Malam pergantian tahun baru kemarin menjadi cermin yang jujur.
Ketika mayoritas memilih begadang, pesta pora, hura-hura, meniup terompet dan membakar waktu—sebagian kecil kaum Muslim justru memilih tidur, menjaga diri, dan menjauh dari perayaan tanpa tuntunan.
Pilihan ini bukan karena ingin terlihat berbeda.
Bukan pula karena sok suci.
Tetapi karena kebenaran memang tidak selalu sejalan dengan mayoritas.
Mayoritas Bukan Jaminan Kebenaran
Allah ﷻ sejak awal sudah mengingatkan:
وَإِن تُطِعْ أَكْثَرَ مَن فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَن سَبِيلِ اللَّهِ
“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah.”
(QS. Al-An‘am: 116)
Ayat ini keras tapi jujur.
Jumlah banyak ≠ benar.
Ramai ≠ diridhai Allah.
Inilah yang dulu juga ditekankan oleh KH. Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah:
“Kebenaran itu tidak diukur dari banyaknya pengikut.”
Islam Datang Dalam Keadaan Asing
Rasulullah ﷺ bersabda:
بَدَأَ الْإِسْلَامُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ غَرِيبًا كَمَا بَدَأَ فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ
“Islam datang dalam keadaan asing, dan akan kembali asing sebagaimana awalnya. Maka beruntunglah orang-orang yang asing (al-ghurabā’).”
(HR. Muslim)
Menjadi sedikit di tengah keramaian maksiat bukan aib, justru tanda kemuliaan.
Menjadi “aneh” karena taat, itu badge kehormatan, bukan celaan.
Banyak Jumlah, Tapi Seperti Buih
Rasulullah ﷺ juga mengabarkan kondisi umat di akhir zaman:
وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ
“Akan tetapi kalian banyak, namun seperti buih di lautan.”
(HR. Abu Dawud)
Realita hari ini?
✔️ Muslim banyak
✔️ Masjid banyak
❌ Tapi syariat ditinggalkan
❌ Hukum Allah tidak diterapkan
❌ Sekulerisme, liberalisme, hedonisme jadi standar hidup
Banyak secara kuantitas, kering secara kualitas.
Umat Terpecah, Yang Selamat Justru Sedikit
Rasulullah ﷺ bersabda:
وَسَتَفْتَرِقُ أُمَّتِي عَلَىٰ ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً كُلُّهَا فِي النَّارِ إِلَّا وَاحِدَةً
“Umatku akan terpecah menjadi 73 golongan. Semuanya di neraka kecuali satu.”
(HR. Tirmidzi)
Ketika ditanya siapa yang satu itu, beliau menjawab:
مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِي
“Yaitu yang mengikuti apa yang aku dan para sahabatku berada di atasnya.”
Lagi-lagi: bukan yang paling banyak, tapi yang paling sesuai tuntunan.
Istiqamah di Tengah Arus Zaman
Saat dunia menyeret ke:
Sekulerisme
Liberalisme
Hedonisme
Maka istiqamah menjadi pilihan yang terasa berat.
Namun justru di situlah nilai perjuangan.
Tidur ketika yang lain berpesta,
Menahan diri ketika yang lain larut,
Menjaga iman ketika arus mengalir deras—
itulah dakwah diam-diam yang mahal nilainya.
Sedikit Tapi Teguh
Allah ﷻ berfirman:
وَقَلِيلٌ مِّنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ
“Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur.”
(QS. Saba’: 13)
Sedikit bukan berarti gagal.
Sedikit justru sering berarti terpilih.
■ HIKMAH & HARAPAN ■
✔️ Jangan minder jadi minoritas dalam ketaatan
✔️ Jangan silau oleh keramaian yang kosong nilai
✔️ Lebih baik sedikit tapi benar, daripada ramai tapi menyimpang
✔️ Terus istiqamah, walau dianggap asing
✔️ Jadilah bagian dari “yang sedikit”, tapi selamat
Semoga Allah ﷻ meneguhkan langkah kita di atas kebenaran,
menjadikan kita termasuk al-ghurabā’ yang dirindukan surga,
dan menjaga hati kita agar tidak tertipu oleh mayoritas yang menyesatkan.
Wallāhu a‘lam bish-shawāb.





Posting Komentar untuk "TOLAK UKUR KEBENARAN BUKAN MAYORITAS"