MOMENT HARI SANTRI NASIONAL: SANTRI SEHARUSNYA TEGAS & BERANI MELAWAN SEKULERISME-LIBERALISME

 



Hari ini, Rabu, 30 Rabi’ul Akhir 1447 H / 22 Oktober 2025 M, bangsa Indonesia kembali memperingati Hari Santri Nasional. Peringatan ini pertama kali ditetapkan secara resmi pada masa pemerintahan Presiden Joko Widodo (2019). Namun, di balik gegap gempita peringatan itu, kita patut bertanya dengan jujur: Apakah Hari Santri ini benar-benar menjadi momentum untuk membangkitkan semangat Islam kaffah dan menegakkan syariat Allah secara total?

Atau justru sebaliknya — menjadi seremonial yang meninabobokan umat dan melanggengkan sistem sekuler yang nyata-nyata menyingkirkan hukum Allah dari kehidupan?


Ironisnya, setiap tahun peringatan Hari Santri lebih banyak diwarnai oleh parade, lomba, dan jargon nasionalisme yang kering dari ruh Islam. Padahal, santri sejati bukan sekadar orang yang bisa membaca kitab kuning, tapi juga yang berani menegakkan kalimat Allah di atas segala ideologi buatan manusia. Santri sejati tidak cukup hanya taat di masjid atau pesantren, tapi juga siap menolak sistem kufur yang menolak hukum Allah.



---


⚔️ SANTRI DAN AMANAH BESAR PERJUANGAN ISLAM


Kata santri dalam konteks Islam, bukan monopoli satu ormas. Siapa saja yang mendalami ilmu agama, mengamalkannya, dan memperjuangkannya, maka ia adalah santri dalam makna hakiki. Artinya, santri Muhammadiyah, santri Persis, santri Salafi, bahkan santri Hizbut Tahrir sekalipun — semuanya punya peran penting dalam perjuangan menegakkan syariat Islam.


Namun sayangnya, narasi “santri” di Indonesia sering kali digiring pada makna sempit: sebatas santri pesantren tradisional. Lebih parah lagi, ada upaya halus untuk memisahkan santri dari perjuangan menegakkan hukum Allah. Padahal, dalam sejarah Islam, para ulama dan santri justru garda terdepan melawan penjajahan, menegakkan izzul Islam wal Muslimin (kemuliaan Islam dan kaum Muslimin).


Kita perlu ingat sabda Allah Ta‘ala:


> وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ

“Barang siapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itulah orang-orang kafir.”

(QS. Al-Mā’idah [5]: 44)




Dan dalam ayat berikutnya, Allah juga berfirman:


> فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ (QS. Al-Mā’idah: 45)

فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ (QS. Al-Mā’idah: 47)




Tiga ayat ini menunjukkan konsekuensi berat bagi siapa pun yang menolak, menentang, atau mengganti hukum Allah dengan hukum buatan manusia.

Para ulama menjelaskan: siapa yang menolak hukum Allah karena benci atau menganggap hukum manusia lebih baik — maka ia kafir.

Jika ia menolak karena hawa nafsu, tapi masih meyakini hukum Allah benar — maka ia zalim atau fasik.

Jadi, menolak syariat Allah bukan perkara sepele — bisa menjerumuskan ke dalam kekufuran tergantung sikap dan niatnya.



---


🧠 REALITA HARI INI: SANTRI DI ERA SEKULER


Kini, istilah santri sering dipakai untuk tujuan politik atau pencitraan. Peringatan Hari Santri sering kali dipenuhi oleh slogan-slogan “Cinta Tanah Air”, “Moderasi Beragama”, dan “Toleransi”, tapi tidak disertai dengan keberanian menyeru umat agar kembali kepada hukum Allah.


Padahal santri sejati bukan yang menyesuaikan Islam dengan zaman, tapi yang menyesuaikan zaman dengan Islam.

Santri bukan yang diam terhadap kemungkaran politik, ekonomi, dan sosial, tetapi yang berani menyeru kepada kebenaran meski pahit.


Santri harus sadar bahwa sekularisme dan liberalisme adalah akar kehancuran umat. Ideologi ini berusaha memisahkan agama dari kehidupan, menafikan hukum Allah dari urusan negara, ekonomi, hingga pendidikan. Maka, siapa yang membiarkan paham ini tumbuh tanpa perlawanan berarti — telah ikut andil dalam kerusakan itu.



---


🤝 MOMENTUM UNTUK BERSATU


Saatnya para santri bangkit! Tidak perlu lagi membenturkan santri tradisional dengan santri modernis.

Dulu, KH. Ahmad Dahlan dan KH. Hasyim Asy‘ari bisa bersaudara dalam perjuangan meski berbeda metode.

Keduanya sama-sama ingin mengangkat martabat umat lewat pendidikan dan dakwah.

Maka, kenapa sekarang kita malah sibuk membela kelompok, bukan Islam itu sendiri?


Inilah saatnya santri kembali ke jati dirinya — menjadi pejuang ideologis, bukan hanya simbol budaya.

Santri harus menjadi benteng akidah umat, penggerak dakwah, dan penyeru syariat Islam yang kaffah di tengah masyarakat.



---


■ HIKMAH & HARAPAN ■


Hari Santri seharusnya bukan sekadar peringatan tahunan, tapi momentum muhasabah umat.

Apakah kita sudah menjadi santri yang benar-benar menegakkan hukum Allah?

Atau justru menjadi santri yang ikut melestarikan sistem sekuler dan menutup mata terhadap kerusakan ideologi bangsa?


Mari jadikan hari ini sebagai awal perubahan. Santri harus berani berpikir merdeka — bukan dari agama, tapi merdeka dari belenggu sekularisme dan liberalisme.

Hanya dengan kembali kepada Islam kaffah, umat ini akan kembali berjaya sebagaimana kejayaan para santri dan ulama di masa Khilafah dulu.


Wallāhu a‘lam bish-shawāb.

Posting Komentar untuk "MOMENT HARI SANTRI NASIONAL: SANTRI SEHARUSNYA TEGAS & BERANI MELAWAN SEKULERISME-LIBERALISME"