, dan kebobrokan sosial yang kita indra hari ini adalah bukti valid atas satu hal: ketiadaan Institusi Khilafah! Maka dari itu, sungguh sangat naif jika hari ini ada orang yang mengaku pejuang, tetapi aktivitasnya hanya fokus pada kesalehan diri sendiri atau hanya sibuk mendakwahkan seputar akhlak individu saja. Dakwah itu harus mengakar! Dakwah itu harus menyeluruh dan langsung menyentuh pada jantung akar masalahnya, bukan hanya sibuk mengobati gejala permukaan!
Di bawah cengkeraman sistem demokrasi-kapitalisme saat ini, kehidupan Islam yang ideal mustahil tercapai. Memang betul, setiap orang bisa saja berusaha untuk saleh sendirian, atau dalam bahasa Sunda disebut soleh sosoranganan, atau soleh dewean dalam bahasa Jawa. Namun, karena lingkungannya rusak dan tidak islami, sewaktu-waktu orang saleh tersebut bisa dengan sangat mudah terseret kembali menjadi pelaku maksiat. Sistem dan aturan yang ada hari ini secara sistematis memaksa manusia yang saleh sekalipun untuk berbuat salah dan maksiat!
Lebih ngeri dari itu, ketika umat Islam secara kolektif mendiamkan dan mencampakkan hukum-hukum yang telah Allah tetapkan ini, maka seluruh elemen umat akan menanggung apa yang disebut sebagai "Dosa Investasi"—dosa yang terus mengalir selama hukum Allah tidak diterapkan. Padahal perintah Allah sudah sangat jelas: kita wajib berislam secara kaffah (menyeluruh), tidak boleh setengah-setengah atau pilih-pilih. Paling mengerikan, mencampuradukkan iman dengan sekulerisme bisa menjerumuskan seseorang pada jurang kekufuran, yaitu ketika kita dengan sengaja mengambil sepotong ajaran Islam yang cocok dengan nafsu kita, lalu membuang dan mencampakkan sebagian ajaran Islam lainnya yang mengatur urusan publik. Menganggap satu ayat hukum Allah saja sudah tidak relevan atau keliru untuk diterapkan saat ini adalah perkara akidah yang sangat berbahaya!
Demokrasi adalah sistem yang sudah cacat sejak lahir. Ia bukanlah sistem yang diridai oleh Allah, melainkan sistem yang dimurkai-Nya. Bagaimana mungkin seorang Mukmin rida pada sistem buatan Barat, buatan orang kafir, yang lahir dari isi kepala akal manusia yang serbabatas dan lemah? Di sinilah seorang Mukmin yang memiliki akal sehat, cemerlang, dan mendalam (berpikir mustanir) akan langsung paham bahwa sistem ini harus segera didepak dan diganti.
Jalan Dakwah Rasulullah SAW dan Tantangan Realita Umat
Untuk mewujudkan kembali kehidupan Islam di bawah naungan Khilafah, tidak ada jalan pintas yang instan. Satu-satunya metode yang sahih adalah dengan mengikuti jalan dakwah (thariqah) yang telah dicontohkan oleh Baginda Nabi SAW terdahulu. Metode tersebut mencakup:
- Tatsqif (Pembinaan): Menanamkan akidah Islam yang murni dan pemikiran yang cemerlang kepada individu-individu agar terbentuk kepribadian Islam yang kokoh.
- Tafa’ul ma’al Ummah (Melebur di Tengah Umat): Berinteraksi secara langsung, membangun opini umum di tengah masyarakat, serta mencerdaskan umat tanpa menggunakan paksaan dan kekerasan sedikit pun.
- Thalabun-Nushrah: Mendatangi para pemilik kekuatan dan kedudukan—baik itu sesepuh, tokoh masyarakat, kepala kampung, hingga pemegang kekuasaan—untuk mendakwahkan Islam kaffah.
Kita dituntut untuk gencar mendakwahi semua lapisan: penguasanya, kiaianya, santrinya, mahasiswanya, dengan membawa media-media dakwah ideologis seperti Buletin Kaffah, koran Media Ummat, dan sejenisnya. Kewajiban dakwah ini bukanlah tugas eksklusif milik para kiai, ajengan, ustaz, atau ulama saja. Ini adalah kewajiban mutlak bagi seluruh kaum Muslimin yang memiliki kesadaran iman. Dakwahkanlah Islam semampu kita sesuai kapasitas masing-masing, sebagaimana sabda Nabi SAW: "Sampaikanlah dariku walau satu ayat." Bahkan Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib ra. pernah berpesan: "Janganlah melihat siapa yang menyampaikan, tetapi dengarlah apa yang disampaikan."
Namun, mari kita tengok realitas di lapangan hari ini. Penulis pribadi merasa sangat miris dan prihatin melihat kondisi umat yang seolah-olah telah kehilangan ruh perjuangannya. Mayoritas umat hari ini telah sukses dijinakkan oleh kapitalisme dan bertransformasi menjadi "Budak Sistem".
Lihatlah para mahasiswa. Banyak di antara mereka yang kuliah hanya asal kuliah, yang penting mengejar IPK besar dan lulus tepat waktu. Sebenernya target itu tidak salah, bahkan bagus. Namun yang disayangkan, mengapa potensi intelektual dan gelar mahasiswa itu tidak dijadikan sarana atau ushlub (cara) untuk mempermudah aktivitas dakwah di kampus maupun di masyarakat kelak? Kebanyakan dari mereka justru terjebak dalam pragmatisme duniawi; sibuk memikirkan bagaimana caranya agar cepat lulus, lalu mengajar atau bekerja, diangkat jadi PNS atau P3K, mendapat gaji tetap per bulan, dan selesai. Mereka menutup mata dari urusan umat.
Begitu pula dengan fenomena pemuda Muslim atau eks-santri di "Negeri Konoha" ini. Karena melihat negaranya dilanda kegagalan urus oleh pemerintah dan tidak ada lagi harapan kesejahteraan, mereka akhirnya memilih untuk merantau dan bekerja ke luar negeri seperti ke Jepang dengan iming-iming gaji puluhan juta rupiah per bulan. Ujung-ujungnya? Mereka kembali menjadi budak sistem di negeri asing, abai terhadap urusan umat, dan bahkan tidak akan pernah sampai cara berpikirnya untuk memikirkan bagaimana caranya agar Khilafah Islamiyah ini bisa bangkit kembali.
Bahkan dari kalangan yang paham agama sekalipun—seperti sebagian santri, gus, dan kiai—banyak yang memilih cari aman. Mereka hanya mentok pada pengajaran ibadah ritual dan urusan fikih privat saja, tanpa mau repot-repot memikirkan urusan politik dan penderitaan umat secara struktural. Padahal, berdiam diri di hadapan kezaliman sistemik seperti ini tetap akan membuat kita semua memanen dosa investasi yang sama di hadapan Allah SWT!
Keteguhan Pengemban Dakwah Ideologis
Di tengah badai pragmatisme tersebut, sungguh ajaib dan luar biasa jika masih ada segelintir pengemban dakwah yang istikamah bergerak. Realitasnya, perjuangan dakwah ideologis ini memang menuntut kita untuk bèbèakan (habis-habisan dan terseok-seok). Kita dipaksa untuk mengorbankan waktu, menguras tenaga, bahkan merelakan harta yang kondisinya pas-pasan. Para pejuang ini harus pintar membagi waktu dan menyusun jadwal dengan sangat bijak.
Bayangkan saja, seorang mahasiswa pejuang dakwah yang sedang rariweuh dikejar deadline skripsi, laptopnya sering nge-lag, uang sakunya pas-pasan, dan waktu tidurnya terkuras habis, masih harus meluangkan waktu ke sana kemari demi bisa melakukan kontak dakwah, bersilaturahmi menemui para santri, teman kuliah, hingga sowan ke kediaman kiai dan sesepuh. Semua kelelahan itu mereka lakukan demi apa? Semata-mata agar ide Islam kaffah ini bisa tersebar luas ke tengah-tengah umat, sehingga umat terkesiap dan sadar dari tidur panjangnya!
Menjadi pengemban dakwah ideologis berarti siap hidup dengan pikiran yang seolah-olah "dihantui oleh jurang-jurang" tanggung jawab di hadapan Allah. Mengapa? Karena isi kepalanya tidak lagi egois memikirkan perut sendiri, tidak lagi sekadar memikirkan diri atau keluarganya secara sempit, melainkan selalu memikirkan bagaimana nasib keselamatan umat ini di akhirat dan di dunia. Tentu saja, aktivitas yang penuh dengan kerikil tajam ini sangat sepi peminat dan jarang sekali diminati oleh manusia-manusia bermental instan.
Namun, bagi Anda para pengemban dakwah yang saat ini sedang merasa lelah, terseok-seok, dan menghadapi berbagai hambatan: jangan pernah berkecil hati! Jangan terus-menerus mengeluh, dan jangan sekali-kali baper (bawa perasaan) ketika dakwahmu ditolak atau diremehkan. Hadapi setiap ujian dengan benteng kesabaran dan keikhlasan yang kokoh, semata-mata hanya mengharap ampunan dan rida Allah SWT.
Ingatlah, terkait hasil akhir dari dakwah ini, itu adalah mutlak hak prerogatif Allah SWT. Tugas kita bukanlah memenangkan pertarungan secara instan, melainkan mengupayakan perjuangan ini secara maksimal, rutin, konsisten, dan istikamah tanpa ada kata santai atau leha-leha. Sebab, yang akan dihisab dan dihitung di hadapan Allah kelak adalah proses amal dan hujah perjuangan kita, bukan hasil akhirnya!
PENUTUP
Surga yang mahaluas dan penuh kenikmatan adalah balasan yang telah Allah sediakan khusus untuk para pejuang sejati. Maka, kokohkan kembali pundakmu, karena pertolongan Allah (nashrullah) sudah semakin dekat dan pasti akan tiba. Sukses yang sedang kita kejar bersama di dalam koridor dakwah ini bukanlah sekadar sukses receh untuk dirimu sendiri di dunia, melainkan sukses besar untuk perubahan peradaban dunia, dan yang paling utama adalah sukses untuk kehidupan akhirat kita.
Kita sedang menjemput rida-Nya dan menantikan tempat terbaik di surga-Nya yang penuh kenikmatan tiada tara—sebuah kenikmatan hakiki yang tidak akan pernah bisa dibayangkan oleh batasan akal manusia di dunia saat ini karena saking dahsyatnya! Tetaplah berada di garda terdepan, wahai para pejuang Islam sejati! Allah SWT berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ
"Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu." (TQS Muhammad: 7).
Allahu Akbar!
Wallahu a'lam bishowab [].


Posting Komentar untuk "MENJADI PEJUANG SEJATI"