Lucu tapi nyata. Ada orang yang kalau diajak ngaji malah wajahnya panik, tangan sibuk nyari alasan, dan mulut buru-buru bilang,
> “Aduh, takut kedoktrin…”
“Itu kan kajian ormas tertentu…”
“Saya belum siap jadi terlalu islami…”
Padahal… diajaknya cuma ngaji loh, bukan diajak bikin makar, bukan diajak perang, bukan pula disuruh tinggal di gua. Kajian cuma duduk, ngopi, dengerin ilmu, kadang malah dikasih snack sama rokok bagi yang merokok udah gitu gratiss lagi gak perlu bayar ehhh — tapi tetep aja… sieun! 😅
💭 Kenapa bisa begitu?
Inilah efek nyata dari virus sekuler-liberal yang sudah menjangkiti sebagian umat. Mereka menganggap agama itu urusan masjid, bukan urusan hidup sehari-hari. Ketika ada ajakan untuk kembali kepada Islam secara kaffah (total), malah muncul rasa takut, curiga, bahkan alergi terhadap istilah “syariat” atau “khilafah”.
Padahal Allah ﷻ jelas berfirman:
> يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ
“Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhan (kaffah), dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan; sungguh, ia musuh yang nyata bagimu.”
(QS. Al-Baqarah [2]: 208)
Ayat ini bukan sekadar perintah, tapi juga peringatan. Siapa pun yang enggan masuk ke dalam Islam secara total, sedang tanpa sadar mengikuti jejak setan yang gemar memisahkan agama dari kehidupan.
😔 Hati yang Tertutup dari Hidayah
Orang yang menolak ajakan ngaji bukan karena sibuk, tapi karena takut “terlalu islami”, sebenarnya sedang mengalami kekeringan iman. Rasulullah ﷺ bersabda:
> إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَذْنَبَ ذَنْبًا نُكِتَ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ، فَإِذَا نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ صُقِلَ قَلْبُهُ، وَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ، فَذَلِكَ الرَّانُ الَّذِي ذَكَرَ اللَّهُ: كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ
“Sesungguhnya apabila seorang hamba melakukan dosa, maka akan muncul titik hitam di hatinya. Jika ia berhenti, beristighfar dan bertaubat, hatinya menjadi bersih. Namun jika ia kembali (berbuat dosa), maka noda itu bertambah hingga menutupi hatinya. Itulah ‘ran’ yang disebut Allah: ‘Sekali-kali tidak! Bahkan apa yang mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka.’”
(HR. Tirmidzi no. 3334)
Orang yang hatinya tertutup, nasihat jadi terasa pahit, ngaji dianggap menakutkan, dan kebenaran terasa asing. Padahal yang dia tolak bukan “ustadznya”, tapi hidayah dari Allah.
📖 Santri tapi Takut Ilmu?
Ironinya, sebagian dari mereka justru santri atau mahasiswa Islam. Ilmunya tinggi, tapi keberanian untuk menerima kebenaran justru kecil. Rasulullah ﷺ sudah mengingatkan:
> مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ
“Barang siapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, niscaya Dia akan memahamkannya dalam agama.”
(HR. Bukhari no. 71 dan Muslim no. 1037)
Artinya, kalau seseorang menjauh dari majelis ilmu, itu bukan tanda kebijaksanaan, tapi tanda Allah belum bukakan pintu kebaikan untuknya.
☕ Ironi Umat Zaman Now
Giliran nongkrong di alun-alun sampai tengah malam, semangatnya full bar! Tapi giliran diajak ngaji — yang cuma sejam — langsung lowbat.
Giliran denger ceramah yang lucu-lucuan, banyak yang hadir. Tapi kalau bahas Islam kaffah dan syariat, tiba-tiba “ada urusan mendadak.” 🤭
---
💎 HIKMAH & HARAPAN
Ngaji bukan aktivitas eksklusif milik ormas manapun. Ngaji adalah jalan mengenal Rabb kita, menambah iman, dan memperbaiki diri. Jangan takut kedoktrin, takutlah kalau gak sempat dapat hidayah!
Mari buka hati untuk kebenaran, walau yang menyampaikan berbeda ormas atau latar belakang. Karena yang kita cari bukan siapa yang bicara, tapi apa yang disampaikan dan dalilnya dari Allah dan Rasul-Nya.
Semoga Allah melembutkan hati kita agar selalu rindu pada majelis ilmu, bukan malah alergi terhadapnya.
Wallāhu a‘lam bish-shawāb.


Posting Komentar untuk "Diajak ngaji sieun, kok bisa?🤭"