Saat ini banyak orang pintar bahkan mampu berfikir kritis, tapi sayang memikirkan nasib umat & akar masalah saja kok banyak yang tak mampu. Kenapa⁉️

 



Di zaman modern ini, kemampuan berpikir kritis bukan barang langka. Mahasiswa bisa berdiskusi teoritis, santri bisa menukil kitab, guru dan dosen memiliki gelar akademik, bahkan profesor pun mampu mengurai persoalan dengan metode ilmiah yang canggih.

Namun, mengapa ketika berbicara nasib umat, kezaliman sistem, dan akar kerusakan masyarakat… banyak yang justru bingung? Bahkan tersesat?


Fenomena ini tampaknya bukan sekadar kurangnya kecerdasan. Justru karena kecerdasannya tidak diarahkan pada kebenaran, sehingga kata pepatah Jawa:


> “Pinter mung akhiré keblinger.”

Pintar, tapi akhirnya justru tersesat.




Mengapa ini terjadi?


1. Karena standar berfikir tidak kembali kepada wahyu


Banyak intelektual Muslim yang mempelajari teori-teori Barat, lalu menjadikannya dasar berfikir.

Akibatnya, kerusakan kapitalisme–sekuler yang jelas-jelas menyengsarakan umat—tidak disadari sebagai akar masalah.

Malah mereka sibuk mencari “solusi” dari sumber yang sama yang melahirkan masalah.


Padahal Allah sudah memperingatkan:


> وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَا أَنزَلَ ٱللَّهُ فَأُو۟لَـٰٓئِكَ هُمُ ٱلْفَـٰسِقُونَ

“Barangsiapa tidak berhukum dengan apa yang Allah turunkan, maka mereka itulah orang-orang fasik.”

(QS. Al-Ma’idah: 47)




Solusi hakiki tidak mungkin muncul kecuali dari aturan Allah.



---


2. Takut dianggap ekstrem bila mengusung Islam Kaffah


Ada yang paham kerusakan sistem sekuler.

Ada yang sadar betapa sengsaranya rakyat.

Tapi… begitu bicara soal kembali kepada syariat Islam, langsung ciut, malu, minder, atau takut dicap radikal.


Padahal Allah memerintahkan:


> يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا ٱدْخُلُوا فِى ٱلسِّلْمِ كَآفَّةً

“Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara kaffah.”

(QS. Al-Baqarah: 208)





---


3. Terkurung dalam cara berfikir Barat


Adam Smith, Montesquieu, Socrates, Plato, Aristoteles…

Nama-nama besar ini terus dijadikan rujukan dalam ekonomi, politik, hukum hingga etika.

Padahal seluruh bangunan pemikiran mereka lahir dari akal yang terbatas, tanpa petunjuk wahyu.


Rasulullah SAW mengingatkan bahwa amal tanpa dasar dari beliau adalah tertolak:


> مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa melakukan suatu amalan yang tidak ada dasar perintah dariku, maka amalan itu tertolak.”

(HR. Muslim no. 1718)




Maka bagaimana mungkin umat berharap kebangkitan dari teori yang tidak bersumber dari Nabi?



---


4. Mengira masalah umat bisa selesai dengan tambal-sulam


Banyak yang hanya mengobati gejala, bukan akar masalah.

Harga naik → subsidi.

Korupsi → ganti pejabat.

Kemiskinan → bantuan sosial.


Padahal problem utamanya adalah sistem kapitalis-sekuler yang menjadi akar kerusakan.

Selama sistemnya dibiarkan, penderitaan umat akan terulang terus.


Allah sudah menegaskan bahwa Islam telah menyempurnakan seluruh aturan kehidupan:


> ٱلْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ

“Hari ini telah Aku sempurnakan agamamu...”

(QS. Al-Ma’idah: 3)




Sempurna berarti mencakup ekonomi, sosial, hukum bahkan politik pemerintahan.



---


5. Tidak melihat sunnah Rasulullah sebagai solusi peradaban


Saat bicara ibadah, semua sepakat mencontoh Nabi.

Tetapi ketika bicara ekonomi, politik, atau tata negara… kok malah mencontoh Adam Smith atau Montesquieu?


Padahal Rasulullah SAW membawa sistem hidup, bukan sekadar ritual.


Beliau telah mendirikan negara, mengelola masyarakat, memimpin pasukan, mengatur ekonomi, memutuskan hukum, membangun peradaban.


Ini semua adalah teladan yang seharusnya diikuti.



---


HIKMAH & HARAPAN


Kembalinya umat kepada kejayaan bukan karena banyak profesor, bukan karena banyak doktor, bukan karena teori barat…

Tetapi ketika umat kembali menjadikan wahyu sebagai standar berfikir, bertindak, dan menyelesaikan masalah.


Saat umat sadar bahwa:


masalahnya adalah sistem sekuler-kapitalis,


solusinya hanya Islam kaffah,


teladannya hanya Nabi Muhammad SAW,


dan perjuangannya adalah menegakkan kembali aturan Allah dalam seluruh aspek kehidupan,



maka kebangkitan sejati akan kembali memancar.


Semoga Allah meneguhkan hati kita untuk melihat masalah dengan jernih, berpikir atas dasar wahyu, dan berjuang bersama untuk tegaknya Islam yang kaffah.


وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ


Posting Komentar untuk "Saat ini banyak orang pintar bahkan mampu berfikir kritis, tapi sayang memikirkan nasib umat & akar masalah saja kok banyak yang tak mampu. Kenapa⁉️"