🍃Dakwah Nabi: Tauladan Terbaik - Kajian ObSeSi (Obrolan Seputar Islam)☕

 



بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ


Segala puji bagi Allah ﷻ yang telah melimpahkan begitu banyak nikmat kepada kita—nikmat iman, Islam, kesehatan, waktu, dan kesempatan untuk terus berada di majelis ilmu dan dakwah. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad ﷺ, teladan terbaik dalam seluruh aspek kehidupan, khususnya dalam perjuangan dakwah.


Dakwah Nabi: Tauladan Terbaik


Kajian OBSESI (Obrolan Seputar Islam)

Masjid Ath-Thahiriyyah, Maleber – Ciamis

Kamis malam Jum’at Pon, 27 Rajab 1447 H / 15 Januari 2026 M

Pemateri: Ustadz Dimas Prasetia


Dakwah dan Kebahagiaan: Dua Sisi yang Tak Terpisahkan


Ustadz Dimas mengawali kajian dengan penekanan penting:

kebahagiaan sejati hanya hadir ketika Allah ridha, dan dakwah adalah salah satu jalan meraih ridha tersebut.

Dakwah dengan bahagia, dan bahagia karena dakwah—ibarat dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Banyak hal yang secara naluri terasa nikmat bagi manusia, seperti minum kopi atau merokok. Namun Islam mengajarkan bahwa standar kebahagiaan bukan perasaan manusia, melainkan ridha Allah.

Minum kopi dan minum khamr sama-sama “minum”, tapi Islam membedakan secara tegas mana yang halal dan mana yang haram. Jika kebenaran diserahkan pada standar manusia, maka akan lahir ribuan persepsi yang saling bertabrakan.

Dalam Nizhamul Islam karya Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani dijelaskan bahwa qiyadah fikriyah Islam menjadikan ridha Allah sebagai tolok ukur kebahagiaan hidup.


Hakikat Dakwah: Kepedulian dan Kasih Sayang


Dakwah bukan sekadar ceramah, tapi wujud kepedulian dan kasih sayang.

Da‘a ilal Islam—mengajak manusia kepada Islam.

Dakwah kepada Muslim: untuk meningkatkan ketakwaannya

Dakwah kepada kafir: menyeru agar masuk Islam

Dakwah bukan hanya tugas ulama atau kyai, melainkan kewajiban seluruh umat Islam

Setiap Muslim yang mukallaf (baligh dan berakal) telah terkena kewajiban dakwah. Amar ma’ruf nahi munkar bukan pilihan, tetapi perintah syar’i.

“Dan siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah…” (QS. Fushshilat: 33)


Dakwah Itu Wajib, Bukan Opsional


Di bulan Rajab, umat Islam sering hanya mengingat Isra’ Mi‘raj. Padahal Rajab juga sarat peristiwa dakwah besar: Perang Tabuk, kewajiban shalat, hingga Sidratul Muntaha.

Jika kita berpikir sejenak:

bagaimana jadinya dunia tanpa dakwah?

Sementara kaum kafir, munafik, dan sekuler pun melakukan “dakwah” ideologi mereka, maka umat Islam justru tidak boleh diam.

Dakwah jika dikerjakan berpahala, jika ditinggalkan berdosa.

Dakwah tidak menunggu sempurna. Rasulullah ﷺ bersabda:

“Ballighu ‘anni walau ayah” – sampaikan walau satu ayat.


Dakwah: Diterima atau Ditolak, Tetap Jalan


Ustadz Dimas mengutip analogi Ust. Ismail Yusanto:

berdagang hanya punya dua kemungkinan—laku atau tidak.

Begitu pula dakwah: diterima atau ditolak. Tidak ada zona abu-abu.

Jika diterima → Alhamdulillah

Jika ditolak → Sabar

Penolakan hari ini bisa jadi penerimaan di masa depan. Maka dakwah tidak boleh berhenti, karena berhenti berarti tidak sabar.


Dakwah Harus dengan Ilmu dan Hikmah


Allah memerintahkan:

“Serulah ke jalan Rabb-mu dengan hikmah, pelajaran yang baik, dan debat dengan cara yang terbaik.” (QS. An-Nahl: 125)

Dakwah harus bersandar pada Al-Qur’an dan Sunnah, disampaikan dengan hikmah, namun tetap tegas menyampaikan kebenaran, meski pahit.


Dakwah Itu Pasti Mampu Kita Lakukan


Ayat “La yukallifullahu nafsan illa wus‘aha” sering disalahgunakan untuk membenarkan kemalasan. Padahal Allah tidak membebani kecuali karena kita mampu.

Kita hanyalah pelaksana tugas. Nabi ﷺ juga manusia seperti kita—punya naluri dan kebutuhan fisik. Jika beliau mampu, maka kita pun mampu, selama mau.


Dakwah Tidak Bisa Sendirian: Harus Berjamaah


Dakwah tidak dicontohkan secara individual, tetapi berjamaah:

“Dan hendaklah ada di antara kalian segolongan umat yang menyeru kepada kebaikan…” (QS. Ali ‘Imran: 104)

“…dan saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran.” (QS. Al-‘Ashr: 3)

Dakwah itu berat. Rasulullah ﷺ diboikot Quraisy, dihina, dilempari kotoran di Thaif, dituduh penyair gila dan pendusta. Jika Nabi saja diuji, apalagi kita.

Karena itu, sendirian tidak akan kuat. Jamaah adalah keniscayaan, meski di dalamnya ada beragam karakter. Para sahabat pun berbeda-beda, namun tetap solid dalam dakwah.


HIKMAH & HARAPAN


Dakwah adalah perintah Allah dan Rasul-Nya

Dikerjakan berpahala, ditinggalkan berdosa

Dakwah tidak boleh sendiri, harus berjamaah

Momentum Rajab seharusnya menambah kecintaan kepada Rasulullah ﷺ

Kita mampu taat, mampu meninggalkan riba, maksiat, dan kemungkaran

Kita mampu menjadi pejuang dakwah yang mengupayakan tegaknya syariat Islam secara kaffah

Mudah-mudahan Allah mengistiqamahkan langkah kita di jalan dakwah, menerima amal kita, dan mengumpulkan kita bersama Nabi ﷺ di surga-Nya. Aamiin.

Wallahu a'lam bisshowab...,,

Posting Komentar untuk "🍃Dakwah Nabi: Tauladan Terbaik - Kajian ObSeSi (Obrolan Seputar Islam)☕"