Dalam mengarungi samudra dakwah ideologis, kita sering kali mendapati pemandangan yang menghentak kesadaran. Ada orang-orang yang dulunya dikenal sangat rajin ngaji, bersemangat tinggi, dan aktif mengikuti berbagai kajian ke sana kemari. Namun, seiring berjalannya waktu, tiba-tiba di tengah jalan mereka berhenti, menarik diri, dan mengalami fenomena futur (kehilangan gairah perjuangan). Jika kita bedah secara mendalam, rata-rata penyebab utama dari rontoknya konsistensi ini adalah faktor jepitan ekonomi, seperti susahnya mencari lapangan kerja yang halal dan berkah.
Selain urusan isi perut, faktor habit atau kebiasaan buruk yang melalaikan juga ikut berpengaruh besar. Banyak pemuda yang hari ini waktunya habis tersita karena kecanduan bermain game online untuk sekadar mabar (main bareng), entah itu Mobile Legends (ML), Free Fire (FF), dan sejenisnya. Alasan tuntutan ekonomi paling menonjol selalu dijadikan sebagai argumen pembenaran untuk memaklumi diri tidak lagi mau datang ngaji. Dalih sibuk kerja lembur, capek jaga toko, hingga alasan pindah tempat merantau kerap diembuskan. Padahal, jika ia memiliki pemikiran yang luhur, perkara pindah tempat tinggal seharusnya bisa diatasi dengan mutlak melalui proses mutasi halaqah ke wilayah baru, tanpa harus mencari-cari alasan defensif untuk melegalkan statusnya yang sudah keluar dari barisan perjuangan.
Di satu sisi, kita memang tidak bisa serta-merta menghakimi atau menyalahkan individu tersebut secara sepihak. Kita harus memaklumi bahwa hulu masalahnya berasal dari tatanan sistem kehidupan sekuler hari ini yang memang dirancang sedemikian rupa untuk menekan mentalitas rakyat kecil, sehingga memaksa siapa pun di dalamnya berada dalam kondisi rentan untuk futur. Bahkan, termasuk penulis yang menuliz artikel ini pun terkadang tidak luput dari serangan penyakit futur itu. Kadang semangat keistiqamahan berada pada level puncak full, namun kadang pula mengalami penurunan ritme kerja.
Salah satu bukti konkrit dari kadang futurnya penulis di sini adalah keterlambatan dalam mengirimkan lembaran Buletin Ideologis ini ke tengah jemaah. Sesuatu yang seharusnya sudah matang di-share sejak fajar pagi hari, eh ini malah baru selesai ditulis dan disebarkan pada waktu sore hari, bertepatan ba'da Ashar pukul 16.00 WIB. Ya begitulah realitasnya, jepitan kesibukan duniawi seperti urusan kuliah terkadang ikut menyita fokus pikiran. Ditambah lagi dengan pusingnya mengurusi tugas akhir menyusun skripsi, mengejar batas waktu deadline dari dosen, hingga pusing memikirkan tagihan tunggakan administrasi kampus yang belum lunas. Namun, meskipun badai kesibukan itu datang menerpa, seorang pejuang ideologis wajib memiliki sistem pengereman otomatis untuk selalu meluruskan niat dan segera balik ke jalur perlintasan rel yang benar.
Filosofi Railfans: Tadabur Alam Melawan Ketakaburan Aturan Buatan Manusia
Kebetulan, penulis sendiri adalah seorang Railfans—sebuah komunitas pencinta kereta api yang memiliki hobi memotret serta merekam video jalannya ular besi yang melintas di berbagai jalur perlintasan, terutama di spot-spot jalur pegunungan Daop 2 (Priangan) seperti wilayah Bandung, Garut, Tasikmalaya, hingga ke Ciamis ini. Bagi penulis, aktivitas hunting kereta api ini sama sekali bukan sekadar menyalurkan hobi tak berfaedah atau sekadar demi kepentingan berburu konten di media sosial. Lebih jauh dari itu, momentum melihat kereta api melintas di tengah alam Priangan adalah sarana refleksi untuk melakukan tadabur alam yang mendalam, sekaligus mensyukuri setiap jengkal nikmat yang telah Allah Swt ﷻ berikan kepada kita.
Nalika kita memandang hamparan alam yang begitu indah memesona; gugusan perbukitan yang berjejer rapi, pegunungan yang berdiri kokoh, rimbunnya pepohonan hijau yang asri, hingga bentangan sawah yang berbentuk terasering, akal kita dipaksa untuk menyaksikan keagungan karya ciptaan Sang Maha Pencipta, Allah Swt ﷻ. Jika untuk urusan ekosistem alam yang seindah ini saja Allah Swt ﷻ telah menciptakan hukum keteraturan yang sangat presisi, maka sudah sepantasnya dan menjadi kewajiban mutlak bagi kehidupan manusa untuk diatur oleh hukum-hukum syariat yang diturunkan oleh Zat Yang Maha Mengatur alam semesta ini! Bumi Priangan, Pulau Jawa, Tanah Nusantara, hingga seluruh galaksi ini diciptakan oleh Allah Swt ﷻ, lalu atas dasar apa manusia merasa berhak membuat-buat aturan hukumnya sendiri melalui sistem demokrasi?!
Inilah bentuk nyata dari kesombongan kolektif peradaban modern saat ini! Di bawah kendali kapitalisme sekuler, manusa tidak hanya melakukan eksploitasi yang merusak kelestarian alam, melainkan juga bertindak takabur dengan enggan diatur oleh undang-undang Sang Maha Pengatur. Mereka mengubah potensi tadabur menjadi ketakaburan struktural. Mereka menolak syariat dengan dalih kuno dan tidak sesuai zaman atau ke Arab-Araban tidak cocok di Nusantara gitu katanya.
Gusti Allah Swt ﷻ mengecam keras manusia yang sombong dan enggan tunduk pada aturan hukum-Nya:
وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا ۖ إِنَّكَ لَنْ تَخْرِقَ الْأَرْضَ وَلَنْ تَبْلُغَ الْجِبَالَ طُولًا
Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan mencapai setinggi gunung. (TQS Al-Isra': 37)
Kereta Api dan Konsistensi Rel: Menakar Kerusakan Generasi Pragmatis
Filosofi kereta api memberikan pelajaran akidah yang sangat mahal mengenai makna Istiqamah. Sebuah rangkaian kereta api, agar ia bisa sampai ke stasiun tujuan akhir dengan selamat membawa ratusan penumpang, sarat utamanya adalah rodanya harus selalu fokus, konsisten, dan menempel ketat di atas jalurnya rel baja. Sikit saja roda tersebut keluar atau melenceng dari jalur rel, maka kecelakaan fatal berupa anjlok atau tergulingnya kereta (derailment) adalah sebuah kepastian yang mengerikan. Di dalam dunia dakwah, rel baja itu adalah syariat Islam dan jemaah dakwah ideologis, sedangkan keluar dari rel itu dinamakan sebagai status futur.
Oleh karena itu, sesibuk apa pun urusan keduniawian kita, jangan pernah sekali-kali dijadikan sebagai alibi atau pembenaran untuk berhenti ngaji, apalagi sampai memutuskan mundur dari aktivitas dakwah politik ini! Mau itu karena alasan sedang sibuk menempuh tugas akhir kuliah sekalipun, rel ini jangan pernah ditinggalkan. Tengoklah realitas di luar sana dinten ini, banyak sekali anak-anak muda yang bangga karena bisa lulus kuliah dengan predikat cepat, namun setelah menyandang gelar sarjana, sama sekali tidak ada kontribusi, tidak ada sumbangsih, dan tidak ada atsar (bekas) perjuangan sedikit pun untuk menolong agama Allah Swt ﷻ! Pikirannya mandul terhadap urusan umat.
Ada pula sebagian orang yang sudah merasa sukses karena berhasil mengejar kedudukan, meraih pangkat jabatan tinggi di jajaran birokrasi kekuasaan negara, namun buktinya apa? Ada juga yang berhasil meraup pundi-pundi materi dengan nominal gaji besar hingga belasan juta rupiah karena bekerja di luar negeri (seperti di Jepang atau Korea), namun nyatanya bagaimana? Kesadaran ideologis dan ruh di dalam dada mereka telah mati total! Mereka kehilangan Idrakus Shilah Billah (kesadaran hubungan dengan Allah Swt ﷻ).
Ujung-ujungnya, kuantitas intelektual dan kesuksesan materi mereka hanya berakhir tragis untuk dijadikan sebagai robot pekerja dan hamba sahaya penopang berjalannya sistem kapitalis sekuler yang batil! Parah, parah pisan! Jauh lebih mulia dan terhormat jika kita memilih untuk menikmati setiap jengkal proses perjuangan yang terseok-seok ini, hidup sederhana sembari terus istiqamah berada di atas rel dakwah, namun kehidupan kita mengantongi rida dan keberkahan dari Allah Swt ﷻ.
Urgensi Berjamaah: Esensi "Bebarengan" Agar Kereta Tidak Anjlok
Sifat futur atau datangnya rasa jenuh di tengah jalan memang merupakan tabiat yang manusiawi bagi setiap makhluk. Manusia bukan malaikat yang tidak memiliki syahwat, dan bukan setan yang selalu konsisten dalam kesesatan. Karena sifat lemah itulah, Islam menggariskan sebuah solusi sistemik mengenai pentingnya aktivitas bebarengan alias hidup berjamaah di dalam sebuah kelompok dakwah politik ideologis (kutlah siyasi). Di jaman kepungan fitnah kapitalisme dinten ieu, berjuang sendirian (sosoranganan) tanpa adanya perlindungan jemaah adalah tindakan bunuh diri teologis yang sangat berbahaya.
Di dalam lingkaran jemaah halaqah inilah fungsi pengereman dan saling mengingatkan dalam kebaikan (watawa shoubila haqqi watawa shoubis shobr) itu berjalan secara mekanis. Ketika ada satu roda kereta dakwah yang mulai oleng atau hendak keluar jalur rel karena tergiur oleh pesona materi duniawi, maka komponen jemaah yang lain wajib menariknya kembali secara syar'i agar tetap berada dalam lintasan rel yang benar.
Perjuangan untuk meruntuhkan sistem demokrasi sekuler ini adalah fardhu kifayah yang sangat berat volumenya, sehingga mustahil bisa dipikul oleh single individu. Kita membutuhkan saf yang rapat dan kepemimpinan yang berwibawa untuk membentuk opini umum di tengah umat agar rute kompas peradaban ini bisa segera diganti total (inkilabiyyan) menuju tegaknya kembali sistem pemerintahan Islam kaffah di bawah naungan Daulah Khilafah Islamiyah.
Gusti Allah Swt ﷻ menegaskan kewajiban untuk saling tolong-menolong dalam menetapi jalan ketakwaan yang lurus:
وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ
Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. (TQS Al-Ma'idah: 2)
Penutup
Kesimpulannya, perumpamaan jalur rel kereta api wajib menjadi bahan muhasabah yang mendalam bagi keimanan kita di bulan Shafar ini. Kesibukan skripsi, lilitan tagihan biaya kuliah, atau susahnya mencari modal usaha jangan pernah dijadikan alasan legal untuk membenarkan status kita yang sedang futur dari aktivitas mengaji Islam ideologis. Ingatlah, keluar dari rel dakwah adalah awal dari anjloknya keselamatan akhirat kita. Mari kita kuatkan kembali jalinan ukhuwah bebarengan di jero halaqah, hilangkan segala bentuk pemikiran pragmatis yang membodohi, dan teruslah konsisten melangkah maju menyuarakan syariat Islam secara kaffah hingga bendera tauhid kembali memimpin dunia.
Allohu Akbar!
Wallahu a'lam bishowab. []
Informasi Penerbitan Resmi:
Buletin Dakwah Kaffah — Edisi Kamis Legi, 9 Shafar 1448 H / 23 Juli 2026 M
Dirangkum dumasar Catatan Tadabur Alam: Spot Gunung Daop 2 Priangan, Tasikmalaya
Diselaraskan berdasarkan Ketetapan Sesuai Kalender Islam Global Tunggal




Posting Komentar untuk "IBARAT KERETA API: HARUS SELALU FOKUS DI REL SUPAYA KONSISTEN TERUS (ISTIQOMAH), KALO KELUAR REL ITU FUTUR (TIDAK LAGI ISTIQOMAH)"