ISLAM MENGAJARKAN TOLERANSI NAMUN TIDAK DENGAN KOLABORASI‼️

 





Bismillāhir-raḥmānir-raḥīm.

Segala puji bagi Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, pembawa risalah Islam yang lurus dan menyelamatkan umat manusia dari kegelapan menuju cahaya kebenaran.

Hari ini Kamis, 5 Rajab 1447 H / 25 Desember 2025 M, bertepatan dengan perayaan Natal umat Nasrani. Di momen seperti ini, kembali muncul wacana “toleransi” yang digaungkan ke mana-mana. Namun sayangnya, toleransi yang dipraktikkan hari ini sering kali kebablasan, bahkan menjurus pada kolaborasi akidah yang jelas-jelas bertentangan dengan Islam.

Islam bukan agama eksklusif yang memusuhi pemeluk agama lain, tetapi juga bukan agama yang cair hingga mencampuradukkan keyakinan. Di sinilah umat Islam harus jernih membedakan: mana toleransi, mana kompromi akidah.


Toleransi dalam Islam: Tegas, Jelas, dan Bermartabat

Islam mengajarkan toleransi dengan sangat jelas. Umat Islam dilarang memaksa orang lain masuk Islam, sekaligus dilarang ikut serta dalam ritual agama lain.

Allah Ta‘ālā berfirman:

لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ ۖ قَد تَّبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ

“Tidak ada paksaan dalam beragama. Sungguh telah jelas jalan yang benar dari jalan yang sesat.”

(QS. Al-Baqarah: 256)

Ayat ini menegaskan bahwa Islam menghormati pilihan keyakinan manusia. Namun, menghormati bukan berarti membenarkan, dan membiarkan bukan berarti ikut merayakan.

Allah juga berfirman dengan sangat tegas:

لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ

“Untukmu agamamu, dan untukku agamaku.”

(QS. Al-Kāfirūn: 6)

Inilah batas toleransi Islam: hidup berdampingan tanpa mencampuradukkan akidah.


Toleransi Ala Barat: Akar Masalahnya

Fenomena “toleransi kebablasan” hari ini sejatinya lahir dari kerangka berpikir Barat, bukan dari Islam. Setidaknya ada tiga pilar ideologis yang menyusup:

• Sekulerisme – faṣlud-dīn ‘anil-ḥayāh

Agama dipisahkan dari kehidupan. Islam dipaksa diam di masjid, tak boleh bicara urusan publik, apalagi politik dan kebijakan.

• Relativisme

Kebenaran dianggap relatif. Akibatnya, umat Islam dibuat ragu: seolah-olah semua ajaran sama benarnya.

• Pluralisme Agama

Semua agama dianggap sama dan menuju Tuhan yang sama. Padahal Islam dengan tegas menolak konsep ini.

Allah Ta‘ālā berfirman:

إِنَّ الدِّينَ عِندَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ

“Sesungguhnya agama di sisi Allah hanyalah Islam.”

(QS. Āli ‘Imrān: 19)

Dan firman-Nya:

وَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ

“Barang siapa mencari agama selain Islam, maka tidak akan diterima darinya.”

(QS. Āli ‘Imrān: 85)

Ini bukan kebencian, tetapi ketegasan akidah.


Iman Tidak Bisa Setengah-Setengah

Allah mengingatkan umat Islam agar tidak beriman secara parsial:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً

“Wahai orang-orang yang beriman, masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan (kaffah).”

(QS. Al-Baqarah: 208)

Dan Allah juga memperingatkan bahaya iman setengah-setengah:

أَفَتُؤْمِنُونَ بِبَعْضِ الْكِتَابِ وَتَكْفُرُونَ بِبَعْضٍ

“Apakah kalian beriman kepada sebagian Al-Kitab dan ingkar terhadap sebagian yang lain?”

(QS. Al-Baqarah: 85)

Inilah penyakit umat hari ini: Islam diterima sebagai ritual, tapi ditolak ketika mengatur kehidupan.


Toleransi yang Benar

Islam mengajarkan:

• Membiarkan mereka beribadah sesuai keyakinannya

•     Tidak mengganggu, tidak menghina

•     Menjaga keadilan dan kemanusiaan

Namun tidak ikut ritual, tidak mengucapkan pengakuan akidah seperti "selamat natal" misal, dan tidak berkolaborasi atas nama toleransi.

Nabi ﷺ bersabda:

“Barang siapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk bagian dari mereka.”

(HR. Abu Dawud no. 4031)


■ HIKMAH & HARAPAN ■

Toleransi sejati tidak lahir dari sekulerisme, tetapi dari akidah Islam yang kokoh. Selama umat Islam memahami Islam secara kaffah, mereka akan mampu hidup berdampingan tanpa kehilangan jati diri.

Semoga umat ini kembali cerdas membedakan antara rahmat dan kompromi, antara akhlak dan akidah, serta kembali menjadikan Islam sebagai aturan hidup yang utuh, bukan sekadar simbol.

Wallāhu a‘lam bish-ṣawāb.







Posting Komentar untuk "ISLAM MENGAJARKAN TOLERANSI NAMUN TIDAK DENGAN KOLABORASI‼️"