BAHAYANYA BERSIKAP BODO AMAT BAHKAN AKAN DIMINTAIPERTANGGUNGJAWABAN JUGA‼️



"Udah, ngapain repot-repot mikirin yang lain. Mending pikirin diri sendiri aja." "Kuliah dulu yang bener, gak usah repot-repot mikirin negara, udah ada yang tanggung jawab ini." "Nanti juga mereka para pejabat atau penguasa yang zalim kelak akan menanggung perbuatan mereka sendiri di akhirat, dah gak usah pusing-pusing kita fokus ibadah saja. Sekolah dulu yang bener, kuliah yang bener biar cepet lulus, entar cepet kerja dapet duit."
Hampir kebanyakan orang di sekitar kita pasti pernah mengucapkan kalimat-kalimat pragmatis bernada serupa. Kalimat yang sekilas terdengar logis dan bijak, namun sejatinya menyimpan racun pemikiran yang sangat mematikan bagi kebangkitan umat.
Memang betul secara hukum syara', para penguasa dan pejabat yang hari ini berbuat zalim terhadap rakyat kecil—mulai dari korupsi ugal-ugalan bahkan secara berjamaah, mencekik rakyat dengan berbagai macam pungutan dan pajak, hingga membuat harga kebutuhan pokok serba mahal serta biaya pendidikan melambung tinggi—kelak di Yaumul Hisab akan dimintai pertanggungjawaban yang tidak main-main. Mereka akan menghadapi siksaan yang teramat pedih. Namun, apakah dengan kepastian hukuman bagi penguasa zalim tersebut lantas sikap "bodoh amat" dan apatis yang kita pelihara ini menjadi dibenarkan secara syariat? Sama sekali tidak! Sikap masa bodoh terhadap urusan umat bukanlah pilihan aman, melainkan pintu gerbang menuju kehancuran kolektif.

Korelasi Dosa Investasi: Ngerinya Diam di Tengah Kemaksiatan Struktural. Ngeri ngeri !!

Umat harus dipaksa berpikir jernih mengenai sebuah konsep fikih yang sangat mengerikan, yaitu tentang Dosa Investasi. Telah kita bahas berulang kali di dalam lingkaran Pengajian Umum (PU-an), bahwa di dalam Islam, pahala dan dosa itu tidak hanya mengalir dari apa yang secara fisik kita lakukan. Ada sebuah kondisi di mana seseorang rajin shalat berjamaah, rajin shalat sunnah dhuha dan tahajud, rajin baca al-Qur'an juga bahkan berkali-kali khatam namun catatan amalnya setiap hari justru surplus kiriman dosa maksiat dari luar sana. Mengapa? Karena DIAMNYA KITA terhadap kezaliman struktural.
Ketika kita memilih bersikap bodoh amat dengan dalih "yang penting saya dan keluarga sudah saleh", maka pada detik itu juga kita telah mendaftarkan diri sebagai investor dosa kolektif. Selama sistem kapitalisme sekuler dibiarkan memimpin negeri ini dan memproduksi undang-undang batil yang memeras rakyat serta menghalalkan kemaksiatan publik, maka seluruh umat Islam yang diam tanpa ada upaya melakukan koreksi (amar makruf nahi munkar) akan ikut kecipratan dosanya!
Kita tidak bisa lepas tangan dengan prinsip egois "amaluna amalukum". Memang benar perbuatan dosa mereka ditanggung mereka, tetapi dosa karena kita DIAM tidak mau mengoreksi kebatilan adalah dosa mandiri yang juga siap menyeret kita ke dalam neraka. Diamnya orang shaleh adalah bahan bakar utama bagi langgengnya kezaliman thaghut.
Allah Swt ﷻ memberikan peringatan yang sangat keras bagi orang-orang yang memilih diam dan enggan melakukan koreksi terhadap kemungkaran:
وَاتَّقُوا فِتْنَةً لَا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً ۖ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ
Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak hanya menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Ketahuilah bahwa Allah sangat keras siksaan-Nya. (TQS Al-Anfal: 25)

Degradasi Intelektual: Ketika Mahasiswa Menjadi Budak Sistem Kapitalis

Jika kita melihat realitas dunia akademik hari ini, kondisi para mahasiswa dan kaum intelektual kita sudah berada pada level berpikir yang sangat rendah (al-fikr al-muntahat). Mayoritas mahasiswa saat ini telah dikungkung oleh kurikulum sekuler kapitalistik yang mandul. Target dan orientasi hidup mereka telah dipersempit secara sistemik: asal kuliah, mengejar nilai indeks prestasi, cepat-cepat lulus wisuda, kemudian masuk ke dalam pasar kerja untuk mencari uang demi menumpuk materi duniawi semata. Mereka telah kehilangan taring kepedulian sosial-politik dan menjadi buta-tuli terhadap penderitaan umat.
Mari kita bedah secara tajam fenomena para lulusan sarjana, contohnya mereka yang menyandang gelar S.Pd (Sarjana Pendidikan). Orientasi berpikir mereka kebanyakan langsung mentok pada pertanyaan: "Gimana caranya agar saya bisa cepat mengajar, cepat diangkat menjadi PNS, P3K, atau ASN, lalu setiap bulan menerima gaji dan tunjangan tetap?" Udah, cuma mentok sampai situ! Pemikiran mereka dipenjara oleh pragmatisme materi.
Akibat pola pikir yang sempit ini, mereka tidak sadar bahwa mereka telah ditundukkan untuk menjadi sekadar sekrup kecil penopang mesin sistem kapitalisme. Mereka menjadi budak sistem! Bayangkan jalurnya yang ngaco: setelah puluhan tahun mengabdi di bawah aturan sekuler, mereka pensiun, lalu tinggal menikmati hari tua di rumah dengan perasaan seolah-olah sudah bebas, tidak ada lagi tuntutan kewajiban, dan tidak perlu berjuang lagi. Mereka hanya duduk diam menunggu datangnya malaikat maut. Ini adalah pola hidup yang sangat rusak dan jauh dari tuntunan Islam!

Meruntuhkan Dikotomi Sekuler: Menjadikan Profesi Sebagai Wadah Dakwah

Aktivitas dakwah menyuarakan kebenaran Islam secara kaffah sering kali dianggap secara keliru hanya sebagai tugas kelompok orang yang ahli di bidang agama saja, seperti lulusan pesantren, ustadz, atau kiai. Upaya memisahkan antara bidang agama dengan bidang umum (profesi sekuler) ini merupakan bentuk nyata dari racun pemikiran sekulerisme yang sesat dan menyesatkan! Di dalam Islam, dakwah adalah kewajiban melekat bagi setiap individu yang telah bersyahadat, tanpa memandang apa pun latar belakang profesinya.
Seorang yang memiliki taraf berpikir cemerlang (al-fikr al-mustanir) atau seorang Mustanir, akan selalu menjadikan aktivitas dakwah politik-ideologis sebagai poros utama di dalam kehidupannya, apa pun profesi duniawi yang sedang ia jalani. Seseorang tidak perlu membentur-benturkan antara status pekerjaannya dengan kewajiban agamanya.
Jika ia ditakdirkan menjadi seorang PNS, aparatur sipil negara, atau seorang guru di sekolah, maka jabatan dan profesinya tersebut justru wajib dijadikan sebagai wadah strategi (ushlub) dakwah agar ide-ide Islam kaffah lebih mudah diinjeksikan ke dalam benak pemikiran anak didik dan lingkungan kerjanya! Menjadi guru bukan untuk menjinakkan pemikiran pelajar agar tunduk pada sekulerisme, melainkan untuk mencetak generasi muda yang kritis dan siap berjuang membongkar kebatilan sistem hari ini.
Rasulullah saw ﷺ menegaskan batasan ketaatan dan kewajiban menyampaikan kebenaran bagi setiap muslim:
لَا طَاعَةَ فِي مَعْصِيَةٍ ، إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِي الْمَعْرُوفِ
Tidak ada ketaatan dalam maksiat (kepada Allah), sesungguhnya ketaatan itu hanyalah dalam perkara yang makruf. (HR Bukhari No. 7257 & Muslim No. 1840)

Penutup: Garis Finish Perjuangan Hanyalah Kematian

Oleh karena itu, di awal bulan Shafar ini, alur berpikir umat harus segera diperbaiki secara total. Kita harus faham bahwa meraih gelar sarjana dan lulus dari bangku kuliah sama sekali bukan berarti berhenti berjuang, justru itu adalah gerbang awal dari dimulainya sebuah episode perjuangan ideologis yang baru dan lebih menantang di tengah masyarakat! Begitu pula dengan masa pensiun dari profesi keduniawian seperti guru atau PNS; ia tidak boleh diartikan sebagai masa pensiun dari aktivitas dakwah.
Di dalam kamus seorang pejuang ideologis, tidak ada kata pensiun atau berhenti dari aktivitas menyerukan penerapan syariat Islam secara kaffah melalui institusi Daulah yang sah. Garis finish yang menandai berhentinya aktivitas amar makruf nahi munkar kita hanyalah satu: ketika Allah Swt ﷻ telah memanggil nyawa kita untuk kembali kepada-Nya (Kematian)! Selama jantung masih berdenyut, maka selama itu pula kewajiban berjuang meruntuhkan sistem kapitalisme ini tetap melekat di pundak kita. Mari buang sikap bodoh amat yang mendatangkan dosa, naikkan taraf berpikir kita menjadi cemerlang (mustanir), dan rapatkan barisan dalam saf perjuangan dakwah politik ini hingga husnul khatimah menjemput kita.
Wallahu a'lam bishowab. []

Informasi Penerbitan Resmi:
Buletin Dakwah Kaffah — Edisi Sabtu Legi, 4 Shafar 1448 H / 18 Juli 2026 M
Dirangkum oleh: Aldy al-Jawi (Aktivis ☕) — Syabab Ciamis
Diselaraskan berdasarkan Ketetapan Sesuai Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT)



Posting Komentar untuk "BAHAYANYA BERSIKAP BODO AMAT BAHKAN AKAN DIMINTAIPERTANGGUNGJAWABAN JUGA‼️"