Di tengah derasnya arus sekularisme dan liberalisme yang menenggelamkan nilai-nilai Islam, kita menyaksikan satu fenomena yang amat disayangkan: santri—yang sejatinya pewaris perjuangan para ulama—justru banyak yang kehilangan arah perjuangan. Banyak pesantren hari ini sibuk dengan ritual simbolik seperti “ngalap barokah”, “haul wali”, dan “ziarah kubur”, namun minim kesadaran politik Islam (siyasah syar’iyyah) dan perjuangan penegakan syariat Islam secara kaffah di seluruh aspek kehidupan.
Padahal, Islam bukan hanya ritual ibadah. Islam adalah sistem hidup sempurna, yang mengatur seluruh aspek—politik, ekonomi, sosial, pendidikan, hukum, hingga tata negara. Allah Ta’ala berfirman:
> يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ
“Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhan (kaffah), dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya ia musuh yang nyata bagimu.”
(QS. Al-Baqarah [2]: 208)
Ayat ini adalah panggilan agung untuk seluruh umat Islam—termasuk para santri, agar tidak mengambil Islam hanya sebagian (seperti ibadah dan akhlak saja), tetapi juga menerapkan seluruh hukum Allah dalam kehidupan, termasuk hukum pemerintahan dan perundang-undangan.
---
🧕 Dulu Santri Adalah Pejuang Tegaknya Syariat
Mari kita ingat kembali sejarah emas santri. Di masa penjajahan, para ulama dan santri bukan hanya pandai mengaji, tapi juga berdiri di barisan terdepan menentang penjajahan kafir Barat. KH. Hasyim Asy’ari, KH. Ahmad Dahlan, KH. Mas Mansur, dan tokoh-tokoh Islam lain sama-sama ingin membangun masyarakat yang diatur oleh hukum Allah.
Bahkan, di awal berdirinya Nahdlatul Ulama (NU) 1926, sikap politik para kiai begitu tegas menolak sekularisme dan menolak memisahkan agama dari kehidupan. Mereka sadar bahwa Islam harus menjadi dasar dalam bernegara dan bermasyarakat.
Namun sayangnya, seiring waktu, arus politik nasionalisme-sekuler berhasil melemahkan pandangan Islam kaffah di kalangan umat. Banyak lembaga pesantren yang dulunya menjadi basis perjuangan Islam, kini justru nyaman dengan sistem demokrasi buatan manusia—padahal demokrasi adalah produk Barat yang menjadikan rakyat sebagai pembuat hukum, bukan Allah!
---
⚖️ Hukum Allah Itu Wajib Ditegakkan, Bukan Ditinggalkan!
Allah berfirman dengan sangat tegas:
> وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَا أَنزَلَ اللَّهُ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ
“Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itulah orang-orang kafir.”
(QS. Al-Ma’idah [5]: 44)
> وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَا أَنزَلَ اللَّهُ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ
“Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itulah orang-orang zalim.”
(QS. Al-Ma’idah [5]: 45)
> وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَا أَنزَلَ اللَّهُ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ
“Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itulah orang-orang fasik.”
(QS. Al-Ma’idah [5]: 47)
Apakah santri hari ini tidak membaca ayat-ayat ini? Apakah kita rela negeri yang mayoritas Muslim ini tidak berhukum dengan syariat Allah, tetapi justru dengan hukum buatan manusia yang berubah-ubah sesuai hawa nafsu politikus?
---
🧠 Santri Sejati Itu Bukan Cuma Bisa Kitab, Tapi Juga Paham Perjuangan!
Santri sejati bukan hanya pandai membaca kitab kuning, tapi juga memahami makna jihad dan tanggung jawab menegakkan agama Allah di muka bumi. Rasulullah ﷺ bersabda:
> مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ، وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ
“Barangsiapa di antara kalian melihat kemungkaran, hendaklah ia mengubah dengan tangannya; jika tidak mampu maka dengan lisannya; jika tidak mampu maka dengan hatinya, dan itulah selemah-lemahnya iman.”
(HR. Muslim no. 49)
Apakah membiarkan hukum Allah tidak ditegakkan bukan termasuk kemungkaran besar?
Apakah membiarkan sistem sekuler yang menjauhkan umat dari syariat bukan dosa besar?
Maka tugas santri bukan hanya membaca kitab, tapi menghidupkan kembali semangat perjuangan menegakkan Islam secara kaffah. Karena Islam itu bukan sekadar di mushalla, bukan sekedar di pondok, tapi juga harus mengatur pasar, pemerintahan, dan seluruh aspek kehidupan manusia.
---
😔 Realita Pahit: Ketika Santri Kehilangan Jati Diri
Kini, banyak santri setelah keluar dari pesantren justru kehilangan identitasnya.
Kitab kuning hanya jadi pajangan, pakaian pun tak lagi mencerminkan kesalehan. Bahkan sebagian bangga tampil modern dengan pakaian ketat, musik hedonis, dan ikut gaya hidup liberal. Na’udzubillah.
Padahal seharusnya, santri adalah benteng terakhir moral umat.
Jika santri saja sudah hanyut dalam budaya sekuler, siapa lagi yang akan berdiri membela syariat Allah?
---
🌅 Saatnya Santri Kembali ke Jatidiri Perjuangan
Mari kembalikan jati diri santri sebagai pejuang agama, bukan sekadar penjaga tradisi.
Santri harus menjadi pelopor perubahan—membimbing masyarakat agar paham bahwa Islam adalah solusi total untuk semua persoalan kehidupan.
Santri harus berani menyeru, bahwa tidak ada kemuliaan bagi umat ini kecuali dengan syariat Allah.
Sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ:
> إِذَا تَبَايَعْتُمْ بِالْعِينَةِ، وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ، وَرَضِيتُمْ بِالزَّرْعِ، وَتَرَكْتُمُ الْجِهَادَ، سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ ذُلًّا، لَا يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوا إِلَى دِينِكُمْ
“Apabila kalian berjual beli dengan cara riba (’inah), sibuk dengan ternak dan pertanian, dan meninggalkan jihad, maka Allah akan menimpakan kehinaan atas kalian, dan tidak akan mencabutnya sampai kalian kembali kepada agama kalian.”
(HR. Abu Dawud no. 3462, Ahmad no. 4825)
Perhatikan kalimat akhirnya: “...sampai kalian kembali kepada agama kalian.”
Artinya, kemuliaan umat Islam hanya akan kembali jika kita kembali pada Islam secara kaffah, bukan Islam versi liberal, bukan Islam ritual semata.
---
🌿 HIKMAH & HARAPAN
1. Santri harus sadar peran strategisnya sebagai penerus perjuangan para ulama dalam menegakkan syariat Islam.
2. Pesantren harus kembali menjadi basis pemikiran politik Islam, bukan sekadar tempat mencetak “ustadz seremonial”.
3. Kebangkitan umat Islam dimulai dari kebangkitan santri—karena santrilah yang menguasai ilmu dan memiliki ruh perjuangan.
4. Saatnya santri berkata lantang:
> “Kami siap menjadi garda terdepan dalam penerapan syariat Islam secara kaffah!”
Wallahu a'lam bisshowab....


Posting Komentar untuk "SUDAH SAATNYA SANTRI HARUS JADI GARDA TERDEPAN DALAM PENERAPAN SYARIAT ISLAM SECARA KAFFAH‼️"