Dalam kehidupan umat Islam, persoalan paling mendasar yang sering terjadi bukan hanya soal kurangnya ilmu, tetapi keliru dalam memahami ilmu itu sendiri. Kadang, seseorang bisa saja bergelar ustadz, kyai, doktor, bahkan profesor. Secara keilmuan agama, jelas mereka lebih paham dan lebih pintar dibandingkan kita yang hanya santri kalong atau ngaji sepekan sekali. Tetapi anehnya, ketika bicara tentang pemahaman Islam secara menyeluruh (kaffah), banyak yang justru terjebak dalam pola pikir sekuler bahkan liberal.
Mereka merasa cukup dengan menjalankan ritual-ritual ibadah saja—sholat, puasa, zakat, haji—tanpa mengaitkan Islam dengan realitas kehidupan yang lebih luas, seperti politik, ekonomi, hukum, atau sosial. Padahal jelas, Islam bukan hanya mengatur soal ibadah ritual, tapi juga mengatur seluruh aspek kehidupan manusia.
Allah ﷻ berfirman:
> يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ
“Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhan (kaffah), dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya ia adalah musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al-Baqarah: 208)
Ayat ini jelas menegaskan bahwa iman itu ada konsekuensinya: menjalankan syariat Islam secara menyeluruh, bukan sepotong-sepotong.
Rasulullah ﷺ juga menegaskan dalam hadits:
> مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ
“Barangsiapa melakukan suatu amalan yang tidak ada tuntunannya dari kami, maka amalan itu tertolak.” (HR. Muslim)
Nah, masalahnya bukan karena orang Islam tidak tahu, tapi karena pemikirannya sudah “dibelokkan” oleh sistem sekuler. Akhirnya, ketika bicara solusi atas problem umat, mereka lebih memilih aturan manusia daripada syariat Allah. Padahal jelas, ketika kita mengaku beriman, seharusnya tolok ukur kita hanyalah ridha Allah, bukan hawa nafsu, bukan pula kepentingan duniawi.
Di sinilah pentingnya merubah pemahaman. Bahkan Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani dalam kitab Nizhomul Islam menyebut di bagian awal:
> يَنْهَضُ الإِنْسَانُ بِمَا عِنْدَهُ مِنْ فِكْرٍ
“Bangkitnya manusia itu tergantung pada pemikirannya.”
Artinya, kalau pemikiran seseorang lurus—berdasarkan wahyu, bukan hawa nafsu—maka karakter, akhlak, bahkan jalan hidupnya juga akan lurus. Tapi kalau pemikirannya rusak, maka perilakunya juga akan rusak.
Maka dakwah yang harus dilakukan adalah merubah pemahaman:
- Ajak bicara dengan hikmah,
- Diskusi dengan santai,
- Duduk sambil ngopi, ngobrol ngalor-ngidul tapi tetap masuk inti,
- Jangan gampang men-judge, tapi arahkan dengan dalil dan logika yang shahih.
Sebab, merubah mindset itu jauh lebih penting daripada sekadar menjejali dengan banyak hafalan. Pemahamanlah yang akan membentuk karakter dan arah hidup seseorang.
---
Hikmah & Harapan
Hikmahnya, perubahan dalam masyarakat tidak akan terjadi jika pemahaman umat tidak dirubah terlebih dahulu. Merubah sistem tanpa merubah pemikiran hanyalah mimpi kosong. Karena itu, kita harus terus menyuarakan pentingnya Islam diterapkan secara kaffah dalam seluruh aspek kehidupan.
Harapannya, semoga Allah ﷻ memberikan hidayah kepada umat ini, membuka hati para akademisi, ulama, dan kaum intelektual untuk kembali kepada pemahaman Islam yang benar. Dan semoga kita diberi istiqamah dalam berdakwah dengan hikmah dan sabar hingga tegak kembali izzul Islam wal muslimin.
Wallohu a’lam bishowab.
Takbir! Allahu Akbar! 🔥


Posting Komentar untuk "PENTINGNYA MERUBAH PEMAHAMAN"