Dunia pengasuhan anak kembali tercoreng. Publik dikejutkan dengan viralnya dugaan kasus kekerasan dan penelantaran balita di sebuah tempat penitipan anak, Daycare Little Aresha Yogyakarta. Video dan informasi yang beredar membuat hati siapa pun teriris. Anak-anak kecil yang masih suci, belum mengerti apa-apa, justru diduga mendapat perlakuan tidak manusiawi.
Ada balita yang dibiarkan tanpa pakaian. Ada yang diduga diikat. Ada yang terbaring tanpa pengawasan layak. Bahkan menurut keterangan yang beredar, jumlah anak yang diasuh jauh melebihi kesepakatan awal dengan para orang tua. Satu pengasuh seharusnya menangani dua sampai tiga anak, namun realitanya bisa tujuh sampai delapan anak, bahkan lebih.
Ini bukan sekadar kelalaian biasa. Ini alarm keras bahwa ada sesuatu yang rusak dalam masyarakat kita hari ini.
BALITA BUKAN BARANG TITIPAN BIASA
Anak bukan benda yang cukup dijaga fisiknya saja. Anak adalah amanah dari Allah. Anak membutuhkan kasih sayang, sentuhan, perhatian, keamanan, dan pendidikan sejak dini.
Allah Ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا
"Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka."
(QS. At-Tahrim: 6)
Ayat ini menunjukkan bahwa keluarga, terutama anak-anak, wajib dijaga. Bukan hanya diberi makan, tetapi dijaga fisik, akhlak, dan keselamatannya.
Namun hari ini, banyak orang tua berada dalam dilema. Ingin menjaga anak sendiri, tetapi himpitan ekonomi memaksa keduanya bekerja. Ingin mendampingi tumbuh kembang anak, tetapi biaya hidup terus naik. Akhirnya daycare dipilih sebagai jalan tengah.
Sayangnya, ketika amanah jatuh ke tangan yang salah, musibah pun terjadi.
AKAR MASALAH: SISTEM YANG MEMAKSA KELUARGA TERHIMPIT
Mengapa fenomena penitipan anak makin marak?
Karena hari ini banyak keluarga tidak cukup hidup dengan satu penghasilan. Harga kebutuhan pokok naik. Rumah mahal. Pendidikan mahal. Biaya kesehatan mahal. Gaya hidup juga terus didorong agar konsumtif.
Akhirnya, banyak ibu yang sebenarnya ingin membersamai anak, terpaksa ikut bekerja demi menopang ekonomi rumah tangga.
Di sinilah sistem kapitalisme bekerja:
kebutuhan dasar sulit dijangkau,
keluarga dipaksa mengejar uang terus-menerus,
peran ibu bergeser dari pengasuh utama menjadi pencari nafkah tambahan,
anak akhirnya diserahkan kepada lembaga berbayar.
Ketika pengasuhan berubah menjadi industri, maka masuklah logika bisnis:
berapa banyak anak bisa ditampung?
berapa besar pemasukan?
berapa kecil biaya pegawai?
berapa efisien tenaga kerja?
Jika orientasi untung yang dominan, maka kasih sayang bisa tergeser.
KEUNTUNGAN DIKEJAR, NURANI TERPINGGIRKAN
Laporan yang beredar menyebut pengasuh digaji rendah namun dibebani menjaga banyak anak sekaligus. Dua orang mengurus belasan bahkan puluhan balita. Dari sini saja kita bisa melihat potensi kekacauan.
Akibat beban berlebih dan minim pengawasan, lahirlah tindakan-tindakan keji: mengikat anak, membiarkan anak telanjang, menelantarkan, atau memperlakukan balita seperti barang.
Na’udzubillah.
Padahal Rasulullah ﷺ bersabda:
لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَرْحَمْ صَغِيرَنَا
“Bukan golongan kami orang yang tidak menyayangi anak kecil.”
(HR. Tirmidzi)
Hadits ini keras. Menyayangi anak kecil adalah ciri umat Nabi Muhammad ﷺ. Sebaliknya, kekerasan pada anak adalah tanda matinya rahmat dalam hati.
REALITA YANG SALING TERHUBUNG
Baru kemarin negeri berduka karena kecelakaan kereta yang menelan korban jiwa. Kini muncul lagi kasus balita menjadi korban di tempat penitipan.
Sekilas berbeda. Tapi akarnya mirip:
manusia dikejar target
keselamatan diabaikan
pengawasan lemah
keuntungan diutamakan
rakyat kecil jadi korban
Inilah buah pahit ketika urusan publik dan keluarga tidak diatur dengan ruh amanah, tetapi dengan logika materi.
ISLAM MEMULIAKAN PERAN IBU DAN ANAK
Dalam Islam, ibu memiliki kedudukan agung. Rumah tangga bukan pekerjaan rendahan. Mengasuh anak bukan sekadar “jaga anak”, tetapi membangun peradaban.
Rasulullah ﷺ bersabda ketika ditanya siapa yang paling berhak diperlakukan baik:
أُمُّكَ ثُمَّ أُمُّكَ ثُمَّ أُمُّكَ
“Ibumu, kemudian ibumu, kemudian ibumu...”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Mengapa ibu dimuliakan? Karena dari tangannya lahir generasi.
Maka sistem yang baik adalah sistem yang memudahkan ibu menjalankan peran mulia itu, bukan memaksanya meninggalkan anak demi bertahan hidup.
JANGAN HANYA MARAH KE PELAKU, LIHAT JUGA AKAR MASALAH
Pelaku memang harus dihukum tegas. Siapa pun yang menyakiti anak kecil wajib mempertanggungjawabkan perbuatannya.
Namun jika kita hanya berhenti pada pelaku, sementara akar persoalan dibiarkan, maka kasus serupa akan terulang dengan nama tempat berbeda.
Hari ini daycare. Besok sekolah. Lusa panti asuhan. Minggu depan tempat lain.
Selama keluarga terus dihimpit ekonomi, selama pengawasan lemah, selama bisnis diutamakan dari amanah, selama itu pula luka sosial akan terus muncul.
■ HIKMAH & HARAPAN ■
Kasus ini seharusnya menyadarkan kita bahwa anak-anak adalah amanah yang tidak boleh diperlakukan sembarangan. Mereka bukan objek bisnis. Mereka bukan angka pemasukan. Mereka bukan beban yang boleh dibentak dan diikat.
Turut prihatin sedalam-dalamnya kepada para balita korban dan keluarga mereka. Semoga anak-anak itu segera pulih lahir batin. Semoga para orang tua diberi kekuatan dan ketabahan.
Semoga aparat menindak tegas para pelaku dan membongkar seluruh jaringan kelalaian yang ada. Jangan berhenti pada satu-dua orang saja.
Dan lebih dari itu, semoga umat mulai berpikir: mengapa keluarga makin sulit menjaga anak sendiri? Mengapa peran ibu makin terdesak? Mengapa pengasuhan berubah jadi industri?
Sudah saatnya keluarga dimuliakan kembali, anak dilindungi sungguh-sungguh, dan masyarakat dibangun di atas nilai rahmat—not sekadar untung rugi.
Wallahu a’lam bishshawab. []


Posting Komentar untuk "ANAK DITITIPKAN, KEKERASAN DIDAPATKAN‼️ VIRAL KASUS DAYCARE LITTLE ARESHA JOGJA"