بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَـٰنِ الرَّحِيمِ
Alhamdulillāh, hari ini tepat 100 hari lagi menuju Ramadhan 1447 H, yang insya Allah akan jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026 M, berdasarkan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT)—hisab berbasis imkān ru’yat global kriteria 5 derajat, yang kini ditabani oleh Muhammadiyah untuk menyatukan kalender umat Islam di seluruh dunia tanpa sekat nasionalisme dan batas-batas wilayah buatan manusia.
Artinya, hanya dalam seratus hari ke depan, tamu agung Ramadhan akan kembali menyapa kita. Bulan penuh berkah, rahmat, dan ampunan—bulan diturunkannya Al-Qur’an, bulan dilipatgandakannya amal, dan bulan kemenangan spiritual umat Islam.
Maka, ini adalah waktu emas untuk mempersiapkan diri. Tidak cukup hanya menunggu Ramadhan datang, tapi menyambutnya dengan kesiapan ruhani dan amal nyata. Rasulullah ﷺ bersabda:
> عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ:
"أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ، وَأَفْضَلُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلَاةُ اللَّيْلِ"
(رواه مسلم، رقم ١١٦٣)
“Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah puasa di bulan Allah, yaitu Muharram, dan salat yang paling utama setelah salat wajib adalah salat malam.” (HR. Muslim No. 1163)
Artinya, amalan sunnah seperti puasa Senin dan Kamis, puasa Ayyamul Bidh, qiyamul lail, serta memperbanyak tilawah dan sedekah merupakan bentuk latihan ruhani menuju Ramadhan.
Namun, persiapan menuju Ramadhan tidak hanya soal ibadah mahdhah. Islam itu kaffah — mengatur seluruh aspek kehidupan: aqidah, ibadah, muamalah, pendidikan, ekonomi, kesehatan, hingga politik pemerintahan.
Allah Ta’ala berfirman:
> يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ
“Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah kamu ke dalam Islam secara kaffah (menyeluruh) dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan; sungguh, ia musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al-Baqarah: 208)
Sayangnya, saat ini Islam tidak diterapkan secara menyeluruh. Akibatnya, kerusakan moral dan sosial kian parah: korupsi menjadi budaya, keadilan hanya untuk yang berkuasa, perzinahan dan kriminalitas merajalela, bahkan muncul komunitas LGBT seperti grup Facebook “komunitas gay Ciamis” yang baru-baru ini menghebohkan warganet khususnya di Priangan Timur.
Astaghfirullah! Semua ini bukti nyata ketika syariat Allah tidak dijadikan pedoman hidup. Nabi ﷺ bersabda:
> إِذَا لَمْ تَسْتَحِ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ
“Jika engkau tidak punya rasa malu, maka lakukanlah sesukamu.” (HR. Bukhari No. 3483)
Inilah tanda sekulerisme dan liberalisme telah menjangkiti umat—memisahkan agama dari kehidupan. Padahal, Islam adalah solusi total, bukan hanya dalam shalat dan puasa, tapi juga dalam urusan negara dan masyarakat.
Rasulullah ﷺ bersabda:
> كَانَتْ بَنُو إِسْرَائِيلَ تَسُوسُهُمُ الْأَنْبِيَاءُ، كُلَّمَا هَلَكَ نَبِيٌّ خَلَفَهُ نَبِيٌّ، وَإِنَّهُ لَا نَبِيَّ بَعْدِي، وَسَيَكُونُ خُلَفَاءُ فَيَكْثُرُونَ
“Dulu Bani Israil diatur urusannya oleh para nabi. Setiap kali seorang nabi wafat, digantikan oleh nabi lain. Namun setelahku tidak ada nabi lagi, akan ada para khalifah dan jumlah mereka banyak.” (HR. Bukhari No. 3455, Muslim No. 1842)
Hadis ini menunjukkan, bahwa setelah kenabian berakhir, urusan umat Islam harus diatur oleh sistem kepemimpinan Islam (khilafah) yang menegakkan syariat Allah di muka bumi. Tanpa itu, kerusakan dan maksiat akan terus merajalela.
---
■ HIKMAH & HARAPAN ■
Mari, di sisa 100 hari menuju Ramadhan, kita jadikan momentum untuk bertaubat, memperkuat iman, menegakkan sunnah, dan memperjuangkan agar Islam ditegakkan secara kaffah. Sebab, Ramadhan bukan hanya soal menahan lapar dan dahaga, tetapi juga momentum menegakkan kembali peradaban Islam yang mulia.
اللَّهُمَّ بَلِّغْنَا رَمَضَانَ
“Ya Allah, sampaikanlah kami kepada bulan Ramadhan.”
Wallāhu a‘lam bish-shawāb.


Posting Komentar untuk "100 HARI LAGI MENUJU RAMADHAN"