KEBODOHAN, KEMEROSOTAN, KEMUNDURAN YANG MENIMPA UMAT SAAT INI ADALAH CERMINAN DARI TIDAK DITERAPKANNYA HUKUM ALLAH‼️‼️‼️

 


Bagi orang yang mau menggunakan akal sehatnya untuk berpikir, ia pasti mengerti dan langsung paham dengan realitas hari ini. Kecuali, bagi orang-orang bebal yang memang memilih untuk tidak mau berpikir! Perintah Allah ﷻ di dalam kitab suci-Nya sudah sangat gamblang: terapkan hukum Islam secara menyeluruh (kaffah) dalam setiap aspek kehidupan! Jangan dicopet-copet, jangan diecer.
Namun, ketika hukum Allah ﷻ itu dicampakkan dari ruang publik dan diganti dengan hukum sekuler buatan manusia, lihatlah apa yang terjadi saat ini! Lima urusan mendasar yang wajib dijaga dalam syariat (al-dharuriyyat al-khams) telah hancur lebur: akidah umat tidak terjaga (syirik modern, ramalan, dan takhayul masih subur), jiwa manusia murah (kriminalitas merajalela), harta rakyat diperas lewat pajak dan iuran sepihak, kehormatan wanita diobral atas nama kebebasan, serta akal manusia dirusak oleh kurikulum sekuler. Manusia dibiarkan bodoh secara masif, bahkan sistem kehidupan sekuler kapitalistik hari ini secara tidak langsung memang menuntut umat untuk terus-menerus bodoh agar mereka mudah dijajah secara politik dan ekonomi!
Kebanyakan umat saat ini memahami Islam secara sangat sempit, hanya sebatas ibadah ritual seperti shalat saja. Hebatnya, membahas urusan shalatnya saja tidak pernah tuntas dan masih abu-abu. Begitu keluar dari masjid, pria dengan santainya memakai celana kolor pendek yang memperlihatkan aurat pahanya ke mana-mana. Ironisnya, orang-orang dengan kualitas pemahaman seperti ini sering kali berlagak sok tahu dengan berkata, "Nggak usah bahas-bahas urusan politik negara, fokus saja perbaiki diri sendiri dan keluarga!"
Ehh, syahwat ngomongnya tinggi, padahal faktanya, untuk urusan diri sendiri dan keluarga saja mereka masih belum pada paham dasar-dasar hukum syarak! Pemahaman umat Islam saat ini kebanyakan justru pada ngaco! Ngaco sekali! Mereka merasa sudah paling saleh di dalam labirin sistem yang rusak ini.

Menjawab Klaim "Paling Sunnah": Shalat Sesuai Nabi, Tapi Hukum Negara Sesuai Thaghut?

Stagnasi dan kedangkalan berpikir ini semakin diperparah oleh munculnya sekelompok orang yang gemar mengeklaim dirinya sebagai kelompok yang "paling sunnah" dan paling murni agamanya. Mereka sangat cerewet dan teliti membedahi urusan posisi jari saat tahiyat, panjang jenggot, atau tinggi celana di atas mata kaki. Mereka selalu berdalil, "Kembalilah kepada sunnah Nabi!"
Namun, kegilaan berpikir mereka nampak nyata ketika diajak bicara mengenai kewajiban menerapkan sunnah Nabi ﷺ dalam urusan siyasah politik, ekonomi bebas riba, dan penegakan hukum jinayat. Mereka mendadak bungkam, ketakutan, dan mendadak menjadi pembela setia para penguasa sekuler dengan dalih ketaatan mutlak kepada ulil amri.
Ini adalah bentuk kemunafikan berpikir! Bagaimana mungkin kalian mengaku paling setia mengikuti sunnah Nabi ﷺ, tetapi di saat yang sama kalian rida dan diam seribu bahasa melihat hukum negara ini diatur oleh hukum thaghut demokrasi? Shalat ingin meniru nabi, tetapi sistem ekonomi memilih meniru kapitalisme Yahudi, dan sistem hukum meniru hukum buatan manusia. Apakah kalian mengira Islam diturunkan hanya untuk mengurusi tata cara wudhu dan shalat saja?
Jika kalian konsisten dengan Sunnah, ketahuilah bahwa Sunnah terbesar Rasulullah ﷺ dan para sahabat setelah ibadah mahdhah adalah menegakkan institusi politik Islam untuk menerapkan syariat secara total, bukan menjadi benteng pelindung bagi sistem sekuler yang mencampakkan hukum Allah ﷻ!
Gusti Allah Swt mengkritik keras orang-orang yang mengimani sebagian kitab namun mencampakkan sebagian hukum yang lain:
أَفَتُؤْمِنُونَ بِبَعْضِ الْكِتَابِ وَتَكْفُرُونَ بِبَعْضٍ ۚ فَمَا جَزَاءُ مَنْ يَفْعَلُ ذَٰلِكَ مِنْكُمْ إِلَّا خِزْيٌ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا
Apakah kamu beriman kepada sebagian Kitab dan ingkar kepada sebagian yang lain? Maka tidak ada balasan bagi orang yang berbuat demikian di antaramu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia. (TQS Al-Baqarah: 85)

Menjawab Pertanyaan Rekan Kuliah juga: Arti Hakiki Kaffah dalam Surat Al-Baqarah Ayat 208

Terkait dengan pertanyaan dari rekan kuliah saya, melalui pesan WhatsApp kemarin: "QS. Al-Baqarah: 208 pada dasarnya berbicara tentang komitmen total terhadap ajaran Allah. Mayoritas mufasir memaknai 'al-silm' sebagai Islam, sementara sebagian juga mengakui dimensi makna perdamaian dan penyerahan diri. Iya kah Mas Al?"
Maka jawaban saya: Betul secara bahasa,, tetapi mari kita bedah makna ideologisnya secara tajam agar tidak terjebak pada narasi sekuler!
Memang benar, mayoritas mufasir otoritatif—mulai dari Sahabat Ibnu Abbas, Imam Mujahid, Qatadah, hingga Imam Ibnu Katsir—menegaskan bahwa kata “Al-Silm” di dalam ayat tersebut bermakna ad-Dien, yaitu Islam. Kalimat “Udkhulu fis-silmi kaffah” memiliki asbabun nuzul yang sangat spesifik, yaitu teguran kepada Abdullah bin Salam dan sekelompok pendeta Yahudi yang setelah masuk Islam, mereka masih ingin mempertahankan tradisi mengagungkan hari Sabtu dan enggan memakan daging unta karena masih terikat hukum Taurat lama. Allah ﷻ menurunkan ayat ini untuk menegaskan: tidak boleh ada sinkretisme! Islam wajib diambil secara totalitas, mutlak, tanpa sisa!
Gusti Allah Swt berfirman dengan kalimat perintah yang tegas:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا ادْخُلُوْا فِى السِّلْمِ كَاۤفَّةًۖ وَّلَا تَتَّبِعُوْا خُطُوٰتِ الشَّيْطٰنِۗ اِنَّهٗ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِيْنٌ
Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan. Sungguh, ia musuh yang nyata bagimu. (TQS Al-Baqarah: 208)

Bahaya Narasi Pembajakan Makna Ayat Oleh Jargon "Perdamaian" Sekuler

Kita harus kritis melihat mengapa hari ini ada sebagian akademisi atau mufasir modern bentukan Barat yang mencoba menggeser makna Al-Silm sekadar diartikan sebagai "perdamaian" atau "penyerahan diri" yang pasif. Ini adalah bentuk infiltrasi pemikiran sekuler liberal! Narasi "perdamaian" ini sengaja ditiupkan untuk menjinakkan sikap kritis umat Islam. Umat digiring agar mengartikan ayat ini sebatas: "Yang penting kita hidup damai, toleransi terhadap kemaksiatan, rida dipimpin hukum demokrasi, dan jangan ribut menuntut syariat Islam kaffah." Ini adalah pembajakan makna ayat yang sangat keji!
Makna penyerahan diri yang hakiki di dalam Islam adalah penyerahan totalitas kepatuhan hukum kepada Allah ﷻ. Jika ayat ini berbicara tentang komitmen total, maka komitmen tersebut tidak boleh dipenjara hanya pada urusan spiritual individu, akhlak, dan ibadah ritual di dalam masjid saja. Komitmen total terhadap ajaran Allah ﷻ berarti wajib memasukkan hukum Islam ke dalam gedung parlemen, mengatur sistem ekonomi tanpa riba, mengatur pergaulan sosial tanpa ikhtilath, serta mengatur siyasah politik negara agar tunduk pada Al-Qur'an dan As-Sunnah!
Jika aturan negara masih memakai sistem hukum sekuler, maka komitmen total itu bohong besar! Mengambil Islam hanya untuk urusan akhirat dan menyerahkan urusan dunia kepada hukum sekuler buatan manusia adalah tindakan mengikuti langkah-langkah setan (khuthuwatis syaithan) yang nyata.

Penutup

Kesimpulannya, segala bentuk kebodohan, kemerosotan moral, dan kesempitan hidup (ma'isyatan dhanka) yang kita rasakan dinten niki di Indonesia adalah bukti konkrit dari akibat dicampakkannya syariat Islam secara institusional. Umat tidak akan pernah bisa bangkit jika panggung dakwahnya masih dikuasai oleh orang-orang berpemikiran dangkal yang alergi bicara politik Islam. Jangan mau lagi ditipu oleh klaim kesalehan palsu kaum "paling sunnah" yang nyatanya rido dipimpin oleh hukum thaghut. Mari kita buka kotak berpikir umat, naikkan taraf pemikiran mereka menjadi cemerlang (mustanir), dan rapatkan barisan dalam saf perjuangan dakwah ideologis ini untuk mengembalikan tegaknya hukum Allah ﷻ secara kaffah di muka bumi.
Wallahu a'lam bishowab. []

Informasi Penerbitan:
Buletin Dakwah Kaffah — Edisi Senin Legi, 28 Muharram 1448 H / 13 Juli 2026 M
Dirangkum oleh: Aldy al-Jawi (mas AL) — Syabab Ciamis
Diselaraskan berdasarkan Ketetapan Resmi Kalender Islam Global Tunggal


Posting Komentar untuk "KEBODOHAN, KEMEROSOTAN, KEMUNDURAN YANG MENIMPA UMAT SAAT INI ADALAH CERMINAN DARI TIDAK DITERAPKANNYA HUKUM ALLAH‼️‼️‼️"