✨By KH. Abdul Rosyad (Pak Osad)✨
Di hari kiamat, manusia tidak hanya akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang sudah dilakukan, tetapi juga atas apa yang belum dilakukan. Hal ini berkaitan dengan kewajiban amar ma’ruf nahi mungkar dan perjuangan menegakkan syariat Islam secara kaffah. Jika seseorang telah memahami kebenaran, sadar bahwa sistem kehidupan saat ini dikuasai oleh aturan jahiliyah yang rusak, tetapi tetap memilih diam, maka ia juga akan ditanya: "Kenapa kamu diam?"
Allah SWT telah menegaskan dalam QS. Al-Baqarah ayat 208:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ
"Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah ke dalam Islam secara kaffah (menyeluruh), dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Sungguh, ia musuh yang nyata bagimu."
Namun, kenyataannya banyak orang hanya mengambil Islam sepotong-sepotong. Mereka menjalankan ibadah secara pribadi, tetapi dalam aspek hukum, ekonomi, dan sosial, mereka masih mengikuti aturan buatan manusia. Inilah yang akan dipertanyakan di hari kiamat: "Kenapa kamu tidak berjuang untuk menegakkan hukum-Ku?"
Allah juga memperingatkan dalam QS. Al-Qiyamah ayat 36:
أَيَحْسَبُ ٱلْإِنسَٰنُ أَن يُتْرَكَ سُدًى
"Apakah manusia mengira bahwa dia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggungjawaban)?"
Sikap diam terhadap kemungkaran merupakan dosa investasi, karena dengan diamnya seseorang, kezaliman dan penyimpangan akan terus berkembang dan menyebar. Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ رَأَىٰ مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ، وَذَٰلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ
"Barang siapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya. Jika tidak mampu, maka dengan lisannya. Jika tidak mampu juga, maka dengan hatinya, dan itu adalah selemah-lemah iman." (HR. Muslim)
Hadits ini menegaskan bahwa diam terhadap kemungkaran bukanlah pilihan. Jika seseorang tidak mampu bertindak langsung, maka setidaknya ia berbicara. Jika tidak bisa berbicara, maka hatinya harus menolak kemungkaran tersebut, bukan justru berdiam diri dan bersikap pasrah.
Dalam konteks ini, diam terhadap sistem jahiliyah yang mengatur dunia saat ini juga merupakan dosa besar. Sistem kapitalisme dan sekularisme telah menyebabkan ketidakadilan, kemiskinan, dan kebobrokan moral. Jika umat Islam tidak berusaha mengubahnya dan hanya sibuk dengan ibadah ritual tanpa peduli terhadap hukum Allah yang ditinggalkan, maka mereka juga akan ditanya: "Kenapa kamu tidak berusaha mengubahnya?"
Maka dari itu, kita sebagai umat Islam harus berusaha untuk menegakkan Islam secara kaffah. Bukan hanya dalam aspek ibadah, tetapi juga dalam hukum, ekonomi, sosial, dan politik. Jangan sampai kita menjadi orang yang hanya mengeluh tentang keadaan dunia, tetapi tidak melakukan apa-apa untuk mengubahnya. Allah SWT tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka sendiri yang berusaha mengubahnya.
Semoga kita tidak termasuk orang yang pasif dan hanya menjadi penonton di tengah kerusakan dunia ini. Mari bergerak, minimal dengan lisan dan doa, agar kita tidak menjadi orang yang akan ditagih oleh Allah di hari kiamat karena memilih diam.
-picsay.jpeg)
Posting Komentar untuk "Hari Kiamat: Manusia Akan Ditagih atas Perkara yang Sudah dan Belum Dilakukan"