Waktu Solat: Tiang Agama yang tak boleh rubuh!☝️- Kajian Rutinan Malam Ahad PC Muhammadiyah Mangunjaya✨

 



Bismillāhir-raḥmānir-raḥīm.

Masjid Al-Islah, Mangunjaya – Pangandaran

Sabtu Malam Ahad, 6 Desember 2025 / 17 Jumada al-Akhirah 1447 H

Pemateri: KH. Sutarman Rasyid,


Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam, yang telah melimpahkan kepada kita rahmat dan nikmat-Nya sehingga malam ini kita kembali dipertemukan dalam kajian rutin JiMad—ngaji malam Ahad—untuk memperkuat iman, memperdalam ilmu, dan meneguhkan komitmen kita dalam meneladani syariat Islam secara paripurna. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad ﷺ, keluarga beliau, para sahabat, tabi’in, tabi’ut tabi’in, dan kepada kita semua yang berusaha istiqamah mengikuti setiap tuntunan yang beliau wariskan, yakni syariat Islam yang kaffah.


Alhamdulillāh, kajian malam ini kembali mengangkat tema fundamental yang menjadi pusat kehidupan seorang muslim: menegakkan shalat sebagai tiang agama yang tidak boleh goyah, bahkan dalam kondisi paling genting sekalipun. 



---


Shalat: Kewajiban yang Tidak Pernah Gugur


Shalat adalah ibadah yang tidak pernah gugur dalam situasi apa pun. Berbeda dengan zakat, puasa, atau haji yang terikat syarat kemampuan, shalat adalah kewajiban yang tetap harus ditegakkan, baik seseorang berada dalam keadaan sehat ataupun sakit, perjalanan ataupun mukim, aman ataupun dalam suasana perang. Inilah bentuk kemuliaan sekaligus keseriusan tuntunan shalat.


Allah berfirman:


﴿ فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ ﴾


“Bertakwalah kalian kepada Allah sesuai kemampuan kalian.”

(QS. At-Taghābun: 16)


Ayat ini menjadi dasar bahwa ketika kemampuan fisik melemah, cara shalatnya yang berubah—bukan kewajibannya yang gugur. Dari berdiri menjadi duduk, dari duduk menjadi berbaring, dari berbaring menjadi isyarat mata, bahkan jika tak mampu menggerakkan tubuh, shalat tetap ditegakkan dengan gerak hati.



---


Iqāmat ash-Shalāh: Menegakkan Agama


Shalat bukan sekadar kewajiban rutin, tetapi simbol tegaknya agama di tengah umat. Karena itu, bahkan dalam peperangan pun Rasulullah ﷺ tetap memimpin shalat berjamaah. Syariat menetapkannya melalui shalatul khauf, sebagai bukti bahwa shalat adalah pilar kehidupan beragama yang tidak boleh runtuh.


Allah berfirman:


﴿ وَإِذَا كُنْتَ فِيهِمْ فَأَقَمْتَ لَهُمُ الصَّلَاةَ ﴾


“Apabila engkau (wahai Nabi) berada bersama mereka lalu engkau mendirikan shalat bagi mereka…”

(QS. An-Nisā’: 102)


Ayat ini menunjukkan bahwa shalat berjamaah tetap ditegakkan meski kondisi genting dan penuh ancaman. Shalat bukan sekadar ritual, melainkan tanda bahwa agama masih hidup dalam masyarakat.



---


Syariat Adzan: Tanda Hidupnya Syariat di Tengah Umat


Adzan adalah panggilan resmi dalam syariat Islam untuk memberitahukan masuknya waktu shalat wajib. Panggilan ini tidak boleh diganti, ditambah-tambah, atau dialihkan untuk fungsi-fungsi lain di luar tuntunan.


Allah menyebut adzan sebagai pengumuman yang bersumber dari wahyu:


﴿ وَأَذَانٌ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ ﴾


“Dan suatu pengumuman dari Allah dan Rasul-Nya…”

(QS. At-Taubah: 3)


Adzan bukan sekadar rutinitas, tetapi syiar tauhid, tanda tegaknya aturan Allah di sebuah negeri, dan pengingat bahwa kenikmatan dunia tidak boleh membuat manusia lalai dari kewajiban mereka kepada Rabbul ‘Alamin.



---


Keutamaan Shaf Pertama dan Muadzin


Rasulullah ﷺ menegaskan tingginya kedudukan mereka yang berada di shaf pertama. Dalam hadits shahih disebutkan:


﴿ لَوْ يَعْلَمُ النَّاسُ مَا فِي النِّدَاءِ وَالصَّفِّ الأَوَّلِ لَاسْتَهَمُوا عَلَيْهِ ﴾


“Seandainya manusia mengetahui keutamaan adzan dan shaf pertama, lalu mereka tidak mendapatkannya kecuali dengan mengundi, niscaya mereka akan mengundi.”

(HR. Bukhari)


Dan tentang keutamaan muadzin:


﴿ أَطْوَلُ النَّاسِ أَعْنَاقًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ الْمُؤَذِّنُونَ ﴾


“Manusia yang paling panjang lehernya pada hari kiamat adalah para muadzin.”

(HR. Muslim)


Ini menggambarkan betapa tingginya kehormatan bagi mereka yang menjaga panggilan syariat setiap waktu. Adzan bukan pekerjaan sepele—melainkan pengangkatan derajat di hadapan Allah.


Bahkan setan pun lari ketakutan ketika adzan dikumandangkan:


﴿ إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ أَدْبَرَ الشَّيْطَانُ وَلَهُ ضُرَاطٌ ﴾


“Apabila adzan dikumandangkan, setan lari sambil kentut karena takut.”

(HR. Bukhari)



---


Bilal: Muadzin Pertama yang Dipilih Nabi ﷺ


Syariat adzan mulai ditegakkan setelah Abdullah bin Zaid bermimpi tentang lafadz adzan, lalu Nabi ﷺ membenarkannya dan memilih Bilal sebagai orang pertama yang mengumandangkannya. Dalam hadits disebutkan:


﴿ يَا بِلَالُ قُمْ فَأَذِّنْ لِلصَّلَاةِ ﴾


“Wahai Bilal, berdirilah dan kumandangkan adzan!”

(HR. Abu Dawud)


Inilah panggilan pertama yang menggema menandai tegaknya agama di Madinah.



---


Penutup: Syariat Hidup, Umat Kuat


Menjaga waktu shalat berarti menjaga struktur agama. Menegakkan adzan berarti menjaga syiar tauhid tetap berdiri. Bersegera menuju shaf pertama adalah tanda kepekaan seorang hamba terhadap perintah Allah. Menghidupkan shalat berjamaah adalah cermin keseriusan sebuah komunitas dalam menegakkan syariat secara utuh.


Di tengah gempuran gaya hidup modern Sekuler-Liberal yang menidurkan kesadaran umat, kembali pada shalat—tepat waktu, berjamaah, sesuai tuntunan—adalah langkah awal menuju kebangkitan Islam yang hakiki.


Wallāhu a‘lam bish-shawāb.


Posting Komentar untuk "Waktu Solat: Tiang Agama yang tak boleh rubuh!☝️- Kajian Rutinan Malam Ahad PC Muhammadiyah Mangunjaya✨"