Alhamdulillāhi rabbil ‘ālamīn, segala puji bagi Allah ﷻ yang masih memberikan kita nikmat iman, Islam, serta kesehatan, sehingga pada hari ini kita masih bisa menyambut waktu demi waktu dalam ketaatan kepada-Nya.
Hari ini Ahad, 12 April 2026 M yang bertepatan dengan 25 Syawal 1447 H. Artinya, kita sudah berada di penghujung bulan Syawal. Sekitar 6 hari lagi atau sepekan ke depan, kita akan memasuki bulan Dzulqa’dah 1447 H yang insyaAllah jatuh pada Sabtu, 18 April 2026 M jika mengacu pada Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT).
Dan itu berarti… hanya tersisa sekitar 45 hari lagi menuju Hari Raya Idul Adha, yang insyaAllah akan jatuh pada Rabu, 27 Mei 2026 M.
Waktu begitu cepat berlalu. Ramadhan terasa baru kemarin, namun kini kita sudah semakin dekat dengan momentum besar berikutnya—Idul Adha, hari raya yang sarat dengan makna pengorbanan, ketaatan, dan ketundukan total kepada Allah ﷻ.
Namun di tengah perjalanan waktu ini, kita juga harus jujur melihat kondisi umat hari ini.
Di satu sisi, umat Islam memiliki jumlah yang besar. Tapi di sisi lain, masih terpecah dalam berbagai perbedaan yang seringkali bukan pada hal prinsip, melainkan pada perkara furu’iyah.
Perdebatan seperti:
qunut atau tidak qunut
tahlilan atau tidak tahlilan
perbedaan metode penentuan awal bulan
seringkali justru lebih menyita perhatian dibandingkan dengan persoalan besar umat.
Padahal Allah ﷻ telah mengingatkan:
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا
"Dan berpegang teguhlah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai."
(QS. Ali Imran: 103)
Ayat ini jelas menyeru persatuan, bukan perpecahan.
Menjelang Idul Adha ini, seharusnya menjadi momentum untuk kembali merenung: apakah kita sudah benar-benar memahami makna persatuan dalam Islam?
Allah ﷻ juga berfirman:
كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ
"Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia."
(QS. Ali Imran: 110)
Namun, predikat “umat terbaik” itu tidak datang begitu saja. Ada syaratnya:
menyeru kepada yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.
Artinya, umat ini akan menjadi kuat bukan karena banyaknya jumlah, tapi karena:
kesatuan visi
kesatuan tujuan
dan kesatuan dalam ketaatan kepada Allah
Realita hari ini menunjukkan bahwa umat Islam seringkali lebih mudah terpecah karena hal kecil, namun sulit bersatu dalam hal besar.
Padahal Idul Adha sendiri mengajarkan tentang:
ketaatan total Nabi Ibrahim عليه السلام
kesabaran Nabi Ismail عليه السلام
dan ketundukan tanpa syarat kepada perintah Allah
Ini bukan sekadar kisah, tapi pelajaran besar tentang bagaimana seharusnya umat ini bersikap.
Momentum 45 hari menuju Idul Adha ini seharusnya menjadi waktu untuk:
memperbaiki diri
memperkuat iman
dan mempererat ukhuwah Islamiyah
Bukan malah sibuk memperdebatkan hal-hal yang tidak prinsip.
Perbedaan dalam perkara furu’iyah adalah hal yang wajar. Tapi menjadikannya sebagai sebab perpecahan adalah sesuatu yang berbahaya.
Karena musuh umat tidak pernah lelah melihat umat ini terpecah.
Maka mari kita jadikan momentum ini sebagai ajakan untuk kembali bersatu. Bersatu dalam akidah, dalam tujuan, dan dalam upaya memperbaiki kondisi umat.
Bukan berarti menghilangkan perbedaan, tapi mampu menyikapi perbedaan dengan dewasa dan bijak.
Karena pada akhirnya, yang lebih penting bukan siapa yang paling benar dalam perkara cabang, tapi siapa yang paling ikhlas dan istiqomah dalam ketaatan kepada Allah ﷻ.
■ HIKMAH & HARAPAN ■
45 hari menuju Idul Adha bukan hanya hitungan waktu, tapi kesempatan untuk berbenah diri dan memperbaiki keadaan umat.
Semoga Allah ﷻ menyatukan hati kaum Muslimin, menghilangkan perpecahan, dan menjadikan kita bagian dari umat yang benar-benar layak disebut sebagai khairu ummah.
Mari kita songsong Idul Adha dengan iman yang lebih kuat, hati yang lebih bersih, dan semangat persatuan yang lebih kokoh.
Wallahu a’lam bishowab. []


Posting Komentar untuk "45 HARI LAGI MENUJU IDUL ADHA"