MERAYAKAN TAHUN BARU TIDAK ADA TUNTUNANNYA

 






Bismillāhirraḥmānirraḥīm.

Segala puji hanya milik Allah ﷻ yang telah memberi kita umur, waktu, dan akal untuk berpikir. Shalawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, teladan terbaik dalam seluruh aspek kehidupan—bukan hanya ibadah ritual, tetapi juga cara memandang waktu, budaya, dan peradaban.

Setiap akhir Desember, dunia kembali sibuk menyambut tahun baru Masehi. Terompet ditiup, kembang api dinyalakan, begadang massal dilakukan, bahkan tak jarang diiringi kemaksiatan. Ironisnya, semua itu banyak dilakukan di negeri-negeri kaum Muslimin. Pertanyaannya sederhana tapi mendasar: di mana tuntunannya dalam Islam?


Islam Punya Standar: Ibadah Itu Tauqīfī

Dalam Islam, ibadah mahdhah tidak boleh dibuat-buat. Prinsipnya jelas: harus ada dalil.

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa mengada-adakan dalam urusan (agama) kami ini sesuatu yang tidak ada tuntunannya, maka amalan itu tertolak.”

(HR. al-Bukhārī no. 2697 dan Muslim no. 1718)

Merayakan malam tahun baru—dengan pengkhususan waktu, ritual tertentu, dan euforia massal—tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah ﷺ, para sahabat, maupun generasi terbaik umat ini.


Tasyabbuh: Menyerupai Tradisi Non-Muslim

Perayaan tahun baru Masehi berasal dari tradisi Romawi dan peradaban Barat non-Islam. Simbol-simbolnya pun sarat makna agama lain:

Terompet & lonceng → identik dengan ritual Yahudi–Nasrani

Kembang api → berasal dari tradisi Majusi

Hitung mundur & pesta malam → budaya hedonisme modern

Rasulullah ﷺ mengingatkan:

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

“Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk bagian dari mereka.”

(HR. Abū Dāwud no. 4031)

Ini bukan soal benci atau intoleransi, tapi soal identitas dan prinsip. Islam punya cara sendiri dalam memaknai waktu dan kehidupan.


Makan Bersama & Bakar-bakaran: Boleh, Tapi…

Makan bersama, bakar ayam atau jagung tidak haram. Namun, ketika:

dikhususkan pada malam tahun baru,

diniatkan sebagai perayaan tahunan,

dianggap “momen spesial” keagamaan atau kebiasaan rutin,

maka ia berubah menjadi pengkhususan tanpa dalil. Padahal, semua itu bisa dilakukan kapan saja, tanpa harus mengikuti kalender dan budaya non-Islam.


Tahun Berganti, Tapi Hakikat Malam Tetap Sama

Islam tidak mengenal malam sakral bernama “malam tahun baru”. Hakikatnya, malam 31 Desember sama saja dengan malam-malam lainnya.

Allah ﷻ berfirman:

وَالْعَصْرِ ۝ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ

“Demi masa. Sungguh manusia benar-benar berada dalam kerugian.”

(QS. al-‘Ashr [103]: 1–2)

Kerugian bukan karena tahun berganti, tapi karena waktu dihabiskan tanpa ketaatan.


Musibah di Akhir Tahun: Saatnya Muhāsabah

Akhir tahun 2025 ditandai dengan berbagai musibah: banjir, angin puting beliung, bencana sosial, dan krisis moral. Islam mengajarkan kita untuk bermuhāsabah, bukan berpesta.

Allah ﷻ berfirman:

وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ

“Musibah apa pun yang menimpa kalian adalah akibat dari perbuatan tangan kalian sendiri.”

(QS. asy-Syūrā [42]: 30)

Bisa jadi, ini bukan sekadar bencana alam, tapi peringatan ideologis—karena manusia dan negara semakin jauh dari aturan Allah ﷻ.


Pilihan Terbaik: Tidur, Istirahat, dan Bangun Taat

Alih-alih begadang menunggu jam 00.00, lebih selamat:

tidur lebih awal,

bangun untuk shalat Subuh,

memulai hari dengan ketaatan.

Inilah sikap seorang Muslim yang sadar bahwa kemuliaan waktu bukan ditentukan kalender Romawi, tetapi oleh bagaimana ia digunakan untuk taat kepada Allah.


■ HIKMAH & HARAPAN ■

Selama umat masih ikut-ikutan tradisi tanpa dalil, krisis pemikiran akan terus berulang. Semoga Allah ﷻ membimbing kita untuk memandang hidup dengan kacamata Islam, bukan sekadar mengikuti arus budaya global. Jadikan setiap pergantian waktu sebagai momentum taubat, bukan pesta tanpa tuntunan.

Wallāhu a‘lam bish-shawāb.









Posting Komentar untuk "MERAYAKAN TAHUN BARU TIDAK ADA TUNTUNANNYA"