Segala puji hanya milik Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, sang pembawa cahaya Islam yang dengannya lahir peradaban agung, yang bukan hanya mengatur ibadah ritual, tetapi juga mengatur kehidupan secara menyeluruh.
Pada Selasa pagi, 22 Desember 2025 M / 2 Rajab 1447 H, umat Islam kembali diuji dengan kabar duka. Seorang tokoh dakwah, penggerak masjid, dan teladan keikhlasan telah dipanggil oleh Allah.
Beliau adalah KH. Muhammad Jazir ASP, Ketua Dewan Syuro Masjid Jogokariyan sekaligus Ketua Pimpinan Ranting Muhammadiyah Jogokariyan.
Beliau telah wafat, namun jejak dakwahnya hidup dan terus berjalan.
Masjid Bukan Sekadar Tempat Sujud
Bagi KH. Muhammad Jazir ASP, masjid bukan hanya tempat shalat lima waktu. Masjid adalah jantung umat. Dari masjidlah umat dibina, disadarkan, dicerdaskan, dan digerakkan.
Beliau membuktikan bahwa ketika masjid diurus dengan iman, ilmu, dan keberanian, maka masjid akan penuh tanpa harus dipaksa.
Subuh di Jogokariyan bukan sekadar ramai—tetapi menggetarkan.
Banyak yang berkata, “Shalat Subuh di Jogokariyan rasanya seperti Shalat Jumat.”
Itu bukan sulap. Itu hasil kesungguhan dakwah.
Masjid Mengurusi Umat, Bukan Menghakimi
Salah satu warisan besar beliau adalah prinsip:
“Masjid harus melayani, bukan mengadili.”
– Sandal jamaah hilang? Diganti.
– Jamaah baru datang? Disambut.
– Latar belakang berbeda? Diterima.
Masjid Jogokariyan terbuka untuk siapa saja:
Muhammadiyah, NU, Salafi, Hizbut Tahrir, bahkan mereka yang baru belajar Islam.
Tidak ada sekat ormas, tidak ada stigma. Yang ada hanyalah ukhuwah dan dakwah.
Inilah wajah Islam yang tegas dalam prinsip, lembut dalam pendekatan.
Berani Bicara Politik, Karena Islam Mengatur Kehidupan
KH. Muhammad Jazir ASP juga dikenal tegas menyampaikan bahwa masjid tidak boleh dibungkam dari urusan umat, termasuk persoalan politik.
Bukan politik praktis murahan, tapi politik umat.
Beliau mengingatkan bahwa Islam tidak boleh dipersempit hanya menjadi urusan sajadah dan tasbih.
Allah Ta‘ālā berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً
“Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara kaffah (menyeluruh).”
(QS. Al-Baqarah: 208)
Ayat ini hidup dalam praktik dakwah beliau.
Masjid Jogokariyan menjadi contoh nyata bahwa Islam kaffah bukan slogan, tapi sistem kehidupan.
Hidup untuk Dakwah, Pergi dalam Husnul Khatimah
Beliau tidak mengejar popularitas.
Tidak sibuk pencitraan.
Hidupnya sederhana, tetapi pengaruhnya mendunia.
Gagasan-gagasan beliau tentang pengelolaan masjid telah ditiru oleh ribuan masjid, bahkan sampai luar negeri. Maka pantas bila banyak yang menyebut beliau sebagai “Bapak Kemasjidan Dunia.”
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِذَا مَاتَ ابْنُ آدَمَ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ
“Jika anak Adam wafat, terputuslah amalnya kecuali tiga: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.”
(HR. Muslim)
Ilmu, teladan, dan sistem yang beliau tinggalkan—insyaAllah—terus mengalir sebagai amal jariyah.
■ HIKMAH & HARAPAN ■
KH. Muhammad Jazir ASP telah kembali kepada Rabb-nya.
Namun dakwah tidak boleh ikut wafat.
Kini giliran kita—para jamaah, syabab, dan pengemban dakwah—untuk melanjutkan nyala api masjid.
Menjadikan masjid sebagai pusat kebangkitan umat.
Berani menyuarakan Islam secara kaffah.
Dan tetap merangkul, bukan memukul.
Semoga Allah menerima seluruh amal beliau, mengampuni khilafnya, dan menempatkannya di Jannatun Na‘īm.
Semoga kita semua diberi kekuatan untuk meneladani, bukan sekadar mengenang.
Wallāhu a‘lam bish-ṣawāb.





Posting Komentar untuk "Mengenal KH. Muhammad Jazir ASP: Ketua Dewan Syuro Masjid Jogokariyan / Bapak Kemasjidan se Dunia & Ketua Pimpinan Ranting Muhammadiyah Jogokariyan"