🕌 "Masjid yang Sering Bahas Politik Itu Masjid R4D1K4L" Kata Orang² Sekuler 🫣🤭

 

Sabtu, 7 Rabi'ul Awal 1447 H / 30 Agustus 2025 M
🗓️Kalender Hijriah Global Tunggal 

Sering kita dengar komentar sinis gini:

“Masjid kok bahas politik?”

“Atau, wah iku masjid radikal!”


Loh, sejak kapan masjid dibatasi hanya jadi tempat ritual individual belaka?


Kalau kita mau jujur, akar masalah umat Islam saat ini bukan semata soal perbedaan fiqhiyah, bukan sekadar mazhab atau furū‘iyyah. Akar masalah kita justru politik. Saat umat Islam buta politik, di situlah mereka mudah dibodohi, dicabik-cabik kepentingannya, dan terus dijajah dengan sistem sekuler-kapitalis.


Masjid Jogokariyan di Yogyakarta menjadi contoh hidup bahwa masjid bukan hanya tempat ibadah mahdhah. Setiap ba’da Subuh di sana, sering diisi kajian politik yang menyadarkan umat. Pernah K.H. Muhammad Jazir ASP, takmir masjid Jogokariyan, menyatakan:


👉 “Masjid itu memang harus bahas politik, karena kalau tidak, negeri ini bisa rusak!”


Namun sayang, bagi orang-orang sekuler-liberal, hal ini dianggap “radikal”. Padahal istilah “radikal” itu sendiri adalah label basi untuk melemahkan umat Islam, membungkam dakwah, dan menanamkan Islamophobia.


🔸 Tahukah antum sedoyo?

“Radikal” secara bahasa bermakna radix = akar. Jadi kalau umat Islam disebut radikal, justru seharusnya bangga! Artinya mereka sedang membahas akar masalah, bukan sekadar permukaan.



---


Masjid Bukan Sekadar Tempat Shalat


Nabi ﷺ membangun Masjid Nabawi bukan hanya untuk shalat berjamaah. Dari masjid pula:


- Rasul ﷺ mengatur strategi politik,


- membina sahabat,


- menerima delegasi negara,


- menyelesaikan persoalan umat,


- dan mengobarkan semangat jihad.



Masjid adalah pusat peradaban Islam. Maka aneh sekali jika hari ini ada yang bilang: “Di masjid jangan bahas politik, cukup ibadah ritual saja.” Itu jelas paradigma sekuler yang memisahkan Islam dari kehidupan.


Padahal Allah ﷻ menegaskan:


> وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

“Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.”

(QS. Al-Māidah: 45)




Apakah mungkin kita bisa menegakkan hukum Allah tanpa politik? Apakah mungkin kita bisa menerapkan syariat Islam kaffah kalau masjid diam seribu bahasa terhadap kezaliman?


Rasulullah ﷺ bersabda:


> سَيَكُونُ أُمَرَاءُ فَتَعْرِفُونَ وَتُنْكِرُونَ فَمَنْ عَرَفَ بَرِئَ وَمَنْ أَنْكَرَ سَلِمَ وَلَكِنْ مَنْ رَضِيَ وَتَابَعَ

“Akan ada para pemimpin (zalim), yang kalian mengenal (keburukannya) dan mengingkarinya. Maka barangsiapa mengenalnya lalu menentangnya, ia terbebas (dari dosa). Barangsiapa mengingkarinya, ia selamat. Tetapi barangsiapa ridha dan mengikuti mereka, maka ia akan binasa.”

(HR. Muslim)




Hadits ini menunjukkan: politik itu bagian dari agama, bahkan kewajiban untuk diingatkan dari mimbar masjid.



---


Hikmah & Harapan


Hari ini, umat Islam jangan mau dibatasi oleh stigma “radikal” yang sengaja diciptakan musuh-musuh Islam. Justru dari masjidlah kita harus menghidupkan kembali ruh peradaban Islam. Masjid harus menjadi tempat:


- membangun kesadaran politik umat,


- membongkar makar musuh,


- menyuarakan syariah dan Khilafah.



Mari jadikan masjid bukan hanya sebagai pusat spiritual, tapi juga sebagai pusat peradaban. Dari masjidlah umat bangkit, sebagaimana dulu Rasulullah ﷺ membangun peradaban Islam dari Madinah.


Wallāhu a‘lam bish-shawāb

Takbir! 🔥

ALLAHU AKBAR!!

Posting Komentar untuk "🕌 "Masjid yang Sering Bahas Politik Itu Masjid R4D1K4L" Kata Orang² Sekuler 🫣🤭"