Alhamdulillah, hari ini Rabu, 5 Dzulqa’dah 1447 H atau bertepatan dengan 22 April 2026 M menurut Kalender Hijriyah Global Tunggal (KHGT) yang dipakai Muhammadiyah—sebuah sistem hisab global berbasis data imkanur ru’yat global untuk menyatukan umat Islam dalam satu tanggal. Diketahui awal bulan Dzulqa’dah kemarin jatuh pada Sabtu, 18 April 2026 M, yang sejalan juga dengan Kalender Jawa (Dulkangidah/Apit) pada Sabtu Kliwon, serta bertepatan pula dengan Kalender Ummul Qura milik Kerajaan Arab Saudi yang secara hisab juga menetapkan tanggal yang sama.
Namun dalam praktiknya, keputusan resmi di Arab Saudi tidak mengikuti kalender tersebut. Hal ini karena mereka tetap menggunakan metode rukyatul hilal dalam penentuan awal bulan Hijriyah baik saat Ramdhan maupun bukan Ramadhan. Pada Jum’at malam Sabtu, hilal dinyatakan tidak terlihat, sehingga bulan Syawal digenapkan (istikmal) menjadi 30 hari. Akibatnya, 1 Dzulqa’dah di Saudi baru jatuh pada Ahad, 19 April 2026 M—sejalan dengan keputusan pemerintah Indonesia, kriteria MABIMS, serta ormas seperti NU dan Persis.
Dengan demikian, hari ini Rabu menurut perhitungan Saudi dan pemerintah Indonesia masih berada pada tanggal 4 Dzulqa’dah, bukan tanggal 5 sebagaimana versi KHGT. Bahkan menariknya, dalam siaran langsung dari Mekkah, tanggal yang ditampilkan tetap mengikuti kalender Ummul Qura, sehingga terlihat seolah sudah masuk tanggal 5 Dzulqa’dah. Perbedaan tampilan ini sempat membingungkan banyak orang, namun ternyata inilah realita perbedaan antara kalender administratif dan keputusan rukyat.
Fenomena ini menunjukkan bahwa bahkan di pusat dunia Islam sekalipun, penentuan kalender Hijriyah belum sepenuhnya seragam. Kadang antara hisab dan rukyat tidak selalu sejalan. Bahkan dalam beberapa kasus, muncul anggapan di tengah masyarakat bahwa faktor non-teknis juga bisa memengaruhi keputusan—meskipun hal ini tentu perlu disikapi dengan bijak dan tidak tergesa-gesa dalam menilai. Yang jelas, sebagai umat Islam kita dituntut untuk kritis, memahami, sekaligus tetap menjaga adab dalam menyikapi perbedaan.
Kini, kita telah berada sekitar 35 hari lagi menuju Hari Raya Idul Adha 1447 H. Secara perhitungan kalender global seperti KHGT, Idul Adha tahun ini diprediksi akan jatuh secara serentak. Namun demikian, tetap ada potensi perbedaan yang bisa terjadi, tergantung pada hasil rukyatul hilal pada 29 Dzulqa’dah nanti. Apalagi jika kondisi cuaca tidak mendukung dan hilal terhalang mendung, maka keputusan bisa berbeda antara satu negara dengan negara lain.
Perbedaan awal Dzulqa’dah yang sudah terjadi saat ini saja sudah memberikan sinyal bahwa potensi perbedaan Idul Adha tetap terbuka. Hal ini tentu akan berdampak pada penentuan hari Arafah, wukuf di Arafah, hingga pelaksanaan ibadah qurban di berbagai negara. Di sinilah pentingnya kesadaran bahwa persoalan kalender Hijriyah bukan sekadar teknis, tetapi juga menyangkut persatuan umat secara global.
Allah ﷻ berfirman:
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللّٰهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا
“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai…”
(QS. Ali ‘Imran: 103)
Ayat ini menjadi pengingat bahwa persatuan umat adalah perintah syariat. Termasuk dalam hal penetapan waktu-waktu ibadah yang seharusnya bisa menjadi momentum kebersamaan, bukan justru perbedaan yang berulang setiap tahun.
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
الصَّوْمُ يَوْمَ تَصُومُونَ وَالْفِطْرُ يَوْمَ تُفْطِرُونَ وَالْأَضْحَى يَوْمَ تُضَحُّونَ
“Puasa adalah hari ketika kalian berpuasa, Idul Fitri adalah hari ketika kalian berbuka, dan Idul Adha adalah hari ketika kalian berkurban.”
(HR. Tirmidzi)
Hadits ini menunjukkan pentingnya kebersamaan umat dalam menetapkan waktu ibadah. Namun realitas hari ini menunjukkan bahwa umat Islam masih terpecah dalam banyak otoritas dan metode penetapan kalender.
#TanpaKhilafahUmatTerpecah
#KenapaKalenderIslamSeringBedaBeda?
■ HIKMAH & HARAPAN ■
Semua ini menunjukkan bahwa tanpa sebuah institusi yang memiliki otoritas untuk menetapkan Kalender Hijriyah Global Tunggal serta standar rukyat global bagi seluruh dunia Islam—baik untuk mengawali maupun mengakhiri Ramadhan—maka potensi perbedaan akan terus terjadi.
Persatuan umat bukan hanya dalam akidah dan ibadah, tetapi juga dalam sistem yang menyatukan arah dan keputusan. Tanpa itu, perbedaan demi perbedaan akan terus berulang setiap tahun.
Semoga ke depan umat Islam mampu menemukan jalan terbaik untuk bersatu dalam satu kalender, satu arah, dan satu kepemimpinan yang membawa kemaslahatan bagi seluruh kaum Muslimin. Tentu semua itu dapat terwujud jika Khilafah kembali tegak dan keberkahan akan kembali terasa.
Wallahu a’lam bishowab. []




Posting Komentar untuk "35 HARI LAGI MENUJU IDUL ADHA: INSYAALLOH DIPREDIKSI SERENTAK, MESKIPUN MASIH ADA POTENSI BAKAL KEMBALI BERBEDA‼️"