Dalam perjalanan dakwah Islam, munculnya berbagai organisasi dan kelompok dakwah seperti Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama (NU), Persatuan Islam (Persis), Salafi, MTA, Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), dan FPI sejatinya merupakan hal yang lumrah.
Masing-masing berdiri dengan niat untuk menegakkan kalimatullah dan menyebarkan Islam secara kaffah.
Namun, masalah muncul ketika sebagian umat justru menjadikan ormas sebagai identitas utama, bukan lagi Islam itu sendiri. Padahal sejatinya ormas hanyalah “wadah dakwah”, bukan “agama baru” yang layak difanatikkan.
---
⚔️ Bahaya Fanatisme Kelompok (Ashobiyah)
Rasulullah ﷺ dengan tegas memperingatkan tentang bahaya ashobiyah — yakni fanatisme terhadap kelompok, suku, bangsa, atau golongan tertentu.
Beliau bersabda:
> عَنْ جُبَيْرِ بْنِ مُطْعِمٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ قَالَ:
«لَيْسَ مِنَّا مَنْ دَعَا إِلَى عَصَبِيَّةٍ، وَلَيْسَ مِنَّا مَنْ قَاتَلَ عَلَى عَصَبِيَّةٍ، وَلَيْسَ مِنَّا مَنْ مَاتَ عَلَى عَصَبِيَّةٍ»
“Bukan termasuk golongan kami orang yang menyeru kepada fanatisme (‘ashobiyah), bukan termasuk golongan kami orang yang berperang karena ‘ashobiyah, dan bukan termasuk golongan kami orang yang mati di atas ‘ashobiyah.”
(HR. Abu Dawud, no. 5119)
Fanatisme seperti ini membuat umat terpecah-belah, merasa kelompoknya paling benar, dan menolak kebenaran hanya karena datang dari kelompok lain.
Padahal Islam melarang merasa superior karena ormas atau identitas kelompok.
---
🤝 Islam Mengajarkan Ukhuwah, Bukan Fanatisme
Allah Ta‘ala berfirman:
> إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ
“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara.”
(QS. Al-Ḥujurāt [49]: 10)
Dan Rasulullah ﷺ bersabda:
> الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ، لَا يَظْلِمُهُ وَلَا يَخْذُلُهُ
“Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya. Ia tidak menzhaliminya dan tidak membiarkannya (dizhalimi).”
(HR. Bukhari no. 2442, Muslim no. 2580)
Maka, siapa pun yang beriman dan bersyahadat, mereka adalah ikhwah (saudara) kita.
Entah dia dari Muhammadiyah, NU, Persis, HTI, atau lainnya — semua umat Islam satu tubuh.
---
🧩 Ketika Wadah Jadi Tujuan
Masalah besar muncul ketika wadah dakwah dijadikan tujuan utama, bukan sebagai sarana.
Contohnya misal, seringkali muncul slogan-slogan seperti:
> “Siapa kita?” → “NU!”
“NKRI?” → “Harga mati!”
“Aswaja?” → “Aqidah kita!”
“Nusantara?” → “Milik kita!”
Padahal seharusnya jawaban yang benar adalah:
> “Siapa kita?” → “Muslim!”
“Apa harga mati?” → “Syariat Islam!”
“Aqidah kita?” → “Tauhid!”
“Milik siapa bumi ini?” → “Milik Allah!”
Fanatisme seperti ini menjadikan Islam sebagai identitas sekunder, padahal seharusnya Islam adalah identitas utama.
---
🌍 Nasionalisme = Ashobiyah Modern
Ashobiyah tidak hanya terbatas pada fanatisme kelompok agama, tapi juga termasuk nasionalisme sempit — rasa cinta berlebihan pada bangsa hingga menolak kesatuan umat Islam global.
Padahal Rasulullah ﷺ bersabda:
> مَنْ قَاتَلَ تَحْتَ رَايَةٍ عُمِّيَّةٍ يَغْضَبُ لِعَصَبَةٍ، أَوْ يَدْعُو إِلَى عَصَبَةٍ، أَوْ يَنْصُرُ عَصَبَةً، فَقُتِلَ، فَقِتْلَةٌ جَاهِلِيَّةٌ
“Barang siapa berperang di bawah panji kesukuan (‘ashobiyah), marah karena fanatisme, atau membela fanatisme, lalu terbunuh, maka matinya seperti mati jahiliyah.”
(HR. Muslim, no. 1848)
Artinya, jika seseorang berjuang bukan karena Islam tapi karena suku, bangsa, atau kelompok — maka jihadnya tak bernilai di sisi Allah.
---
💡 Hikmah & Harapan
Umat Islam hari ini harus kembali kepada satu ikatan, yaitu aqidah Islam dan syariat Allah.
Organisasi hanyalah kendaraan — bukan tujuan akhir.
Jika kendaraan rusak, bukan berarti kita berhenti menuju Allah.
Maka dari itu:
Bergabunglah dengan ormas karena dakwahnya, bukan karena fanatik logonya.
Cintailah saudara seiman meskipun berbeda ormas, karena imanlah yang mempersaudarakan.
Jadikan Islam satu-satunya identitas dan arah perjuangan.
---
🌿 Penutup
Janganlah sampai kita berpecah-belah hanya karena perbedaan wadah dakwah, sebab Allah telah mengingatkan:
> وَلَا تَكُونُوا مِنَ الْمُشْرِكِينَ • مِنَ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ
“Dan janganlah kamu menjadi di antara orang-orang musyrik, yaitu orang-orang yang memecah belah agamanya dan menjadi beberapa golongan; setiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada mereka.”
(QS. Ar-Rum [30]: 31–32)
Maka, umat Islam harus bersatu dalam aqidah dan syariat, bukan terpecah karena bendera.
Jadikan ormas sebagai wasilah (sarana) untuk menegakkan Islam kaffah, bukan ghayah (tujuan) untuk dibela mati-matian.
---
🌸 Hikmah:
> “Jika engkau membela kelompokmu, maka engkau hanya akan dikenal oleh kelompokmu.
Tapi jika engkau membela Islam, maka engkau akan dikenal oleh malaikat di langit.”
---
Wallāhu a‘lam bish-shawāb.


Posting Komentar untuk "SEJATINYA KELOMPOK/ORMAS HANYALAH WADAH UNTUK DAKWAH ⚠️ AWAS HATI-HATI BAHAYA ASHOBIYAH‼️ (Fanatisme Kelompok)"