Ahad bukan sekadar hari libur. Ia adalah momentum menguatkan tekad, meluruskan niat, dan menambah energi dakwah. Ahad ini istimewa: Ahad terakhir di bulan Desember 2025. Bukan untuk merayakan pergantian tahun, melainkan untuk muhasabah dan mengokohkan istiqamah di tengah kondisi umat yang kian semrawut.
---
Potret Kerusakan Zaman
Kerusakan hari ini bukan rahasia. Zina dan pacaran dianggap biasa, penyimpangan perilaku kian terang-terangan, bahkan dilindungi atas nama “hak asasi manusia”. Di sisi lain, bencana alam silih berganti: banjir di berbagai wilayah Sumatera, angin puting beliung di Ciamis (Cijeungjing), dan musibah lain yang menguji keimanan umat.
Kerusakan sosial dan musibah alam ini bukan peristiwa terpisah. Ia adalah peringatan dan akibat dari kerusakan ideologis yang lebih dalam.
---
Akar Masalah: Musibah Ideologis
Masalah utama umat bukan sekadar ekonomi, moral, atau kebijakan teknis. Akar masalahnya adalah ideologi kapitalisme-sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan. Hukum Allah ditinggalkan, sementara hawa nafsu dan kepentingan materi dijadikan kompas.
Allah SWT berfirman:
> ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar-Rum: 41)
---
Kapitalisme dan Pengabaian Syariat
Kapitalisme mengukur segalanya dengan untung-rugi materi. Pendidikan diarahkan untuk kerja–kerja–kerja, bukan berpikir kritis tentang arah hidup dan tanggung jawab umat. Hasilnya, lahir generasi yang sibuk mengejar karier, gelar, dan status—sementara penderitaan umat dianggap urusan pinggiran.
Padahal Islam datang sebagai sistem hidup menyeluruh.
Allah SWT berfirman:
> يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً
“Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhan.” (QS. Al-Baqarah: 208)
---
Peran Syabab dan Pengemban Dakwah
Di tengah kekacauan ini, peran syabab dan pengemban dakwah sangat menentukan. Baik yang istiqamah posting dakwah tiap subuh, yang konsisten menyebar buletin pekanan, yang mengajak ngopi sambil kajian, maupun yang rajin hadir dari majelis ke majelis—semua adalah mata rantai kebaikan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
> مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ، وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ
“Barang siapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka ubahlah dengan tangannya; jika tidak mampu, dengan lisannya; jika tidak mampu, dengan hatinya—dan itu selemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim, no. 49)
---
Istiqamah di Tengah Fitnah
Istiqamah bukan perkara ringan. Fitnah zaman membuat lelah, cibiran menguji kesabaran, dan hasil dakwah tak selalu tampak cepat. Namun Allah menjanjikan pertolongan bagi mereka yang teguh.
> إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ
“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, ‘Tuhan kami adalah Allah’ kemudian mereka istiqamah, maka malaikat akan turun kepada mereka…” (QS. Fussilat: 30)
---
■ HIKMAH & HARAPAN ■
Ahad ini mari kita perbarui semangat. Musibah adalah peringatan, kerusakan adalah tanda, dan dakwah adalah jalan perubahan. Jangan lelah mengingatkan, jangan ragu berpikir mendalam tentang akar masalah, dan jangan berhenti melangkah di jalan kebenaran.
Mugo-mugo tansah diparingaken sehat, kuat iman, dan istiqamah dalam dakwah. Aamiin.
Wallahu a‘lam bish-shawab.





Posting Komentar untuk "MARI TERUS SEMANGAD DI HARI AHAD, MUGO-MUGO TANSAH DIPARINGAKEN SEHAD"