RAJAB: DIMENSI RUHIYAH & KEBANGKITAN UMAT - Kajian Rutinan Masjid Al Walidain Pamalayan Kulon

 



بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ

Innalhamdalillah, nahmaduhu wa nasta’inuhu wa nastaghfiruh. Wa na’udzu billahi min syururi anfusina wa min sayyi’ati a’malina. Man yahdihillahu fala mudhilla lah, wa man yudhlil fala hadiya lah. Asyhadu alla ilaha illallah wahdahu la syarika lah, wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu wa rasuluh. Allahumma shalli ‘ala Sayyidina Muhammad wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in.

Alhamdulilah segala puji bagi Allah Rab semesta alam yang telah memberikan kita berbagai kenikmatan nikmat Iman, Islam dan sehat wal 'afiat sehingga bisa kembali terlaksana kajian rutinan pada hari Jum'at malam Sabtu, 16 Januari 2026 M atau bertepatan dengan malam Sabtu wage, 28 Rajab 1447 H. Sholawat & salam semoga selalu tercurahkan kepada junjungan kita nabi Muhammad SAW, kepada keluarga, sohabat, tabi'in tabi'ut tabi'in dan mudah-mudahan sampai pada kita semua selaku umatnya.

Kajian rutinan kembali digelar dengan pengisi kajian malam ini yaitu Ust. Dadan yang membawakan tema yang cukup menggugah para jama'ah yaitu:


Rajab Dimensi Ruhiyah & Kebangkitan Umat


Bulan Rajab adalah salah satu bulan yang sangat agung dalam kalender Hijriah. Ia bukan sekadar penanda waktu, tetapi momentum ruhiyah sekaligus sejarah bagi umat Islam. Umat Islam hidup dengan kalender Hijriah: kewajiban puasa di bulan Ramadhan, haji di bulan Dzulhijjah, dan wafatnya Rasulullah ﷺ pun dihitung dengan tahun Hijriah—63 tahun Hijriah.


Rajab dalam Kalender Hijriah dan Bulan Haram


Allah Ta’ala berfirman:


> **إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ


“Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah sejak Dia menciptakan langit dan bumi. Di antaranya ada empat bulan haram. Itulah agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi dirimu dalam bulan-bulan itu.” (QS. At-Taubah: 36)




Empat bulan haram tersebut adalah Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab (yang terpisah sendiri). Bulan-bulan ini dimuliakan oleh Allah. Amal kebaikan dilipatgandakan pahalanya, dan dosa pun dilipatgandakan keburukannya.


Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata, makna “janganlah kalian menzalimi diri kalian” adalah larangan berbuat maksiat, dan larangan ini lebih ditekankan lagi pada bulan-bulan haram.


Rajab: Bulan Menanam


Ulama menasihatkan:


Rajab adalah bulan menanam


Sya’ban adalah bulan menyiram


Ramadhan adalah bulan memanen



Tidak ada amalan khusus yang disyariatkan secara spesifik di bulan Rajab, namun umat Islam dianjurkan memperbanyak amal shalih: istighfar, puasa sunnah (Senin–Kamis, Ayyamul Bidh), dan meningkatkan ketaatan.


Doa yang masyhur:


> اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي رَجَبَ وَشَعْبَانَ وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ


“Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban, dan sampaikanlah kami ke bulan Ramadhan.




Peristiwa-Peristiwa Penting di Bulan Rajab


1. Isra’ Mi’raj: Penguatan Iman dan Kewajiban Shalat


Allah berfirman:


> سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ


“Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami.” (QS. Al-Isra’: 1)




Isra’ Mi’raj terjadi pada fase Makkah, di ‘Aamul Huzn (tahun kesedihan), setelah wafatnya Khadijah radhiyallahu ‘anha dan Abu Thalib. Peristiwa ini menjadi ujian keimanan: yang beriman semakin kokoh, yang ragu semakin ragu, dan yang kafir semakin ingkar.


Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu mendapat gelar As-Shiddiq karena membenarkan peristiwa ini tanpa ragu.


Buah terbesar Isra’ Mi’raj adalah kewajiban shalat. Shalat adalah sarana terdekat seorang hamba dengan Rabb-nya, penghilang kegundahan, kelelahan, dan kebingungan hidup. Jika shalatnya baik, maka baik pula amal lainnya.


2. Pembebasan Baitul Maqdis


Palestina adalah tanah Syam yang pernah berada di bawah kekuasaan Romawi. Pada masa Khalifah Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu, Baitul Maqdis dibebaskan dan menjadi wilayah kaum Muslimin.


Setelah sempat direbut kembali oleh pasukan salib, pada bulan Rajab pula Shalahuddin Al-Ayyubi berhasil membebaskan kembali Baitul Maqdis. Tanah Palestina adalah tanah kharajiyah, milik kaum Muslimin secara syar’i.


Penjajahan hari ini atas Palestina adalah kezaliman besar. Membiarkan penderitaan saudara seiman tanpa kepedulian adalah dosa, karena ukhuwah Islamiyah tidak dibatasi oleh batas negara.


3. Runtuhnya Daulah Islam Terakhir


Rasulullah ﷺ bukan hanya Nabi dan Rasul, tetapi juga kepala negara di Madinah. Bukti sejarahnya adalah Piagam Madinah, perjanjian-perjanjian politik, dan peperangan antar-negara.


Kepemimpinan Islam berlanjut dari Khulafaur Rasyidin, Bani Umayyah, Abbasiyah, Ayyubiyah, hingga Daulah Utsmaniyah, selama hampir 13 abad.


Pada 28 Rajab 1342 H, Daulah Islam Utsmaniyah diruntuhkan oleh Mustafa Kemal. Sejak saat itu, umat Islam terpecah menjadi lebih dari 50 negara dan sistem sekuler diterapkan—agama dipisahkan dari kehidupan.


Dampaknya dirasakan hingga hari ini: adzan pernah dipaksa berbahasa Turki, hukum Islam ditinggalkan, dan kehormatan umat Islam di berbagai negeri terinjak-injak.


Islam Rahmatan lil ‘Alamin dalam Naungan Negara


Dalam Daulah Islam, darah, harta, kehormatan, dan agama seluruh warga—termasuk non-Muslim—terjamin. Inilah realisasi rahmatan lil ‘alamin.


Maqashid Syariah terjaga:


Hifzhud Din (agama)


Hifzhun Nafs (jiwa)


Hifzhul ‘Aql (akal)


Hifzhul Mal (harta)


Hifzhul ‘Irdh (kehormatan)



Semua ini membutuhkan negara sebagai pelindungnya.


Hikmah & Harapan


1. Rajab adalah bulan penuh kemuliaan; amal dilipatgandakan, maksiat pun dilipatgandakan dosanya.



2. Islam bukan sekadar agama ritual, tetapi sistem hidup yang sempurna, mengatur dari bangun tidur hingga bangun negara.



3. Persatuan umat dan penerapan syariat Islam secara kaffah adalah jalan terwujudnya rahmatan lil ‘alamin bagi seluruh manusia.




Wallahu a’lam bish-shawab.



Posting Komentar untuk "RAJAB: DIMENSI RUHIYAH & KEBANGKITAN UMAT - Kajian Rutinan Masjid Al Walidain Pamalayan Kulon"